Indramayu

Di Antara PSN dan Gelombang Protes, FPWI Ajak Kembali ke Substansi

×

Di Antara PSN dan Gelombang Protes, FPWI Ajak Kembali ke Substansi

Sebarkan artikel ini
file 000000000a8c720bb1feecfabc02d8ca

Faktanews24.com Indramayu – Di tengah geliat pembangunan yang mulai menyentuh pesisir, suara dukungan terhadap Program Strategis Nasional (PSN) revitalisasi tambak ikan nila salin di Indramayu kembali menguat. Program ini tak sekadar proyek, melainkan harapan tentang ekonomi kerakyatan yang bangkit dan kedaulatan pangan yang ditegakkan dari tanah sendiri.

Sekretaris Jenderal Forum Perjuangan Wartawan Indramayu (FPWI), Tomi Susanto, berdiri di barisan yang meyakini bahwa langkah ini adalah bagian dari masa depan daerah. Baginya, revitalisasi tambak bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi tentang membuka ruang hidup baru bagi masyarakat pesisir.

Namun di tengah upaya tersebut, riak lain justru mencuat. Aksi penolakan yang semula menjadi ruang penyampaian aspirasi, berubah arah dan meninggalkan jejak yang tak diharapkan kerusakan fasilitas umum.

Tomi menilai, demokrasi seharusnya berjalan dengan akal sehat dan tanggung jawab.

Aspirasi boleh disuarakan, perbedaan boleh diperjuangkan, tetapi ketika amarah menjelma menjadi perusakan, yang terluka bukan hanya benda, melainkan kepentingan bersama.

“Fasilitas umum itu dibangun dari uang rakyat, untuk rakyat. Ketika dirusak, yang dirugikan bukan pemerintah semata, tapi masyarakat itu sendiri,” ujarnya.

Situasi kian berlapis ketika tuntutan pertanggungjawaban atas kerusakan tersebut disampaikan. Di tengah itu, muncul gerakan pengumpulan koin dari sebagian kelompok masyarakat, sebuah langkah yang di satu sisi terlihat sebagai bentuk tanggung jawab, namun di sisi lain memunculkan tafsir berbeda.

Tomi memandang gerakan tersebut tidak sepenuhnya berdiri di ruang yang netral. Ia menilai ada kecenderungan membentuk opini publik, menggiring simpati, sekaligus menjauh dari esensi tanggung jawab yang seharusnya dijalankan secara jelas dan terukur.

“Energi masyarakat seharusnya diarahkan pada dialog yang membangun, bukan pada langkah-langkah yang berpotensi memecah fokus. Revitalisasi ini membawa dampak besar, dan itu yang perlu dibicarakan secara jernih,” tegasnya.

Di tengah dinamika yang terjadi, harapan tetap menggantung di langit pesisir Indramayu. Revitalisasi tambak nila salin diyakini mampu mengubah wajah kawasan menjadi pusat produksi perikanan modern, tempat di mana ekonomi tumbuh, lapangan kerja terbuka, dan masa depan masyarakat menemukan arah baru.

FPWI pun mengajak semua pihak untuk kembali duduk bersama, meredam riuh yang tak perlu, dan menata ulang langkah dengan kepala dingin. Sebab pada akhirnya, pembangunan bukan hanya tentang siapa yang bersuara paling keras, melainkan siapa yang mampu menjaga arah agar tetap menuju kesejahteraan bersama.

Di antara gelombang perbedaan, Indramayu masih punya kesempatan untuk memilih: terus terpecah oleh kepentingan sesaat, atau melangkah bersama menuju masa depan yang lebih pasti.

Loading

(D Duryanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *