Faktanews24.com – Indramayu – Pembangunan daerah pada akhirnya bukan sekadar deretan angka dalam laporan kinerja pemerintahan. Ukuran paling sederhana justru terlihat ketika perubahan mulai hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, ketika jalan yang sebelumnya gelap menjadi terang, akses desa semakin mudah dilalui, sawah tetap mendapatkan pasokan air saat kemarau, hingga rumah warga yang tidak layak mulai diperbaiki.
Di tengah proses tersebut, berbagai program Pemerintah Kabupaten Indramayu di bawah kepemimpinan Bupati Lucky Hakim dan Wakil Bupati Syaefudin terus diarahkan untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Pembangunan mencakup infrastruktur, pertanian, perumahan, pendidikan, kesehatan hingga perlindungan sosial sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi Indramayu REANG.
Salah satu pembangunan yang paling mudah dilihat masyarakat adalah sektor infrastruktur. Hingga periode pelaporan, perbaikan jalan lingkungan mencapai 20.298 meter, jalan desa 31.200 meter, dan jalan kabupaten 23.160 meter. Sementara normalisasi sungai dan saluran pembuang mencapai 60.170 meter, serta peningkatan jaringan irigasi permukaan mencapai 6.110 meter.
Pemerintah Kabupaten Indramayu juga menargetkan pemasangan 3.199 titik Penerangan Jalan Umum (PJU) hingga Desember 2026. Program tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan rasa aman dan nyaman sekaligus memperkuat konektivitas masyarakat, terutama di wilayah perdesaan.
Di Desa Drunten Kulon, Kecamatan Gabuswetan, manfaat pembangunan tersebut mulai terlihat pada malam hari. Lampu PJU yang menerangi ruas jalan desa bukan hanya mengubah suasana menjadi lebih terang, tetapi juga memberi rasa nyaman bagi warga yang masih harus beraktivitas atau melintas setelah matahari terbenam.
Kuwu Desa Drunten Kulon, Adi Sucipto, menilai pembangunan infrastruktur yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat merupakan langkah penting bagi kemajuan desa.
“Bapak Bupati saat ini telah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Indramayu berupa perbaikan jalan dan adanya lampu penerangan jalan. Ini merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang sangat penting dan manfaatnya dapat langsung dirasakan,” ujar Adi Sucipto. Pada Kamis, 27/8/26
Menurutnya, pembangunan jalan dan penerangan bukan hanya menyangkut fisik infrastruktur, tetapi juga berkaitan dengan aktivitas masyarakat sehari-hari.
“Dengan adanya perbaikan jalan dan penerangan, masyarakat tentu merasa lebih nyaman dalam beraktivitas. Kami berharap pembangunan seperti ini dapat terus dilanjutkan dan menjangkau wilayah-wilayah yang masih membutuhkan,” tambahnya.
Hal serupa dirasakan Robani, warga Desa Drunten Kulon. Menurutnya, keberadaan PJU memberikan manfaat sederhana yang langsung terasa, terutama bagi masyarakat yang melintas pada malam hari.
“Dengan adanya PJU, jalan desa sekarang lebih terang. Kami merasa lebih nyaman ketika melintas malam hari. Mudah-mudahan penerangan seperti ini terus bertambah di titik-titik yang masih membutuhkan.”
Sementara Dedi, warga lainnya, menilai pembangunan infrastruktur memiliki arti penting bagi kelancaran aktivitas masyarakat.
“Kalau infrastruktur dibangun dengan baik, masyarakat yang paling merasakan manfaatnya. Jalan lebih mudah dilalui, aktivitas menjadi lancar, dan lingkungan juga semakin tertata. Kami berharap pembangunan terus dilakukan sesuai kebutuhan masyarakat.”
Namun pembangunan tidak berhenti di jalan. Dari wilayah permukiman, perhatian pemerintah juga mengarah ke hamparan sawah yang menjadi salah satu penopang kehidupan masyarakat Indramayu.
Dengan Lahan Baku Sawah mencapai 124.517 hektare dan LP2B seluas 92.888 hektare, pemerintah menargetkan produksi padi mencapai 1,7 juta ton gabah kering giling (GKG). Untuk menopang target tersebut, berbagai intervensi dilakukan, mulai dari bantuan mesin pompa, normalisasi saluran, pembangunan irigasi perpompaan atau Irpom, jaringan irigasi air tanah hingga pengaturan distribusi air.
Bagi petani, irigasi bukan sekadar bangunan atau saluran air. Ketika musim kemarau tiba dan hujan mulai jarang turun, ketersediaan air menjadi salah satu penentu apakah tanaman dapat bertahan hingga masa panen.
Hal tersebut dirasakan Waryana, warga Kecamatan Gabuswetan. Ia mengatakan bantuan Irpom menjadi penopang bagi kelompok tani, terutama ketika petani menghadapi keterbatasan air pada musim kemarau.
“Bantuan Irpom ini sangat dirasakan manfaatnya oleh kelompok tani. Ketika musim kemarau, kebutuhan air untuk sawah cukup sulit, sehingga adanya bantuan ini bisa menopang pengairan. Kami tentu berterima kasih dan berharap fasilitas seperti ini terus diperhatikan agar petani tidak terlalu kesulitan mendapatkan air.”
Cerita pembangunan juga hadir dari sisi tempat tinggal masyarakat. Carsono, salah seorang penerima program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diterimanya.
“Terima kasih kepada pemerintah atas bantuan BSPS yang diberikan kepada kami. Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga dan membantu memperbaiki kondisi rumah agar menjadi lebih layak dan nyaman untuk ditempati.”
Rangkaian manfaat tersebut berjalan beriringan dengan pembangunan di sektor pendidikan dan perlindungan sosial. Pemerintah mencatat 322 sekolah TK, SD dan SMP mendapatkan program revitalisasi, rehabilitasi maupun pembangunan ruang kelas baru. Sebanyak 310 unit rumah tidak layak huni juga dibangun.
Di sektor perlindungan sosial, sebanyak 1.000 nelayan kecil mendapatkan perlindungan melalui premi asuransi ketenagakerjaan dengan nilai mencapai Rp201 juta.
Sementara di bidang kesehatan, cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tercatat mencapai 99,81 persen, dengan dukungan APBD sekitar Rp233,8 miliar untuk mendaftarkan 541.445 jiwa sebagai peserta PBPU-BP.
Angka-angka tersebut pada akhirnya menemukan maknanya ketika diterjemahkan menjadi pengalaman nyata masyarakat. Jalan yang lebih baik berarti perjalanan menjadi lebih mudah. Lampu yang menyala berarti malam tidak lagi sepenuhnya gelap. Air yang sampai ke sawah berarti petani memiliki harapan untuk mempertahankan tanamannya. Rumah yang diperbaiki berarti sebuah keluarga mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak.
Bagi pemerintah, capaian tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang pembangunan. Bagi masyarakat, manfaatnya justru hadir dalam hal-hal sederhana yang mereka temui setiap hari.
Perjalanan menuju Indramayu REANG tentu masih panjang. Masih ada kebutuhan masyarakat yang harus dijawab, wilayah yang perlu mendapat perhatian, serta pembangunan yang harus terus dikawal agar tepat sasaran dan benar-benar memberikan manfaat.
Namun ketika pembangunan mulai terasa hingga pelosok desa, angka-angka dalam laporan tidak lagi sekadar menjadi statistik.
Ia menjelma menjadi cahaya di jalan, air bagi sawah, rumah yang lebih layak, layanan kesehatan, serta harapan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Dari desa-desa itulah wajah Indramayu perlahan ditata, selangkah demi selangkah, dari pembangunan yang terlihat menuju manfaat yang benar-benar dirasakan.












