Kuliner Bandar Pacitan yang Legendaris, Warung Simbok dengan Cita Rasa Lezat Tak Pernah Pudar

Faktanews24.com – Pacitan, Di tengah hiruk-pikuk kota, namun justru di daerah pedesaan terkadang kita menemukan oase ketenangan dan kehangatan, seperti halnya Warung Simbok yang terletak di Kecamatan Bandar, Desa Bandar, Dusun Krajan.

Di balik nama sederhana itu, tersimpan kisah inspiratif Mbah Supatmi, seorang perempuan tangguh berusia 90 tahun yang lebih akrab disapa Mbah Ubi.

Mbah Ubi adalah pemilik Warung Simbok yang telah berdiri puluhan tahun. Warung ini tak hanya sekadar tempat berjualan, namun juga rumah bagi Mbah Ubi. Dengan tangan dan hati yang penuh kasih, Mbah Ubi menata warungnya dengan sederhana namun penuh makna.

Mbah Ubi pemilik Warung Simbok Legendaris di Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan

“Dulu saya hanya berjualan di rumah, sedikit demi sedikit berkembang,” ujar Mbah Ubi, sambil tersenyum ramah, saat diwawancarai wartawan pada Rabu, 26 Maret 2025.

Dia juga bersyukur dengan adanya warung ini bisa menjadi penopang hidupnya.

“Alhamdulillah, warung ini bisa menopang kebutuhan saya dan keluarga,” tambahnya.

Menu andalan Warung Simbok adalah Garang Asem yaitu makanan tradisional yang dibuat dari olahan ayam yang dimasak menggunakan daun pisang dan didominasi oleh rasa asam dan pedas.

“Garang Asem saya terkenal di sini, rahasia resepnya dari nenek moyang,” kata Mbah Ubi dengan bangga.

Selain Garang Asem, Warung Simbok juga menyajikan Botok Ayam, hidangan tradisional yang dibungkus daun pisang dengan cita rasa gurih dan sedap.

Bu Triyatin yang Tetap Setia Membantu Mbah Ubi Puluhan Tahun jadi karyawan Warung Simbok Legendaris

Selain itu dia juga tak sendirian dalam mengelola warungnya. Ia dibantu oleh Bu Triyatin, seorang perempuan berusia 62 tahun yang telah menjadi karyawan setia Warung Simbok selama puluhan tahun.

“Saya senang bekerja di sini, Mbah Ubi baik dan ramah. Kami sudah seperti keluarga,” ujar Bu Triyatin dengan nada penuh syukur.

Warung Simbok bukan hanya tempat untuk menikmati hidangan lezat, tetapi juga tempat untuk merasakan keramahan dan kehangatan. Mbah Ubi dengan sabar melayani setiap pelanggannya, menanyakan kabar, dan menceritakan kisah-kisah hidupnya.

“Saya senang bisa berinteraksi dengan pelanggan, mereka seperti keluarga bagi saya,” kata mbah Ubi.

Dia juga berharap warungnya tetap bisa berjalan dan terus bisa melayani pelanggan dengan hidangannya.

“Semoga Warung Simbok terus berjalan dan bisa menyertakan pelanggan dengan hidangan lezat dan keramahan yang setia,” imbuhnya.

Warung Simbok menjadi bukti nyata bahwa keramahan, kehangatan, dan cita rasa tradisional bisa menarik hati pelanggan. Mbah Ubi dengan teguh menjaga warisan nenek moyang dan menebarkan kasih sayang melalui hidangan yang ia buat. Semoga Warung Simbok terus berjalan dan menjadi warisan budaya yang tak pernah pudar.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno

Jefri Asmoro Diyatno