Faktanews24.com – Indramayu – Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (KOMPI) menepati komitmennya. Ribuan warga pesisir Pantai Utara (Pantura) menggelar aksi unjuk rasa di Alun-alun Pendopo Indramayu, Kamis (30/4/2026), sebagai bentuk penolakan terhadap rencana revitalisasi tambak.
Aksi yang berlangsung sejak pukul 09.48 WIB itu berjalan tertib dengan pengawalan aparat gabungan dari kepolisian wilayah III Cirebon dan Brimob.
Massa bergerak dari titik kumpul di kawasan Kuliner Cimanuk menuju halaman depan Pendopo Indramayu. Setibanya di lokasi, aksi diawali dengan doa bersama melalui sholawat dan istighosah, sebelum dilanjutkan dengan orasi secara bergantian.
Koordinator Umum KOMPI, Hatta Bintang, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi masyarakat pesisir yang merasa terdampak kebijakan revitalisasi.
“Kami datang secara damai. Harapan kami sederhana, ingin ditemui langsung oleh Bupati untuk menyampaikan suara masyarakat pesisir yang menolak program ini,” ujarnya.
Dalam aksi tersebut, KOMPI juga menyerahkan petisi bertandatangan warga yang dituangkan di atas kain putih. Petisi itu diterima oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP dan Damkar Kabupaten Indramayu, Asep Afandi, sebagai perwakilan pemerintah daerah.
Tak hanya itu, massa juga menyerahkan lima ekor biawak sebagai simbol protes. Penyerahan dilakukan secara langsung kepada pihak pemerintah di lokasi aksi.
Asep Afandi menyatakan bahwa seluruh aspirasi masyarakat akan dicatat dan disampaikan kepada pimpinan daerah.
“Semua tuntutan dari KOMPI kami terima dan akan kami laporkan kepada Bupati untuk ditindaklanjuti,” kata Asep.
Salah satu peserta aksi, Darso (48), petambak asal Desa Karanganyar, Kecamatan Pasekan, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap rencana tersebut. Ia menyebut tambak yang digarapnya merupakan sumber penghidupan keluarga yang telah diwariskan lintas generasi.
Menurutnya, lahan yang kini dikelola telah dirintis sejak masa awal kemerdekaan oleh keluarganya.
“Dari rawa dan hutan dibuka menjadi tambak oleh kakek kami. Ini bukan sekadar lahan, tapi sumber hidup keluarga,” ujarnya.
Darso berharap pemerintah mempertimbangkan aspek keadilan, termasuk kemungkinan pemberian kompensasi yang layak apabila kebijakan tetap dijalankan.
Ia juga menyayangkan tidak hadirnya Bupati Indramayu dalam aksi tersebut, yang dinilai penting untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat.
Simbol Biawak dalam Aksi
Penyerahan biawak oleh massa KOMPI tidak lepas dari makna simbolik. Dalam pandangan budaya tertentu, biawak kerap diartikan sebagai simbol kewaspadaan dan kemampuan beradaptasi.
Koordinator aksi menegaskan bahwa simbol tersebut bukan bentuk penghinaan, melainkan pesan moral bagi para pemangku kebijakan.
“Ini bukan simbol negatif. Kami ingin pemimpin memiliki kekuatan dan kepekaan dalam menghadapi persoalan rakyat,” kata Hatta.
Aksi pun berlangsung damai hingga selesai, dengan harapan tuntutan masyarakat pesisir dapat menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
![]()












