Indramayu

Lebih dari Sekadar Tradisi, Mapag Sri Desa Pranti Jadi Napas Kehidupan Warga

×

Lebih dari Sekadar Tradisi, Mapag Sri Desa Pranti Jadi Napas Kehidupan Warga

Sebarkan artikel ini
IMG20260414124029 scaled

Faktanews24.com- Indramayu – Di bawah langit April yang hangat, hamparan padi yang menguning di Desa Pranti seolah berbisik lirih, menuturkan kisah panjang tentang kerja, doa, dan harapan. Pada Selasa, 14 April 2026, masyarakat berkumpul dalam balutan adat yang sarat makna, merayakan Mapag Sri, sebuah tradisi syukuran panen yang bukan sekadar seremoni, melainkan wujud rasa syukur atas limpahan rezeki dari bumi.

Acara ini menjadi panggung harmoni antara budaya dan kehidupan. Di tengah semilir angin sawah, kehadiran Kuwu Desa Pranti, Yogi Nandi Pratama bersama Ibu Kuwu Dian Utami, menegaskan komitmen menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. Mereka berdiri bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai penjaga nilai-mengikat masa lalu dengan masa kini.

IMG20260414130725 scaled

“Kami berkomitmen untuk terus melestarikan adat istiadat yang ada di desa ini. Mapag Sri bukan hanya tradisi, tetapi bagian dari jati diri masyarakat yang harus kita jaga bersama,” ujar Yogi Nandi Pratama.

Gemerlap budaya semakin terasa saat lantunan suara sinden mengalun, menghadirkan nuansa magis yang menyentuh relung hati. Penampilan para sinden seperti Hj. Duniawati, Nunung Alvi, dan Dewi Sintya menghadirkan keindahan yang tak lekang oleh waktu, suara mereka menjelma doa, mengalir bersama irama gamelan yang syahdu.

Puncak acara ditandai dengan pagelaran wayang kulit oleh Dalang Rusmanto, yang membawa kisah-kisah klasik penuh filosofi.

Di balik bayang-bayang wayang, tersimpan pesan kehidupan: tentang perjuangan, kebijaksanaan, dan keseimbangan antara manusia dan alam. Pertunjukan ini bukan hanya hiburan, tetapi juga cermin nilai yang diwariskan turun-temurun.

IMG20260414124153 scaled

Sementara itu, Kaur Perencanaan Desa Pranti, Kartiwan, S.Sos, menyampaikan harapan besar untuk keberlanjutan tradisi ini di masa mendatang.

“Alhamdulillah, hasil panen tahun ini lebih baik dari sebelumnya. Ke depan, kami berharap acara Mapag Sri bisa digelar lebih meriah lagi, dengan partisipasi masyarakat yang semakin luas,” ungkapnya.

Mapag Sri di Desa Pranti bukan sekadar pesta panen. Ia adalah ruang pertemuan antara rasa syukur dan kebersamaan, antara tradisi dan identitas. Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, masyarakat Desa Pranti memilih untuk berhenti sejenak, menghormati tanah yang memberi kehidupan, dan merawat budaya yang memberi makna.

Di sanalah, di antara padi yang merunduk dan doa yang terucap, tersimpan keyakinan sederhana: bahwa selama tradisi dijaga, kehidupan akan tetap seimbang, dan harapan akan selalu menemukan jalannya.

Loading

(D Duryanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *