Faktanews24.com – Indramayu – Di bawah langit yang cerah, Desa Rancamulya, Kecamatan Gabuswetan, menenun syukur dalam balutan tradisi. Mapag Sri kembali digelar, bukan sekadar seremoni, melainkan doa panjang yang dipanjatkan dari ladang-ladang yang telah memberi kehidupan. Minggu (12/4/2026), halaman balai desa menjelma panggung kebudayaan, tempat harapan dan warisan leluhur bertemu.
Warga berdatangan dengan langkah ringan namun sarat makna. Sebagian membawa cerita tentang musim tanam, sebagian lainnya menyimpan harap untuk panen berikutnya. Dalam kebersamaan itu, Mapag Sri menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan alam, sekaligus merawat ingatan kolektif tentang asal-usul keberkahan.
Puncak perhelatan ditandai dengan pagelaran wayang kulit “Langen Rahayu Pusaka Negara”. Di tangan Ki Dalang Anom Ismani, kisah-kisah klasik kembali berdenyut, menyampaikan pesan moral yang relevan dengan kehidupan masa kini. Sementara suara sinden Tia Permata Sari mengalun lirih, berpadu dengan denting gamelan yang mengalir seperti denyut nadi, menjaga ritme suasana yang khidmat sekaligus menghibur.
Kuwu Desa Rancamulya, Waryanto, menegaskan bahwa tradisi ini memiliki makna yang lebih dari sekadar perayaan.
“Mapag Sri ini bukan hanya ungkapan syukur atas panen yang kami terima, tetapi juga cara kami menjaga hubungan dengan alam dan leluhur. Tradisi ini adalah pengingat bahwa kehidupan harus dijalani dengan rasa hormat dan kebersamaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama, terutama dalam menghadapi arus modernisasi.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal, tetapi juga merasakan makna di balik tradisi ini. Wayang bukan hanya tontonan, melainkan cermin kehidupan yang sarat tuntunan,” tambahnya.
Sementara itu, Kaur Perencanaan Desa Rancamulya, Eko Kiswoyo, menyampaikan bahwa sektor pertanian tahun ini menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah, hasil pertanian masyarakat tahun ini relatif meningkat. Ini tentu menjadi salah satu alasan kuat masyarakat menggelar syukuran melalui Mapag Sri sebagai bentuk rasa terima kasih,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa peningkatan tersebut tidak lepas dari kerja keras petani serta dukungan berbagai pihak dalam menjaga produktivitas lahan.
“Harapannya, ke depan hasil pertanian bisa terus meningkat dan kesejahteraan petani semakin baik,” pungkasnya.
Lebih dari sekadar perayaan, Mapag Sri menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Di sana, gotong royong tumbuh, silaturahmi terajut, dan nilai-nilai kehidupan diwariskan secara alami.
Di Rancamulya, wayang tak sekadar dimainkan-ia dihidupkan. Dalam setiap bayang yang menari di panggung, tersimpan doa-doa petani, harapan keluarga, serta keyakinan bahwa selama tradisi dijaga, keberkahan akan selalu menemukan jalannya pulang.
![]()












