Faktanews24com -Blitar -Ketua DPRD Kabupaten Blitar Suwito Saren Satoto melihat para petani kerap dipusingkan mempertahankan produksi panen di tengah kelangkaan pupuk. Bukannya kelangkaan berkurang dan justru berlarut-larut, sehingga perlu ada terobosan bagaimana petani tidak terlalu bergantung pada keberadaan pupuk yang sulit dicari atau mahal bila ada.
Suwito pun menggandeng para ahli pertanian untuk mengajarkan para kelompok tani bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada seperti kotoran ternak dan bahan sisa lain untuk dijadikan pengganti pupuk. Seperti yang dilakukannya dengan menggandeng tim Ngaji Tani mensosialisasikan pengganti pupuk bernama ‘Nutrisi’ kepada gabungan kelompok tani yang berkumpul di Kecamatan/Desa Wonotirto, Dusun Krajan pada Selasa (6/9/2023).
“Kali ini kita bersama-sama membuat pupuk bokashi atau pengganti pupuk berbahan organik supaya kita bisa meringankan biaya pertanian. Karena pupuk subsidi ini sulit dicari dan persyaratannya macam-macam seperti SPPT (surat pajak tanah) yang tidak bisa dipenuhi semua petani di sini. Jika petani bisa membuat pupuk sendiri maka kesulitan pupuk subsidi bisa diatasi secara mandiri,” kata Suwito.
Menurut Suwito, Kabupaten Blitar mempunyai potensi pertanian luar biasa dengan lahannya yang luas seperti di Kecamatan Wonotirto, yang mana memiliki kendala pupuk langka. Positifnya para petani tidak patah semangat untuk terus bertani dan meningkatkan produksi panen supaya tetap maksimal di tengah kesulitan yang ada.
“Para petani punya semangat dan kesadaran bagaimana mereka bisa merdeka dari pupuk kimia. Dan disinilah tugas saya sebagai bagian pemerintah yang duduk di DPRD menghubungkan mereka dengan ahlinya, menyemangati mereka, atau barangkali ada yang ada yang bisa saya bantu seperti mengadakan alatnya seperti drum wadah pupuk,” ujar Suwito yang merupakan Politisi PDI Perjuangan.
Pada kegiatan tersebut Suwito duduk bersama warga yang tanya jawab tentang cara pembuatan pupuk pada ahlinya. Melihat antusias petani, Suwito ingin, ke depan ada peran serta pemerintah yang secara langsung memberi fasilitasi, seperti memberikan bantuan alat-alat pertanian seperti alat semprot pupuk.
“Dalam mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan petani negara harus hadir. Maka itu saya ingin semangat petani dan kesuksesan mereka yang telah berhasil merdeka dari pupuk kimia menggunakan pupuk organik nutrisi ini harus kita tularkan,” ujar Suwito yang kembali maju anggota DPRD Kabupaten Blitar dari Dapil Kecamatan Kademangan, Bakung, Wonotirto, dan Kanigoro dengan nomor urut 1.
Lantas apa itu ‘Nutrisi’ yang dikenalkan ke Petani Wonotirto?
Suwito (hem kotak-kotak) bersama petani Wonotirto membawa nitrobacter yang menjadi bahan utama pembuat Nutrisi.
Dari kegiatan tersebut diketahui Nutrisi merupakan pengganti pupuk yang memanfaatkan kotoran ternak mulai dari sapi, kambing, ayam, serta bahan lain yang leri atau cucian beras, arang batok kelapa atau menggunakan bahan lain dari daun-daunan sekitar. Bahan-bahan itu diolah menggunakan bahan mengandung nitrobacter, sehingga seperti kotoran sapi yang sebelumnya berbau setelah diolah menjadi tidak bau, menjadi bermanfaat sebagai pupuk.
Pembuatan Nutrisi ini pun dikatakan mudah, dan Tim Ngaji Tani siap mengajarkan pembuatannya kepada kelompok tani yang menginginkan resepnya secara gratis. Nanti resep diinginkan akan diberikan sesuai dengan hasil yang diinginkan, contohnya pertanian tebu apakah nanti menginginkan pertumbuhan tinggi atau kecepatan panennya.
Setiap jenis tanaman dan hasil panen yang diinginkan membutuhkan penanganan berbeda dalam hal pembuatan pupuk Nutrisi tersebut. Ada Nutrisi yang bahannya lebih banyak bahan kotoran sapinya, ada juga yang membutuhkan banyak kotoran hewan. Supaya hasil panen bisa maksimal seperti diharapkan, maka Tim Ngaji Tani menggelar diskusi ini supaya bisa memberikan resep pembuatan nutrisi yang cocok bagi petani.
“Nutrisi ini bisa menggantikan pupuk kimia 100 persen. Karena memanfaatkan bahan baku sekitar makan bisa menekan cost produksi, bahkan pembuatannya sangat mudah bahkan orang tidak berpendidikan resmi pertanian bisa. Karena Nutrisi ini sebenarnya dari literatur lama yang diterapkan nenek moyang di masa lampau dengan logika alam asli dan agama, makanya itu ilmunya kita bagikan gratis dan kita getok tularkan, tapi kita minta jangan diperjualbelikan,” tutur Wijayanto dari Tim Ngaji Tani.
Contoh kelompok tani yang telah menggunakan Nutrisi ini adalah petani di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum. Yang produksi pertaniannya bisa melimpah dengan 100 persen menggunakan pupuk alami buatan sendiri dengan Nutrisi ini.
“Sangat signifikan, hasilnya minimal sama dengan yang menggunakan pupuk kimia dari pabrik, bahkan bisa lebih jika tata cara penggunaan pupuk diterapkan dengan betul,” ungkap Wijayanto.
Lebih lanjut salah satu anggota kelompok tani dan juga tokoh masyarakat berkomentar Sementara, salah satu petani asli Dusun Krajan Desa Wonotirto peserta sosialisasi ini Saelan mengaku tertarik menggunakan Nutrisi ini. Lantaran dirinya sendiri mengakui sulit mencari pupuk subsidi yang disamping itu pupuk yang disebutkan subsidi harganya masih tergolong mahal.
“Saya tertarik dari murahnya tadi itu mas, serta hasil panennya lebih bagus tadi. Maka itu saya salut sama orang yang diatas seperti Pak Wito yang peduli petani dengan menggelar diskusi penyuluhan agar petani bisa mendapat ilmu baru,” kata Saelan yang merupakan petani tebu.
Selain tebu, jenis tanaman yang ditanam petani di Kecamatan Wonotirto mayoritas cabai dan jagung. Lalu juga ada banyak peternak sapi, yang mana produksi ternak juga bisa digenjot lebih bagus menggunakan Nutrisi ini.pungkasnya.(yn)
Faktanews24com -Blitar -Ketua DPRD Kabupaten Blitar Suwito Saren Satoto melihat para petani kerap dipusingkan mempertahankan produksi panen di tengah kelangkaan pupuk. Bukannya kelangkaan berkurang dan justru berlarut-larut, sehingga perlu ada terobosan bagaimana petani tidak terlalu bergantung pada keberadaan pupuk yang sulit dicari atau mahal bila ada.
Suwito pun menggandeng para ahli pertanian untuk mengajarkan para kelompok tani bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada seperti kotoran ternak dan bahan sisa lain untuk dijadikan pengganti pupuk. Seperti yang dilakukannya dengan menggandeng tim Ngaji Tani mensosialisasikan pengganti pupuk bernama ‘Nutrisi’ kepada gabungan kelompok tani yang berkumpul di Kecamatan/Desa Wonotirto, Dusun Krajan pada Selasa (6/9/2023).
“Kali ini kita bersama-sama membuat pupuk bokashi atau pengganti pupuk berbahan organik supaya kita bisa meringankan biaya pertanian. Karena pupuk subsidi ini sulit dicari dan persyaratannya macam-macam seperti SPPT (surat pajak tanah) yang tidak bisa dipenuhi semua petani di sini. Jika petani bisa membuat pupuk sendiri maka kesulitan pupuk subsidi bisa diatasi secara mandiri,” kata Suwito.
Menurut Suwito, Kabupaten Blitar mempunyai potensi pertanian luar biasa dengan lahannya yang luas seperti di Kecamatan Wonotirto, yang mana memiliki kendala pupuk langka. Positifnya para petani tidak patah semangat untuk terus bertani dan meningkatkan produksi panen supaya tetap maksimal di tengah kesulitan yang ada.
“Para petani punya semangat dan kesadaran bagaimana mereka bisa merdeka dari pupuk kimia. Dan disinilah tugas saya sebagai bagian pemerintah yang duduk di DPRD menghubungkan mereka dengan ahlinya, menyemangati mereka, atau barangkali ada yang ada yang bisa saya bantu seperti mengadakan alatnya seperti drum wadah pupuk,” ujar Suwito yang merupakan Politisi PDI Perjuangan.
Pada kegiatan tersebut Suwito duduk bersama warga yang tanya jawab tentang cara pembuatan pupuk pada ahlinya. Melihat antusias petani, Suwito ingin, ke depan ada peran serta pemerintah yang secara langsung memberi fasilitasi, seperti memberikan bantuan alat-alat pertanian seperti alat semprot pupuk.
“Dalam mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan petani negara harus hadir. Maka itu saya ingin semangat petani dan kesuksesan mereka yang telah berhasil merdeka dari pupuk kimia menggunakan pupuk organik nutrisi ini harus kita tularkan,” ujar Suwito yang kembali maju anggota DPRD Kabupaten Blitar dari Dapil Kecamatan Kademangan, Bakung, Wonotirto, dan Kanigoro dengan nomor urut 1.
Lantas apa itu ‘Nutrisi’ yang dikenalkan ke Petani Wonotirto?
Suwito (hem kotak-kotak) bersama petani Wonotirto membawa nitrobacter yang menjadi bahan utama pembuat Nutrisi.
Dari kegiatan tersebut diketahui Nutrisi merupakan pengganti pupuk yang memanfaatkan kotoran ternak mulai dari sapi, kambing, ayam, serta bahan lain yang leri atau cucian beras, arang batok kelapa atau menggunakan bahan lain dari daun-daunan sekitar. Bahan-bahan itu diolah menggunakan bahan mengandung nitrobacter, sehingga seperti kotoran sapi yang sebelumnya berbau setelah diolah menjadi tidak bau, menjadi bermanfaat sebagai pupuk.
Pembuatan Nutrisi ini pun dikatakan mudah, dan Tim Ngaji Tani siap mengajarkan pembuatannya kepada kelompok tani yang menginginkan resepnya secara gratis. Nanti resep diinginkan akan diberikan sesuai dengan hasil yang diinginkan, contohnya pertanian tebu apakah nanti menginginkan pertumbuhan tinggi atau kecepatan panennya.
Setiap jenis tanaman dan hasil panen yang diinginkan membutuhkan penanganan berbeda dalam hal pembuatan pupuk Nutrisi tersebut. Ada Nutrisi yang bahannya lebih banyak bahan kotoran sapinya, ada juga yang membutuhkan banyak kotoran hewan. Supaya hasil panen bisa maksimal seperti diharapkan, maka Tim Ngaji Tani menggelar diskusi ini supaya bisa memberikan resep pembuatan nutrisi yang cocok bagi petani.
“Nutrisi ini bisa menggantikan pupuk kimia 100 persen. Karena memanfaatkan bahan baku sekitar makan bisa menekan cost produksi, bahkan pembuatannya sangat mudah bahkan orang tidak berpendidikan resmi pertanian bisa. Karena Nutrisi ini sebenarnya dari literatur lama yang diterapkan nenek moyang di masa lampau dengan logika alam asli dan agama, makanya itu ilmunya kita bagikan gratis dan kita getok tularkan, tapi kita minta jangan diperjualbelikan,” tutur Wijayanto dari Tim Ngaji Tani.
Contoh kelompok tani yang telah menggunakan Nutrisi ini adalah petani di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum. Yang produksi pertaniannya bisa melimpah dengan 100 persen menggunakan pupuk alami buatan sendiri dengan Nutrisi ini.
“Sangat signifikan, hasilnya minimal sama dengan yang menggunakan pupuk kimia dari pabrik, bahkan bisa lebih jika tata cara penggunaan pupuk diterapkan dengan betul,” ungkap Wijayanto.
Lebih lanjut salah satu anggota kelompok tani dan juga tokoh masyarakat berkomentar Sementara, salah satu petani asli Dusun Krajan Desa Wonotirto peserta sosialisasi ini Saelan mengaku tertarik menggunakan Nutrisi ini. Lantaran dirinya sendiri mengakui sulit mencari pupuk subsidi yang disamping itu pupuk yang disebutkan subsidi harganya masih tergolong mahal.
“Saya tertarik dari murahnya tadi itu mas, serta hasil panennya lebih bagus tadi. Maka itu saya salut sama orang yang diatas seperti Pak Wito yang peduli petani dengan menggelar diskusi penyuluhan agar petani bisa mendapat ilmu baru,” kata Saelan yang merupakan petani tebu.
Selain tebu, jenis tanaman yang ditanam petani di Kecamatan Wonotirto mayoritas cabai dan jagung. Lalu juga ada banyak peternak sapi, yang mana produksi ternak juga bisa digenjot lebih bagus menggunakan Nutrisi ini.pungkasnya.(yn)