Berita Nasional

Spot Camping Premium Pantai Srau 3 Pacitan Dinilai Punya Potensi Besar, Persoalan Penerangan dan Kebersihan Jadi Sorotan

×

Spot Camping Premium Pantai Srau 3 Pacitan Dinilai Punya Potensi Besar, Persoalan Penerangan dan Kebersihan Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260809 WA0070

Faktanews24.com – Pacitan, Kawasan Pantai Srau 3, Desa Candi, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata berbasis alam sekaligus ruang rekreasi dan camping yang menarik bagi wisatawan.

Potensi tersebut salah satunya terlihat dari hadirnya Spot Camping Premium yang menawarkan pengalaman menikmati suasana alam pesisir Pantai Srau 3. Konsep camping di kawasan pantai dinilai memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam secara lebih dekat, menghabiskan waktu bersama keluarga, sahabat maupun komunitas.

Namun di balik potensi tersebut, masih terdapat sejumlah persoalan yang dinilai perlu mendapat perhatian bersama. Mulai dari penerangan, komitmen terhadap kebersihan, hingga pengelolaan sejumlah sarana dan prasarana wisata. IMG 20260809 WA0057

Hal tersebut disampaikan Richo Dwi Cahyono, yang lebih dikenal dengan nama Richo Matrais, selaku Founder Yayasan Generasi Pesona Pacitan (YGPP) atau Pacitan Wonderful.

Menurut Richo, pengembangan kawasan wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam.

“Infrastruktur dasar, kebersihan, kreativitas pengelola serta respons terhadap kebutuhan wisatawan juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan,” Ujarnya saat diwawancarai wartawan pada Minggu, 9 Agustus 2026.

Spot Camping Premium yang berada di kawasan Pantai Srau 3, Desa Candi, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, dapat menjadi alternatif bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman bermalam di kawasan pesisir.

IMG 20260809 WA0056

Konsep tersebut dinilai sejalan dengan karakter wisata Pacitan yang memiliki kekayaan alam, terutama pantai. Keberadaan fasilitas camping dapat menjadi bagian dari upaya memperpanjang lama kunjungan wisatawan sehingga aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar destinasi juga berpotensi ikut bergerak.

Bagi wisatawan yang berminat melakukan reservasi, informasi pemesanan dapat diperoleh melalui nomor 0822-5728-1892.

Meski demikian, menurut Richo, pengembangan destinasi wisata harus berjalan beriringan dengan pembenahan berbagai aspek pendukung.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah penerangan.

“Penerangan menjadi kebutuhan penting, terutama bagi kawasan wisata yang menawarkan aktivitas camping atau wisata malam. Kondisi penerangan yang memadai bukan hanya berkaitan dengan kenyamanan wisatawan, tetapi juga menyangkut keamanan serta kemudahan mobilitas pengunjung ketika berada di kawasan wisata setelah matahari terbenam,” Imbuhnya.

Selain penerangan, persoalan kebersihan juga dinilai membutuhkan perhatian lebih serius.

Richo menilai bahwa kawasan wisata alam harus mampu menjaga kebersihan secara berkelanjutan. Tidak hanya ketika terdapat kunjungan wisatawan dalam jumlah besar, tetapi menjadi kebiasaan dan sistem yang dilakukan secara rutin.

IMG 20260809 WA0055

Menurutnya, komitmen terhadap kebersihan tidak bisa hanya dibebankan kepada satu pihak. Pengelola, pedagang, masyarakat sekitar maupun wisatawan memiliki peran masing-masing dalam menjaga kawasan wisata.

” Keberadaan tempat sampah, pengangkutan sampah secara rutin, edukasi kepada pengunjung serta pengawasan terhadap kebersihan kawasan menjadi sejumlah aspek yang dapat diperkuat,” Tegasnya.

Sebab, daya tarik sebuah destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh pemandangan alamnya.

Wisatawan juga akan mempertimbangkan kenyamanan, kebersihan, fasilitas serta pengalaman selama berada di lokasi.

“Kalau destinasi ingin berkembang, kebersihan harus menjadi komitmen bersama,” demikian substansi pandangan yang disampaikan Richo.

Dalam pandangannya, Richo juga menyinggung mengenai pengelolaan kawasan wisata oleh kelompok sadar wisata atau Pokdarwis.

Ia menyebut, berdasarkan pandangan salah seorang pedagang di kawasan Srau yang identitasnya tidak ingin disebutkan, terdapat penilaian bahwa pengelolaan Pokdarwis di kawasan tersebut masih perlu ditingkatkan, terutama dari sisi inovasi dan respons terhadap kondisi sarana prasarana.

Pernyataan tersebut merupakan pendapat dari sumber yang identitasnya tidak disebutkan dan karenanya masih membutuhkan konfirmasi dari pihak pengelola terkait.

Salah satu hal yang disorot adalah kondisi sejumlah sarana prasarana, termasuk gazebo, yang dinilai terkesan kurang terawat.

Menurut Richo, keberadaan fasilitas wisata semestinya tidak berhenti pada pembangunan fisik. Setelah dibangun, fasilitas tersebut membutuhkan perawatan, pemanfaatan dan inovasi agar benar-benar memberikan nilai tambah bagi wisatawan.

“Kalau sarana sudah ada, jangan sampai kemudian tidak dimanfaatkan secara maksimal,” menjadi salah satu gagasan yang disampaikan Richo.

Richo bahkan memberikan sebuah gagasan mengenai pemanfaatan sarana yang dinilai kurang optimal.

Menurutnya, apabila terdapat gazebo atau fasilitas yang selama ini kurang dimanfaatkan, fasilitas tersebut dapat dikembangkan menjadi ruang kreatif atau panggung pertunjukan.

Gagasan tersebut dinilai dapat memberikan fungsi baru sekaligus menciptakan aktivitas tambahan di kawasan wisata.

Panggung pertunjukan dapat digunakan untuk berbagai kegiatan, seperti pertunjukan seni tradisional, musik lokal, pentas komunitas, kegiatan anak muda, pertunjukan budaya hingga agenda promosi pariwisata.

Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pantai atau mendirikan tenda, tetapi juga mendapatkan pengalaman wisata yang lebih beragam.

“Lebih baik itu dikelola dengan menjadi panggung pertunjukan daripada mangkrak,” ujar Richo dalam pandangannya.

Menurutnya, konsep tersebut juga berpotensi membuka ruang kolaborasi antara pengelola wisata, seniman lokal, komunitas, pelaku UMKM dan masyarakat.

Lebih jauh, Richo melihat bahwa aktivitas kreatif di kawasan wisata bukan hanya berkaitan dengan hiburan.

Jika dikelola secara profesional, kegiatan pertunjukan dan event juga dapat menjadi sumber pendanaan tambahan.

Pendapatan dari berbagai aktivitas tersebut, menurutnya, dapat diarahkan kembali untuk mendukung kebutuhan pengelolaan kawasan, termasuk persoalan kebersihan dan pemeliharaan sarana prasarana.

Dengan pola tersebut, kawasan wisata diharapkan tidak hanya bergantung pada pemasukan dari tiket atau aktivitas camping.

Model pengelolaan berbasis kegiatan kreatif dapat menciptakan sumber ekonomi baru sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat lokal untuk terlibat.

Misalnya melalui penjualan makanan dan minuman, produk UMKM, jasa penyewaan perlengkapan camping, pertunjukan seni, kegiatan komunitas hingga event wisata.

Richo menilai bahwa tantangan pengembangan destinasi wisata saat ini adalah bagaimana membuat wisatawan memiliki alasan untuk datang dan kembali.

Keindahan alam memang menjadi modal utama. Namun, apabila ingin berkembang menjadi destinasi yang memiliki daya saing, kawasan wisata juga membutuhkan konsep pengalaman.

Wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat untuk berfoto.

Mereka juga mencari pengalaman.

Camping, menikmati matahari terbenam, pertunjukan seni, kuliner lokal, aktivitas komunitas dan suasana malam dapat menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

Karena itu, menurut Richo, pengembangan Spot Camping Premium di Pantai Srau 3 dapat menjadi momentum untuk membangun konsep wisata yang lebih terintegrasi.

Pengembangan kawasan wisata juga tidak dapat dilakukan hanya oleh pengelola.

Diperlukan kolaborasi antara pemerintah desa, kelompok sadar wisata, pelaku usaha, pedagang, masyarakat, komunitas, pelaku seni dan pemerintah daerah.

Masing-masing pihak memiliki peran.

Pengelola dapat memperkuat manajemen dan pelayanan. Pemerintah dapat memberikan dukungan infrastruktur dan pembinaan. Masyarakat dapat menjaga lingkungan sekaligus mengambil manfaat ekonomi. Sementara komunitas kreatif dapat menghadirkan aktivitas baru yang membuat kawasan semakin hidup.

Dalam konteks tersebut, kritik dan masukan dari masyarakat maupun pelaku usaha seharusnya dapat ditempatkan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki pengelolaan destinasi.

Pantai Srau selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan pantai yang memiliki daya tarik alam di Pacitan.

Dengan hadirnya konsep camping, kawasan tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman wisata lebih lengkap.

Namun peluang tersebut harus diikuti dengan pembenahan.

Penerangan perlu diperhatikan. Kebersihan harus menjadi komitmen. Sarana prasarana harus dirawat. Pengelolaan harus semakin inovatif dan responsif. Sementara potensi seni, budaya dan ekonomi kreatif lokal dapat dimanfaatkan untuk menciptakan aktivitas baru.

Richo Dwi Cahyono alias Richo Matrais berharap pengembangan pariwisata Pacitan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas semata.

Menurutnya, fasilitas yang telah tersedia harus dihidupkan melalui kreativitas dan kolaborasi.

Dengan pengelolaan yang lebih inovatif, kawasan Pantai Srau 3 bukan hanya dapat menjadi tempat camping, tetapi juga berpotensi menjadi ruang berkumpulnya wisatawan, masyarakat, pelaku UMKM, seniman dan komunitas.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah destinasi bukan hanya diukur dari banyaknya orang yang datang, tetapi juga dari seberapa besar kawasan tersebut mampu memberikan pengalaman yang baik kepada wisatawan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Spot Camping Premium Pantai Srau 3 menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan ke arah tersebut.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *