Indramayu

Mengawali Langkah dengan Syahadat, Hajat Rasul Nazriel Rafassya Sarat Makna Sebelum Prosesi Khitan

×

Mengawali Langkah dengan Syahadat, Hajat Rasul Nazriel Rafassya Sarat Makna Sebelum Prosesi Khitan

Sebarkan artikel ini
file 000000002e6c71fab594b8133a989525

Faktanews24.com – Indramayu – Di balik senyum polos yang menghiasi wajah Ananda Nazriel Rafassya, tersimpan sebuah langkah awal menuju fase baru dalam perjalanan hidupnya. Putra pertama pasangan Muhammad Riyanto dan Nur Suci itu menjalani prosesi sakral Hajat Rasul pada Senin (6/7/2026) malam di Desa Druntenkulon, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu. Prosesi tersebut menjadi ikhtiar spiritual yang mengawali perjalanan Nazriel sebelum menjalani khitan yang dijadwalkan pada Selasa (7/7/2026).

Malam yang diselimuti nuansa khidmat itu menjadi saksi lestarinya sebuah tradisi yang telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat. Lantunan ayat suci Al-Qur’an, gema salawat, dan doa-doa yang dipanjatkan mengiringi setiap rangkaian acara, menciptakan suasana penuh haru sekaligus rasa syukur.

Dengan penuh kesungguhan, Nazriel dibimbing mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai peneguhan akidah sebelum menjalani prosesi khitan. Di hadapan keluarga, kerabat, tokoh agama, dan masyarakat yang hadir, ia juga menerima nasihat keagamaan sebagai bekal menapaki kehidupan menuju pribadi yang lebih dewasa, beriman, dan berakhlak mulia.IMG 20260706 WA0032

Rangkaian acara dipandu oleh Anton selaku pembawa acara yang mengarahkan setiap prosesi dengan tertib dan khidmat. Sementara itu, prosesi inti Hajat Rasul dipimpin oleh Lebe Rasito yang tampil dengan gaya khasnya. Di sela-sela acara, ia menyampaikan pantun-pantun bernuansa religius yang disambut senyum para hadirin, kemudian melantunkan salawat yang menggema, menghadirkan suasana syahdu sekaligus mempererat kebersamaan di tengah masyarakat.

Sebagai wakil tuan rumah sekaligus kakek Nazriel, Dauri Duryanto, C.JB menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara tersebut. Ia berharap prosesi Hajat Rasul menjadi awal yang baik bagi perjalanan hidup cucunya.

“Alhamdulillah, kami sekeluarga bersyukur kepada Allah SWT atas terselenggaranya Hajat Rasul ini. Kami memohon doa dari seluruh keluarga, sahabat, dan masyarakat agar Ananda Nazriel Rafassya diberikan kesehatan, kelancaran dalam menjalani khitan, tumbuh menjadi anak yang saleh, berbakti kepada kedua orang tua, bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat, serta senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT,” ujar Dauri.

Menjelang berakhirnya rangkaian kegiatan, Ustad M. Ikror memimpin doa penutup. Dengan penuh kekhusyukan, seluruh hadirin menengadahkan tangan, memohon keberkahan, keselamatan, dan masa depan terbaik bagi Nazriel. Suasana hening yang dipenuhi lantunan doa menjadi penutup yang menghangatkan hati setiap tamu yang hadir.

Bagi masyarakat Desa Druntenkulon, Hajat Rasul bukan sekadar tradisi yang mengiringi prosesi khitan. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi warisan budaya yang merekatkan nilai-nilai keislaman dengan kehidupan sosial masyarakat. Melalui prosesi tersebut, generasi muda diperkenalkan pada pentingnya akidah, adab, dan tanggung jawab sebagai seorang muslim sejak usia dini.

Kemeriahan malam itu tidak berhenti setelah prosesi Hajat Rasul usai. Suasana semakin semarak ketika kesenian tradisional Buta Galak tampil menghibur masyarakat. Iringan musik tradisional, atraksi yang enerjik, serta antusiasme penonton yang memadati lokasi acara menjadikan pertunjukan tersebut sebagai penutup yang mengesankan. Anak-anak hingga orang dewasa larut menikmati setiap penampilan, menambah hangatnya kebersamaan dalam balutan tradisi dan budaya lokal.

Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan mengikis berbagai tradisi daerah, Hajat Rasul tetap bertahan sebagai simbol kearifan masyarakat Druntenkulon. Lebih dari sekadar ritual menjelang khitan, tradisi ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah penting dalam kehidupan hendaknya diawali dengan doa, penguatan iman, serta harapan akan keberkahan dari Allah SWT. Tradisi yang terus dijaga ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya dan ajaran agama dapat berjalan beriringan, menguatkan jati diri masyarakat dari generasi ke generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *