Faktanews24.com – Pacitan, Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram kembali dikeluhkan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Pacitan menjelang pertengahan bulan suci Ramadan. Kondisi ini dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat desa, salah satunya di Dusun Mando, Desa Gembuk, Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan yang mengaku kesulitan mendapatkan gas melon dalam beberapa hari terakhir.
Salah satu warga, Ayyu Shofi M, S.Pd, mengungkapkan bahwa secara sosiologis masyarakat di wilayahnya sebenarnya masih mempertahankan kearifan lokal dengan menggunakan kayu bakar untuk kebutuhan domestik skala besar. Namun, dalam situasi tertentu seperti bulan Ramadan, penggunaan LPG menjadi kebutuhan yang tidak tergantikan.
“Secara sosiologis, warga di Dusun Mando Desa Gembuk memang masih menjaga kearifan lokal dengan memanfaatkan kayu bakar. Tapi di momentum Ramadan seperti sekarang, LPG 3 kg sudah menjadi kebutuhan vital yang tidak bisa ditunda,” ujarnya kepada wartawan Selasa, 17 Maret 2026.
Menurutnya, ketergantungan terhadap LPG terutama dirasakan oleh ibu rumah tangga yang harus menyiapkan makanan sahur dalam waktu terbatas. Penggunaan kayu bakar dinilai tidak efektif karena membutuhkan waktu lebih lama dalam proses memasak.
“Ibu rumah tangga sangat bergantung pada kecepatan gas untuk menyiapkan santap sahur secara tepat waktu. Tidak mungkin mengandalkan kayu bakar di saat waktu sahur sangat terbatas,” imbuhnya.
Lebih jauh, Ayyu menjelaskan bahwa kelangkaan gas elpiji saat ini bukan sekadar persoalan teknis distribusi, melainkan telah berdampak langsung pada aktivitas ibadah masyarakat. Ketidakpastian stok membuat warga harus bekerja ekstra keras, terutama pada waktu-waktu krusial menjelang sahur.
“Kelangkaan gas melon ini menjadi hambatan nyata bagi kekhusyukan ibadah warga. Ketidakpastian stok memaksa para ibu bekerja lebih keras, dan ini berdampak pada manajemen waktu ibadah dan produktivitas harian selama Ramadan,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti fenomena kosongnya stok di tingkat warung dan pengecer. Menurutnya, kondisi tersebut mengindikasikan adanya persoalan dalam rantai distribusi dari agen ke pangkalan yang perlu segera ditelusuri.
“Kalau stok di warung kosong, artinya alur dari agen ke pangkalan memang sedang ada kendala. Ini harus kita telusuri bersama agar dapur warga tetap bisa mengepul, terutama di jam-jam krusial sahur,” tegasnya.
Dalam pandangannya, kemajuan suatu daerah seharusnya diukur dari kemudahan akses terhadap kebutuhan primer masyarakat. Ia menilai, masyarakat tidak seharusnya dibebani dengan persoalan teknis distribusi energi subsidi yang seharusnya berjalan lancar.
“Kita ingin masyarakat lebih maju dan efektif dalam mengelola waktu, apalagi untuk mengejar kemuliaan di bulan Ramadan. Jangan sampai energi warga habis hanya untuk urusan teknis menyalakan tungku,” katanya.
Ayyu juga mengingatkan bahwa apabila kelangkaan terjadi hingga di tingkat agen, maka hal tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam jalur distribusi yang membutuhkan penanganan cepat dari pihak berwenang.
“Jika agen pun kosong, ini menunjukkan ada masalah serius yang butuh solusi segera, bukan sekadar meminta warga kembali ke cara lama,” tambahnya.
Di tengah kelangkaan tersebut, masyarakat berharap agar harga gas elpiji 3 kg tetap terkendali sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Stabilitas harga dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat kecil.
“Warga ingin agar harga tetap sesuai HET, supaya daya beli masyarakat di tingkat bawah tetap terjaga dan stabil,” ungkapnya.
Sebagai langkah konkret, Ayyu menawarkan sejumlah solusi yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pacitan guna mengatasi persoalan ini.
Pertama, pemerintah diminta untuk mengoptimalkan pengawasan pasar dengan memperketat koordinasi bersama Satgas Pangan dan dinas terkait. Hal ini penting untuk memastikan tidak ada hambatan dalam jalur distribusi yang berujung pada kelangkaan maupun kenaikan harga yang tidak wajar.
Kedua, perlunya dilakukan operasi pasar secara berkala di wilayah yang kerap mengalami kelangkaan. Langkah ini diharapkan dapat membantu menstabilkan ketersediaan barang sekaligus menjaga psikologi pasar agar tidak terjadi kepanikan di tengah masyarakat.
“Operasi pasar dan sidak berkala sangat penting agar distribusi tetap terjaga dan masyarakat tidak panik,” jelasnya.
Kelangkaan gas elpiji 3 kg yang terjadi di Pacitan menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah strategis. Mengingat gas subsidi tersebut merupakan kebutuhan vital masyarakat, terutama bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Apalagi di bulan Ramadan, kebutuhan energi untuk memasak meningkat signifikan, khususnya pada waktu sahur dan berbuka. Tanpa penanganan yang cepat dan tepat, kondisi ini dikhawatirkan akan terus mengganggu aktivitas masyarakat serta menurunkan kualitas ibadah di bulan yang penuh berkah ini.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno
![]()












