Info Aceh

Hari Damai Aceh ke-21, PYM Sultan Malik Samudera Pasai As Syarif Teuku Haji Badruddin Syah ZFA Serukan Tatanan Adat Aceh Jadi Penjaga Perdamaian

×

Hari Damai Aceh ke-21, PYM Sultan Malik Samudera Pasai As Syarif Teuku Haji Badruddin Syah ZFA Serukan Tatanan Adat Aceh Jadi Penjaga Perdamaian

Sebarkan artikel ini
IMG 20260815 234116 754

FaktaNews24.com, BANDA ACEH – Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 pada 15 Agustus 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat Aceh . PYM Sultan Malik Samudera Pasai , bersama jajaran Mentroe Besar Pasai, Dr Harry TA Jalil, menghadiri undangan Gubernur Aceh dalam peringatan perdamaian Aceh yang menandai 21 tahun perjalanan damai pasca-MoU Helsinki 15 Agustus 20025-15 Agustus 2026.

Kehadiran PYM Sultan Malik Samudera Pasai menjadi simbol kuat persatuan dan eksistensi adat Aceh dalam menjaga perdamaian Aceh.

Dalam kesempatan tersebut, PYM Sultan Malik Samudera Pasai menyerukan kepada seluruh masyarakat Aceh agar menjadikan semangat MoU Helsinki sebagai pijakan untuk membangun Aceh yang bermartabat, adil dan penuh harapan.

“Damai ini bukan hadiah. Damai ini hasil perjuangan panjang . Tugas kita sekarang adalah mengisinya dengan kerja, gotong royong dan menjaga adat. Selama adat Aceh berdiri tegak, maka Aceh akan tetap damai,” tegas PYM Sultan Malik Samudera Pasai.

Perdamaian Harus Diisi dengan Kerja

Menurut PYM Sultan , perjalanan Aceh telah melalui berbagai fase sulit, mulai dari konflik berkepanjangan hingga bencana tsunami 26 Desember 2004 yang kemudian menjadi salah satu momentum penting menuju lahirnya perdamaian.

Kini, semangat persatuan kembali diuji setelah Aceh menghadapi bencana alam pada 26 November 2025.

Karena itu, perdamaian tidak boleh berhenti sebagai peringatan seremonial. Perdamaian harus diwujudkan melalui kerja nyata, pemulihan ekonomi dan kebersamaan masyarakat.

Mentroe Besar Pasai , yang turut mendampingi PYM Sultan Malik Samudera Pasai, menegaskan pentingnya menjaga suasana damai untuk mempercepat proses pemulihan Aceh. Kerusuhan di Masjid Raya Baiturahman bukanlah contoh yg baik dilihat dari sudut manapun karena merupakah tempat Ibadah kepada Allah SWT.

“Aceh hari ini harus tetap menjaga perdamaian demi mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujar Dr Harry TA Jalil.

Lembaga Kesultanan Samudera Pasai dan Pemerintah Aceh Harus Berjalan Bersama

PYM Sultan Malik Samudera Pasai menegaskan dukungan lembaga Kesultanan terhadap upaya pemerintah Aceh dalam mempercepat rehabilitasi dan pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.

Menurutnya, pemerintah dan lembaga Kesultanan memiliki peran yang saling melengkapi. Pemerintah menjalankan kebijakan dan program pembangunan, sementara lembaga Kesultanan menjadi kekuatan sosial yang menjaga persatuan masyarakat.

“Pemerintah hadir untuk rakyat dan Kesultanan hadir mengawal. Jika keduanya jalan bersama, tidak ada persoalan yang tidak bisa kita selesaikan,” katanya.

Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, lembaga Kesultanan dan masyarakat menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas Aceh sekaligus mempercepat pembangunan di berbagai daerah.

Pesan PYM Sultan Malik Samudera Pasai untuk Generasi Muda Aceh.

PYM Sultan juga menitipkan pesan khusus kepada generasi muda Pasai agar tidak melupakan sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan Indatu Samudera Pasai.

Menurutnya, perdamaian yang dinikmati generasi saat ini merupakan amanah yang harus dijaga dan diteruskan.

PYM Sultan juga mengajak generasi muda untuk melihat Aceh bukan hanya sebagai wilayah yang memiliki sejarah panjang konflik dan bencana, tetapi sebagai daerah yang memiliki potensi besar untuk bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi di kawasan.

Aceh Harus Bangkit

PYM Sultan Malik Samudera Pasai menilai Aceh memiliki modal sejarah, sumber daya alam, budaya dan posisi geografis yang strategis. Karena itu, momentum perdamaian harus menjadi titik balik untuk membawa Aceh menuju kemajuan.

“Aceh adalah negeri yang tangguh. Dari perjalanan sejarah perlawanan, Aceh telah melahirkan tokoh-tokoh pembaharu dan mampu melewati konflik serta bencana,” ujarnya.

Ia berharap perdamaian yang telah berlangsung selama 21 tahun dapat menjadi fondasi untuk membangun Aceh yang lebih maju dan mandiri.

“Inilah titik baliknya. Aceh harus menjadi pemimpin perdagangan di kawasan Selat Malaka. Kemajuan Aceh harus dibuktikan melalui diplomasi dagang, penguasaan ilmu pengetahuan dan penguatan nilai-nilai Islam,”

Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 akhirnya bukan sekadar mengenang berakhirnya konflik. Bagi masyarakat Aceh, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa perdamaian harus dirawat melalui adat, persatuan dan kerja nyata untuk masa depan Aceh.

Demikian amanat PYM Sultan Malik Samudera Pasai As Syarif Teuku Haji Badruddin Syah.

Mahlil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *