Berita Nasional

Di Bawah Sayap Garuda Sang Penjaga Beringin Kini Berlabuh, Babak Baru Politik Pacitan Dimulai

×

Di Bawah Sayap Garuda Sang Penjaga Beringin Kini Berlabuh, Babak Baru Politik Pacitan Dimulai

Sebarkan artikel ini
IMG 20260704 WA01391

Faktanews24.com – Pacitan, Politik sering kali bergerak dalam diam. Ia tidak selalu lahir dari panggung-panggung megah atau pidato yang bergemuruh. Terkadang, sejarah justru dimulai dari sebuah tanda tangan sederhana, dari genggaman tangan yang erat, lalu berubah menjadi percakapan yang menggeser arah angin.

Pada Sabtu, 4 Juli 2026, halaman Kantor DPC Partai Gerindra Kabupaten Pacitan menjadi saksi sebuah peristiwa yang banyak diperbincangkan kalangan politik lokal. Effendi Budi Wirawan lebih dikenal masyarakat sebagai Budi Sarang Teknik, tokoh pengusaha sekaligus mantan Ketua DPD Partai Golkar Pacitan selama kurang lebih 17 tahun resmi menyatakan bergabung dengan Partai Gerindra.

Suasana berlangsung hangat. Bendera merah putih dan panji berlambang Garuda berdiri tegak di belakang panggung, seolah menjadi simbol bahwa perjalanan politik seseorang memang tidak pernah berhenti pada satu persinggahan.

Dengan langkah tenang, Budi menandatangani dokumen keanggotaan di hadapan jajaran pengurus DPC Gerindra Kabupaten Pacitan, disaksikan para wakil ketua bidang, struktur partai, dan para pendukung yang selama ini setia mengiringi langkahnya.

Namun, yang menarik bukan sekadar perpindahan politik itu sendiri.

IMG 20260704 WA0127
Effendi Budi Wirawan Atau Sering disapa Budi Sarang Teknik (Sartek)

Yang menjadi perhatian adalah pesan yang dibawanya.

“Saya melihat visi dan misi Partai Gerindra sangat sejalan dengan keinginan saya untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat, memperhatikan UMKM, serta memajukan pembangunan hingga pelosok desa. Saya juga akan memperkuat laju politik Gerindra ke depan. Saya tidak akan masuk struktur partai, tetapi saya akan berada di mana-mana mendampingi Pak Bambang Margono,” ujar Budi dengan nada mantap.

Pernyataan itu menjadi penegas bahwa dirinya memilih menjadi kekuatan di lapangan, bukan sekadar menghuni ruang-ruang struktural.

IMG 20260704 WA01351

Di dunia politik, perpindahan tokoh bukanlah hal baru.

Namun ketika seorang figur yang selama belasan tahun membesarkan “pohon beringin” memilih berteduh di bawah “sayap garuda”, publik tentu membaca lebih dari sekadar perpindahan kartu anggota.

Media sosial dan grup-grup diskusi politik Pacitan pun segera dipenuhi berbagai tafsir.

Ada yang menyebut langkah itu sebagai strategi besar.

Ada pula yang menyebutnya sebagai bentuk keberanian membaca arah zaman.

Salah satu komentar yang ramai diperbincangkan bahkan menggunakan filosofi Jawa yang sederhana namun sarat makna.

“Lempung nempel gunung.”

Kalimat itu kemudian berkembang menjadi diskusi menarik.

gerindra dan golkar di pemilu 2024 vs pemilu 2019

Menurut penuturan dalam percakapan tersebut, “gunung” dimaknai sebagai kekuatan besar yang kokoh, sedangkan “lempung” adalah rakyat kecil yang mencari tempat berpijak agar tetap kuat menghadapi terpaan zaman.

Bagi sebagian masyarakat, filosofi itu bukan sekadar perumpamaan.

Ia menjadi cara membaca realitas politik hari ini.

Percakapan lain bahkan menghadirkan metafora yang tak kalah menarik.

“Garudane gawe sarang beringin.”

Kalimat itu terdengar sederhana, namun mengandung pesan yang dalam.

Seakan menggambarkan bahwa politik bukan lagi soal menumbangkan simbol lama, melainkan merangkul pengalaman, menyatukan kekuatan, lalu membangun rumah baru bersama.

Tidak sedikit yang menilai bergabungnya Budi Sarang Teknik merupakan langkah progresif.

Sebab nama Effendi Budi Wirawan bukan figur asing di Pacitan.

Jejaring sosial, pengalaman organisasi, hingga kedekatannya dengan berbagai kalangan masyarakat menjadikan dirinya salah satu tokoh yang diperhitungkan.

Jajaran pengurus DPC Gerindra Pacitan menyambut kehadiran Budi dengan antusias.

Menurut mereka, pengalaman panjang yang dimiliki mantan Ketua Partai Golkar tersebut menjadi modal besar dalam memperkuat kerja politik partai di tengah masyarakat.

Pengalaman di dunia teknik, pembangunan, hingga pengabdian sosial dinilai mampu memperkaya perspektif Gerindra dalam menyusun langkah-langkah pembangunan daerah.

Para simpatisan yang hadir juga menyampaikan optimisme serupa.

Mereka berharap keahlian Budi tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi, tetapi mampu diterjemahkan menjadi gagasan pembangunan yang menyentuh kebutuhan masyarakat, terutama di sektor infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan desa.

Yang menarik dari pernyataan Budi adalah sikapnya terhadap jabatan.

Ia secara terbuka menegaskan tidak memiliki keinginan masuk dalam struktur kepengurusan.

Sebaliknya, ia memilih berada di tengah masyarakat serta mendampingi Ketua DPC Gerindra Pacitan, Bambang Margono, dalam memperkuat konsolidasi politik hingga tingkat akar rumput.

Pilihan itu memberi kesan bahwa politik baginya bukan semata soal posisi, tetapi ruang pengabdian.

Di tengah berbagai komentar yang bermunculan, satu ungkapan kembali mencuri perhatian.

“Saat Garuda sedang terbang setinggi-tingginya, dengan sorotan matanya yang tajam, tidak ada yang bisa lolos apabila sasaran telah ditentukan.”

Ungkapan tersebut menjadi metafora mengenai optimisme para kader terhadap perjalanan Gerindra ke depan.

Bukan hanya tentang kekuatan politik, tetapi juga tentang keyakinan bahwa setiap langkah harus memiliki arah yang jelas.

Perjalanan politik tidak pernah benar-benar berakhir.

Ia hanya berganti jalan.

Ada yang memilih tetap menjaga rumah lama.

Ada yang memilih membangun rumah baru.

Namun yang paling penting bukanlah di mana seseorang berdiri, melainkan untuk siapa ia bekerja.

Bergabungnya Effendi Budi Wirawan ke Partai Gerindra menjadi salah satu babak baru dalam dinamika politik Pacitan.

Apakah langkah ini akan menjadi titik balik konstelasi politik daerah menjelang tahun-tahun politik berikutnya?

Waktu yang akan menjawab.

Namun satu hal yang sulit dibantah, pada Sabtu itu, ketika sang penjaga beringin melangkah menuju rumah Garuda, Pacitan kembali menunjukkan bahwa politik bukan sekadar perpindahan warna, melainkan tentang membaca arah angin, merawat harapan, dan menyiapkan masa depan.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *