CilacapĀ – Pengumuman mengenai penghentian izin pelayanan persalinan di Praktik Mandiri Bidan (PMB) Bidan Ida Farida yang berlokasi di Jl.Punto, Gumilir, Cilacap Utara, memicu reaksi keras dan keprihatinan dari masyarakat luas, khususnya para mantan pasien. Kabar penutupan tersebut pertama kali diketahui publik melalui unggahan status pada fitur WhatsApp Story milik Bidan Ida Farida secara personal.
Informasi ini seketika mengejutkan para pasien yang selama ini menaruh kepercayaan tinggi terhadap kualitas layanan di fasilitas kesehatan primer tersebut.
Indri Anggita, warga Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, mengaku terkejut dan sangat menyayangkan jika kabar penutupan izin operasional persalinan tersebut benar-benar terjadi.
Berdasarkan pengalaman pribadinya saat melahirkan, seluruh tenaga medis di PMB Bidan Ida Farida memberikan pelayanan yang profesional, ramah, dan memuaskan.
“Saya kaget setelah mengetahui informasi dari status Ibu Farida yang menyebutkan layanan persalinan ditutup. Padahal pelayanannya sangat bagus, ramah, dan tidak mengecewakan. Pengalaman ini saya rasakan sendiri saat bersalin di sana,” ujar Indri saat dikonfirmasi, Minggu (11/10/2026).
Indri menambahkan, buah hatinya yang kini telah menginjak usia 9 bulan dengan berat badan 9 kilogram tumbuh dengan sehat berkat pemantauan berkala di tempat tersebut. Hingga saat ini, ia masih intens berkonsultasi mengenai tumbuh kembang anak melalui saluran telepon, dan selalu direspons dengan baik oleh Bidan Farida.
“Sangat disayangkan jika izin persalinannya ditutup, karena tempat ini sudah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Di Desa Ujungmanik saja, puluhan pasien sudah merasakan sendiri pelayanan di sana dan rata-rata puas, tidak ada yang kecewa. Bahkan besok tanggal 26, saya rencananya mau ke sana lagi untuk jadwal imunisasi anak,” imbuhnya.
Senada dengan hal tersebut, Wisnu Muzaki yang merupakan suami dari Indri, turut mempertanyakan latar belakang di balik keputusan penutupan izin layanan persalinan ini. Ia menilai PMB Bidan Ida Farida sudah menjadi rujukan yang nyaman bagi para calon ibu di wilayah Kawunganten khususnya Ujungmanik.
“Pelayanan bidan di sana sangat responsif, bahkan kami dilayani untuk konsultasi kapan pun saat dibutuhkan. Jika benar ditutup, tentu banyak calon ibu hamil yang akan kecewa. Kami khawatir ada unsur persaingan tidak sehat atau kecemburuan dari pihak lain karena tempat praktik itu selalu ramai berkat pelayanannya yang memuaskan,” ungkap Wisnu.
Berdasarkan penelusuran jurnalistik kepada sejumlah mantan pasien, secara umum masyarakat memberikan testimoni sangat positif. Mayoritas dari mereka menyuarakan penolakan atas penutupan layanan persalinan di fasilitas tersebut.
Sriwahyuni, mantan pasien lainnya, juga menegaskan rasa kepuasannya terhadap dedikasi layanan yang diberikan oleh PMB Bidan Ida Farida. Ia berspekulasi adanya faktor eksternal yang memicu penutupan yang diduga mendadak ini.
“Saya yakin semua pasien tidak setuju jika izin persalinan itu ditutup, termasuk saya. Pelayanannya bagus, memuaskan, dan membuat pasien merasa nyaman. Apa yang jadi alasan, bu Farida orangnya ramah, sabar, pelayanan baik, kecuali tidak baik, dan saya setuju kalau ditutup. Jangan-jangan ada pihak yang merasa iri dan menghendaki agar praktik persalinan di tempat bu Farida ditutup,” ujar Sriwahyuni.
Hingga berita ini diturunkan, penghentian izin layanan persalinan ini terus memicu spekulasi di tengah masyarakat. Dugaan kuat muncul di kalangan publik bahwa keputusan penutupan layanan tidak murni berasal dari internal PMB Bidan Farida, melainkan disinyalir akibat adanya tekanan atau intervensi dari pihak luar yang merasa terganggu oleh tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap praktik mandiri bidan tersebut.












