Jombang,https.// FaktaNews24 com. Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan organisasi, tetapi juga menjadi momentum penting untuk menentukan kembali arah perjalanan jam’iyah terbesar di Indonesia. Di tengah dinamika bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), nama Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, semakin menguat.
Minggu, 30/08/2026.
Gus Kikin menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Namun, ia menegaskan bahwa pencalonan tersebut bukan lahir dari ambisi pribadi, melainkan amanah yang datang dari struktur NU di Jawa Timur.
Menurut Gus Kikin, dirinya dicalonkan PWNU Jawa Timur setelah adanya keputusan organisasi.k Karena itu, pencalonan tersebut lebih ia maknai sebagai bagian dari khidmah dan amanah para kiai serta warga Nahdliyin, bukan sekadar pertarungan merebut posisi kepemimpinan.
“Saya sebetulnya bukan mencalonkan diri, saya dicalonkan oleh PWNU Jawa Timur,” ujar Gus Kikin
Dari Kursi Kekuasaan Menuju Politik Khidmah, Dalam perspektif politik Islam ala pesantren, kepemimpinan tidak semata-mata dimaknai sebagai kekuasaan. Jabatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada umat maupun kepada Allah SWT.
Spirit itulah yang tampak dalam gagasan Gus Kikin. Ia tidak hanya menawarkan pergantian figur di pucuk PBNU, tetapi membawa isu yang menyentuh langsung kehidupan warga Nahdliyin: kemandirian ekonomi umat dan penguatan kembali fondasi ideologis NU.
Jika dipercaya memimpin PBNU, Gus Kikin menyebut penguatan ekonomi warga Nahdliyin sebagai salah satu agenda utamanya.
Ia melihat jumlah warga NU yang sangat besar bukan sekadar angka statistik, melainkan kekuatan sosial sekaligus potensi ekonomi umat yang apabila dikelola secara profesional dapat menjadi fondasi kemandirian warga Nahdliyin.
“Pasarnya NU dengan jumlah warganya yang begitu besar itu sebenarnya akan menjadi pasar ekonomi yang luar biasa kalau ditata,” kata Gus Kikin.
Gagasan tersebut menunjukkan arah politik organisasi yang tidak berhenti pada perebutan posisi struktural, tetapi berusaha menerjemahkan kekuatan demografi Nahdliyin menjadi kekuatan ekonomi umat.
Modernisasi ekonomi dan pemanfaatan teknologi digital juga menjadi bagian dari gagasan tersebut. Gus Kikin menilai ekonomi digital perlu masuk dalam strategi pemberdayaan warga NU agar potensi besar Nahdliyin tidak hanya menjadi pasar, tetapi mampu menjadi pelaku dan pemilik kekuatan ekonomi.
Qanun Asasi, Mengembalikan NU pada Khittah Para Muassis,
Selain ekonomi, Gus Kikin juga menawarkan agenda yang lebih fundamental, yakni menghidupkan kembali Qanun Asasi NU sebagai salah satu pijakan dalam menjalankan organisasi.
Bagi Gus Kikin, Qanun Asasi bukan sekadar dokumen sejarah, tetapi bagian dari warisan pemikiran para muassis NU, termasuk Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Ia menyebut dokumen tersebut telah ditemukan kembali dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Menurutnya, rujukan tersebut penting untuk kembali dihadirkan dalam kehidupan organisasi NU masa kini.
Gagasan ini sekaligus memberi warna politik Islam yang khas pesantren: modern dalam strategi, tetapi tetap berpijak pada warisan keilmuan dan prinsip para pendiri.
Gus Kikin bahkan mengaitkan perjalanan Qanun Asasi dengan perubahan posisi NU ketika memasuki dunia politik praktis pada 1952. Menurutnya, pengalaman sejarah tersebut menjadi pelajaran penting agar NU mampu menjaga karakter dan jati dirinya sebagai organisasi keagamaan.
Muktamar Bukan Sekadar Kontestasi Kekuasaan,
Muktamar ke-35 NU akhirnya menjadi panggung penting bagi para calon Ketua Umum PBNU untuk menawarkan gagasan tentang masa depan organisasi.
Selain Gus Kikin, sejumlah nama lain juga mencuat dalam bursa kepemimpinan PBNU. Karena itu, kontestasi tidak semestinya hanya dibaca sebagai pertarungan antarfigur, tetapi sebagai pertarungan gagasan tentang ke mana NU akan dibawa dalam lima tahun mendatang.
Di sinilah politik Islam NU diuji.
Apakah kontestasi kepemimpinan akan berhenti pada perebutan struktur dan kekuasaan organisasi, atau justru melahirkan kepemimpinan yang mampu menerjemahkan nilai khidmah, amanah, maslahat, kemandirian umat dan persatuan bangsa?
Gagasan Gus Kikin tentang ekonomi Nahdliyin dan Qanun Asasi memberikan salah satu alternatif jawaban.by editor( S z,Sdah)











