Perhitungan Suara Muktamar NU Ke 35 Di Pondok Pesantren Bahrul Umum Tambak Beras Jombang .
JOMBANG,https,// FaktaNews24 com. Proses penetapan Anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam forum Muktamar Nahdlatul Ulama resmi menyelesaikan tahap penghitungan suara.
Data yang dihimpun media ini menyebutkan, dari total 34 ulama dan kiai sepuh yang diusulkaran s Jombangoleh para pengurus wilayah dan cabang dari seluruh Indonesia, sebanyak sembilan kiai sepuh secara resmi terpilih menjadi anggota AHWA setelah mengantongi perolehan suara tertinggi dari total 4.703 suara yang masuk.
Mekanisme AHWA merupakan sistem musyawarah mufakat yang melibatkan para ulama ulama sepuh berintegritas tinggi untuk menentukan kepemimpinan tertinggi di tubuh Nahdlatul Ulama, Ketua Umum dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Berdasarkan rekapitulasi akhir penghitungan suara pada Muktamar ke-35 NU di Jombang, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, KH. Nurul Huda Djazuli, menempati urutan teratas perolehan suara. Kiai ulama sepuh asal Jawa Timur tersebut mengumpulkan sebanyak 485 suara atau setara dengan 10,3 persen dari total keseluruhan suara yang disalurkan oleh muktamirin.
Di posisi kedua, ulama asal Aceh, TGK. KH. Nuruzzahri Yahya (Waled Nu), membuntut rapet dengan raihan 477 suara atau 10,1 persen.
Sementara itu, posisi ketiga ditempati oleh ulama terkemuka asal Sulawesi Selatan, AG. Dr. KH. Baharuddin HS, MA, yang berhasil meraup 392 suara atau setara dengan 8,3 persen.
Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya yang juga bertindak selaku petahana, KH. Miftachul Akhyar, berada di urutan keempat dengan raihan 350 suara atau 7,4 persen.
Disusul kemudian di peringkat kelima oleh ulama pakar fiqih asal Situbondo, KH. Afifuddin Muhajir, yang mengantongi 339 suara atau 7,2 persen.
Peringkat keenam diisi oleh Ketua MUI Jawa Timur, KH. Anwar Iskandar, dengan perolehan 326 suara atau 6,9 persen.
Selanjutnya, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH. Anwar Manshur, menempati urutan ketujuh setelah mengumpulkan 303 suara atau setara dengan 6,4 persen dari total suara masuk.
Dua posisi terakhir yang melengkapi formasi Sembilan Anggota AHWA Terpilih diisi oleh mantan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, yang menempati posisi kedelapan dengan perolehan 273 suara (5,8 persen), serta ulama asal Jawa Barat, Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, di peringkat kesembilan dengan raihan 268 suara atau 5,7 persen.
Kesembilan kiai dan ulama tersebut secara resmi ditetapkan sebagai Anggota AHWA Terpilih yang diberi mandat penuh untuk bermusyawarah menetapkan Rais Aam PBNU periode mendatang.
Proses pemungutan suara AHWA melibatkan akumulasi suara dari enam kelompok atau daerah pemilihan yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan total akhir mencapai 4.703 suara sah.
Dari total 34 nama ulama sepuh yang muncul dalam bursa pengusulan, persaingan ketat terjadi di jajaran sepuluh besar.
KH. Muhammad Wildan Salman hampir menembus posisi sembilan besar setelah menempati urutan ke-10 dengan raihan 250 suara (5,3 persen), diikuti oleh Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, di posisi ke-11 dengan 213 suara (4,5 persen).
Beberapa ulama dan kiai sepuh lainnya yang masuk dalam daftar 34 nama usulan muktamirin antara lain KH. Ali Kholil yang memperoleh 144 suara (3,1 persen), TGH. Ma’arif Ma’mun dengan 138 suara (2,9 persen), Dr. KH. Manarul Hidayat sebesar 134 suara (2,8 persen), serta KH. Munif Zuhri dari Girikusumo dengan 121 suara (2,6 persen).
Selain itu, terdapat nama KH. Abdullah Ubab Maimoen yang meraih 102 suara (2,2 persen), serta ulama kharismatik asal Rembang, KH. Ahmad Musthofa Bisri atau Gus Mus, yang mendapatkan 96 suara (2,0 persen). KH. Ubaidillah Shodaqoh menyusul di posisi berikutnya dengan 70 suara (1,5 persen), KH. Ali Akbar Marbun dengan 61 suara (1,3 persen), dan Wakil Presiden RI Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin yang mengantongi 48 suara (1,0 persen).
Sejumlah nama tokoh nasional dan ulama pesantren lainnya turut mendapatkan dukungan suara dari para muktamirin meskipun dalam persentase di bawah satu persen. Di antaranya adalah Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim dengan 42 suara (0,9 persen), KH. Ahmad Muhtadi Dimyati atau Buya Muhtadi dari Banten dengan 25 suara (0,5 persen), KH. Moch. Chozin Adenan dengan 20 suara (0,4 persen), serta TGH. Turmudzi Badaruddin yang mengumpulkan 11 suara (0,2 persen).
Nama Dirjen Bimas Islam Prof. Dr. KH. Kamaruddin Amin mencatatkan 5 suara (0,1 persen), diikuti Habib Syeikh Abdul Rahim Puang Makka dengan 2 suara.
Sementara itu, beberapa nama ulama lainnya masing-masing mendapatkan dukungan 1 suara (0,0 persen), yaitu Dr. KH. Afepuddin, KH. Nailuzzahri, KH. Zuhri Zaini, KH. Mustafa Bakri Nasution, Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, KH. M. Nuh Ad-Dawami, KH. Hasib Wahab Hasbullah, serta KH. Moh. Mudatsir Badruddin.
Rincian sebaran suara dari enam zona pemungutan menunjukkan bahwa distribusi dukungan mengalir secara proporsional.
Zona pemungutan keempat mencatatkan jumlah suara terbanyak yaitu 936 suara, disusul zona ketiga dengan 855 suara, zona kedua dengan 864 suara, zona kelima dengan 718 suara, zona keenam dengan 688 suara, dan zona pertama menyumbang 642 suara.
Dengan tuntasnya rekapitulasi ini, sembilan anggota AHWA terpilih akan segera menggelar sidang tertutup untuk merumuskan pertimbangan dan menetapkan sosok yang akan memangku amanah sebagai Rais Aam PBNU, sebuah posisi puncak kepemimpinan spiritual dalam organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia tersebut. (*Sz Sdah)
![]()












