Buru,Faktanews24.com// 45 tahun dengan sebutan desa transmigrasi, Desa Debowae, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku justru gagal jadi lumbung pangan. Dari luas sawah 700 hektare yang ada, 500 hektare lebih terbengkalai alias bongkor karena tidak digarap. Penyebabnya ? Warga lebih tergiur jadi penambang emas Ilegal yang lokasinya tidak jauh dari desa. Kamis, 27/08/2026.
Desa Debowae dengan luas 16 km² dan luas sawah 700 ha, yang pada awalnya tahun 1980 transmigrasi dari Jawa datang sejumlah 410 kk. Dari 410 kk, setiap kk mendapat 2 ha lahan yang terdiri dari lahan satu atau sawah 1 ha, lahan 2 atau ladang 0,75 ha, dan pekarangan 0,25 ha. Luas sawah awal 410 ha, ladang 307,5 ha dan pekarangan 102,5 ha, sehingga luas keseluruhan 820 ha.
Namun dengan berjalannya waktu ada tambahan transmigrasi Alokasi Penempatan Penduduk Daerah Transmigrasi ( APPDT ) dan sebahagian ada masyarakat yang membeli lahan dari saudara orang adat sehingga luas desa sudah mencapai 16 km². Saat ini jumlah penduduk Desa Debowae sudah mencapai 745 kk dengan jumlah 2.339 jiwa. Dari jumlah tersebut yang bekerja sebagai petani berjumlah 1.311 jiwa, sehingga petani menempati rangking tertinggi dengan jumlah kelompok tani 35 kelompok.
Luasan sawah 700 ha lebih, didapat dari percetakan sawah tahun 2008 dan tahun 2016 dimana lahan 2 dicetak untuk perluasan sawah. Dari luasan sawah tersebut yang digarap saat ini tidak sampai 200 hektare. Dampaknya, warga desa transmigrasi tahun 1980 ini justru harus membeli beras di Alfamart dan toko – toko.
“Luasan sawah kami 700 hektare lebih. Tapi yang tanam paling ga sampai 200 ha. Sisanya semak, bahkan ada yang sudah jadi semak belukar. Sekarang banyak warga lebih milih ke tambang emas ilegal,” kata salah satu warga Debowae.
Demi Emas, Sawah Ditinggalkan
Menurut warga, pergeseran mata pencaharian jadi penyebab utama. Lokasi penambangan emas ilegal berada tidak jauh dari desa. “Walaupun sekarang tambang sudah sepi, namun karena keadaan sawah sudah jadi belukar, apa lagi ditambah musim kemarau begini, mau nyawah lagi rasanya sudah malas” tambah warga.
Tantangan Program Swasembada Pangan
Kondisi pertanian di desa Debowae menjadi catatan untuk program Swasembada Pangan Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita. Targetnya Indonesia tidak impor beras tahun 2026-2027.
Kementrian Pertanian dibawah Mentri Pertanian Amran Sulaiman saat ini gencar menjalankan program 2025-2026 :
1. Optimasi Lahan dan Cetak Sawah Baru : Target 1 juta hektare lahan tidur dioptimalkan.
2. Pompanisasi dan Perluasan Areal Tanam PAT : Bantuan pompa gratis agar bisa tanam 3 kali setahun.
3. Bantuan Alsintan dan Pupuk Bersubsidi : Traktor, combine, dan pupuk untuk kelompok tani.
4. Asuransi Usaha Tani : Melindungi petani dari gagal panen.
Mentan Arman juga menekankan “memuliakan petani” agar generasi muda tidak meninggalkan sawah.
Kepala Desa Abdullah Umaternate, saat dikonfirmasi awak media melalui sambungan WhatsApp, menjawab : “mari kita berjuang sama – sama untuk mensukseskan Swasembada Pangan Indonesia Ku”, ajaknya.
Harapan Warga
“Kalau bertani hasilnya jelas, ada bantuan irigasi dan alsintan, siapa yang mau nambang dengan resiko tinggi. 500 hektare sawah kami bisa dihidupkan lagi, supaya kami tidak membeli beras di toko lagi. Semoga kita bisa jadi lumbung pangan ya”, pungkasnya.
( Anny )











