Faktanews24.com – Pacitan, Pacitan tidak cukup hanya dikenal karena pantai, goa dan bentang alamnya. Daerah ini kini didorong untuk mengubah kekayaan wisata tersebut menjadi sebuah pengalaman perjalanan yang membuat wisatawan datang, tinggal lebih lama, berbelanja lebih banyak, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Gagasan itu disampaikan Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini saat Workshop bertema Optimalisasi Potensi Pariwisata Daerah sebagai Daya Tarik Tujuan Wisata Perjalanan Insentif (Incentive Trip) di Pantai Ngiroboyo dan Desa Wisata Sendang, Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan, pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Bagi Novita, tantangan Pacitan ke depan bukan semata-mata mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap wisatawan memiliki alasan untuk memperpanjang masa tinggal dan menjadikan Pacitan sebagai bagian dari pengalaman yang ingin diulang.
“Pacitan sudah memiliki pasar dan magnet wisata yang nyata. Tetapi pekerjaan kita bukan sekadar mengejar jumlah pengunjung. Kita harus membuat orang punya alasan untuk datang kembali, tinggal lebih lama, dan membelanjakan lebih banyak uangnya di Pacitan,” ujar Novita.
Politisi PDI Perjuangan tersebut melihat Pacitan sebenarnya memiliki modal yang lengkap untuk masuk ke pasar incentive trip.
Destinasi alam, desa wisata, budaya, kuliner, aktivitas petualangan hingga produk UMKM dapat dirangkai menjadi sebuah perjalanan yang memiliki cerita.
Konsep incentive trip sendiri tidak berhenti pada kunjungan ke satu objek wisata. Rombongan perusahaan, komunitas maupun kelompok wisatawan dapat diberikan rangkaian aktivitas yang menggabungkan rekreasi, kebersamaan, pengalaman lokal dan kegiatan yang membangun kesan.
“Bayangkan sebuah perusahaan membawa tim terbaiknya ke Pacitan. Pagi menikmati pantai, siang melakukan kegiatan kebersamaan, sore menyusuri sungai atau menikmati gua, malam makan bersama dengan sajian UMKM lokal dan pertunjukan budaya,” jelasnya.
Dengan pola tersebut, wisatawan tidak sekadar datang dan pulang. Mereka mendapatkan pengalaman sekaligus berinteraksi langsung dengan kehidupan ekonomi dan budaya masyarakat.
Produk lokal pun dapat menjadi bagian dari perjalanan sehingga wisatawan membawa pulang bukan hanya foto, tetapi juga cerita, cendera mata dan kenangan.
Novita menilai Pacitan telah memiliki basis kunjungan wisatawan yang cukup besar.
Data Dinas Pariwisata yang tercantum dalam Kabupaten Pacitan Dalam Angka menunjukkan kunjungan wisatawan pada 2023 mencapai sekitar 1,3 juta kunjungan. Sementara pada 2024 tercatat sekitar 1,14 juta kunjungan.
Pantai Klayar menjadi salah satu destinasi dengan daya tarik besar, dengan sekitar 215 ribu kunjungan pada 2024.
Namun, tingginya angka tersebut menurut Novita harus dibarengi perubahan orientasi pembangunan pariwisata.
Wisatawan jangan hanya diarahkan untuk mengunjungi satu destinasi. Mereka perlu diberikan alasan untuk menjelajahi destinasi lainnya.
“Semakin lama wisatawan tinggal, semakin banyak pintu ekonomi yang terbuka,” tegasnya.
Karena itu, Pantai Ngiroboyo, Desa Wisata Sendang, kawasan sungai, goa, pantai, kuliner, budaya hingga UMKM dapat dikembangkan menjadi rangkaian perjalanan yang saling terhubung.

Untuk mewujudkan Pacitan sebagai destinasi incentive trip, Novita menawarkan empat agenda penting.
Pertama, membuat paket wisata yang siap dijual.
Paket perjalanan tidak cukup hanya berupa daftar destinasi. Paket harus dirancang secara utuh, mulai dari hotel, transportasi, kuliner, aktivitas, atraksi budaya hingga produk UMKM.
Durasi perjalanan juga dapat dibuat beragam, mulai dari dua hari, tiga hari hingga lebih lama.
Kedua, meningkatkan kualitas pelayanan.
Pelayanan menjadi bagian penting dari pengalaman wisatawan. Pemandu wisata, pengelola destinasi, hotel, rumah makan, transportasi hingga pelaku usaha oleh-oleh merupakan satu kesatuan wajah pariwisata Pacitan.
Ketiga, memperkuat kolaborasi.
Novita mendorong adanya kerja bersama antara pemerintah daerah, Kementerian Pariwisata, DPR RI, industri pariwisata, agen perjalanan, hotel, komunitas, desa wisata, UMKM dan generasi muda.
Menurutnya, ekosistem pariwisata yang kuat hanya dapat dibangun melalui kolaborasi lintas sektor.
Keempat, mengubah cara promosi.
Promosi tidak boleh berhenti pada keindahan visual. Konten harus mampu menceritakan pengalaman.
“Anak-anak muda Pacitan punya kemampuan luar biasa membuat konten. Jangan hanya menjual foto pantai yang cantik. Mari kita jual pengalaman bagaimana rasanya menikmati sunrise, kuliner khas, menyusuri Maron, menikmati Goa Gong hingga merasakan kebersamaan dalam perjalanan yang tidak ditemukan di tempat lain,” katanya.
Bagi Novita, ukuran keberhasilan pariwisata bukan hanya jumlah wisatawan yang tercatat di pintu masuk destinasi.
Lebih jauh, pariwisata harus menciptakan perputaran ekonomi yang nyata di tengah masyarakat.
Ketika wisatawan tinggal lebih lama, maka peluang ekonomi terbuka lebih luas. Hotel mendapatkan manfaat, transportasi bergerak, rumah makan mendapat pelanggan, pemandu memperoleh pekerjaan, UMKM menjual produk, sementara perajin mendapatkan pasar.
“Wisata bukan hanya tentang tempat. Ada bapak yang membuka warung, ibu yang menyiapkan makanan khas, pemuda yang menjadi pemandu, dan pengrajin yang membuat cendera mata,” tuturnya.
Karena itu, pembangunan pariwisata Pacitan juga harus menjaga identitas lokal.
Pacitan tidak harus meniru daerah lain untuk menjadi destinasi unggulan. Justru keaslian alam, budaya dan karakter masyarakat menjadi nilai yang tidak mudah ditemukan di daerah lain.
“Kita tidak perlu minder. Pacitan punya identitas yang kuat. Kita tidak harus menjadi seperti daerah lain. Justru kekuatan kita ada pada keaslian Pacitan,” ujarnya.
Novita mengapresiasi dukungan Kementerian Pariwisata serta komitmen Pemerintah Kabupaten Pacitan dalam mengembangkan sektor pariwisata.
Ia berharap workshop tersebut tidak berhenti menjadi forum bertukar gagasan. Menurutnya, harus ada tindak lanjut dalam bentuk paket wisata baru, kolaborasi konkret serta strategi promosi yang mampu meningkatkan lama tinggal dan belanja wisatawan.
“Saya percaya Pacitan tidak kekurangan potensi. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengemas potensi, konsistensi meningkatkan kualitas, dan kemauan berjalan bersama. Mari kita jadikan Pacitan bukan sekadar tempat yang indah untuk dikunjungi, tetapi tempat yang dirindukan untuk didatangi kembali,” pungkasnya.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno











