DELI SERDANG // FN24
Kawasan Bendungan Lau Simeme di Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, kini mulai menarik perhatian masyarakat setelah terbentuknya hamparan perairan yang dikenal sebagai Danau Lau Simeme. Pemandangan waduk yang dikelilingi perbukitan hijau tersebut menjadi daya tarik baru bagi warga yang ingin menikmati suasana alam di sekitar Medan.
Kemunculan danau buatan ini tidak terlepas dari proses pengisian awal air atau initial impounding Bendungan Lau Simeme yang dimulai pada 17 September 2026. Sebelumnya, proses pengisian yang dijadwalkan pada Agustus sempat ditunda untuk pemeriksaan keselamatan setelah terjadi gempa bumi.
Seiring bertambahnya volume air, kawasan yang sebelumnya merupakan daratan di sekitar aliran sungai mulai berubah menjadi genangan luas. Salah satu kawasan yang terdampak adalah Dusun III Kuala Sabah, Desa Kuala Dekah, Kecamatan Sibiru-biru, yang kini telah terendam akibat pengisian waduk.
Para pengunjung mengaku tertarik datang setelah melihat video kawasan tersebut beredar di Facebook. Mereka menilai panorama danau buatan itu memiliki keindahan tersendiri, terutama karena dikelilingi bentang alam perbukitan.
Meski demikian, perkembangan Danau Lau Simeme sebagai tujuan wisata masih perlu diikuti dengan penataan kawasan, penyediaan fasilitas pendukung, serta pengaturan aktivitas pengunjung agar tidak mengganggu fungsi utama bendungan.
Bendungan Multifungsi Bernilai Triliunan Rupiah
Di balik kemunculan destinasi baru tersebut, Bendungan Lau Simeme merupakan infrastruktur sumber daya air strategis yang dibangun pemerintah untuk mendukung kebutuhan masyarakat Sumatera Utara.
Presiden Joko Widodo meresmikan bendungan tersebut pada 16 Oktober 2024. Pembangunannya dimulai pada 2017–2018 dan menelan anggaran sekitar Rp1,7 triliun, berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam sejumlah pemberitaan dan publikasi terkait proyek tersebut.
Berdasarkan informasi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II Medan, bendungan ini memiliki kapasitas tampung sekitar 25,17 juta meter kubik, luas genangan sekitar 125,87 hektare, tinggi 73,5 meter, serta panjang puncak bendungan 205 meter.
Bendungan Lau Simeme dirancang untuk menjalankan sejumlah fungsi penting, mulai dari pengendalian banjir, penyediaan air baku, dukungan irigasi pertanian, hingga pembangkitan listrik tenaga air skala kecil.
Dalam aspek pengendalian banjir, bendungan ini diharapkan membantu mengurangi risiko banjir di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang melalui sistem pengendalian aliran yang terintegrasi dengan Kanal Deli-Percut.
Kapasitas reduksi banjir yang disebutkan dalam informasi terbaru mencapai 117 meter kubik per detik melalui sistem tersebut. Angka ini merupakan kapasitas reduksi yang direncanakan dalam sistem pengendalian banjir, bukan jaminan bahwa seluruh wilayah hilir akan terbebas dari banjir.
Untuk penyediaan air baku, bendungan ini dirancang mendukung pasokan sekitar 2,85 meter kubik per detik bagi Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Infrastruktur tersebut juga mendukung kebutuhan air untuk Daerah Irigasi Bandar Sidoras seluas sekitar 3.000 hektare serta dirancang untuk pembangkitan listrik sebesar 1 megawatt.
Peluang Wisata dan Ekonomi Masyarakat
Kemunculan Danau Lau Simeme membuka peluang pengembangan kegiatan wisata alam di Kecamatan Sibiru-biru. Apabila dikelola dengan baik, kawasan tersebut berpotensi menjadi pilihan rekreasi bagi masyarakat Medan dan sekitarnya.
Peluang itu juga dapat dimanfaatkan masyarakat setempat melalui pengembangan usaha kuliner, penyediaan jasa, serta penjualan produk lokal. Namun, manfaat ekonomi tersebut memerlukan perencanaan dan keterlibatan masyarakat agar pertumbuhan kunjungan wisata tidak hanya menguntungkan pihak tertentu.
Pada saat yang sama, status kawasan sebagai bagian dari infrastruktur bendungan perlu menjadi perhatian. Pengembangan wisata tidak boleh mengganggu kegiatan operasional, mengancam keselamatan pengunjung, atau merusak lingkungan di sekitar waduk.
Aspek keselamatan menjadi penting karena kawasan tersebut merupakan waduk yang masih menjalani tahapan pengisian dan optimalisasi pemanfaatan. Pengunjung perlu mengikuti ketentuan pengelola, menghindari area terlarang, serta tidak melakukan aktivitas di perairan tanpa izin dan fasilitas keselamatan yang memadai.
Pemerintah dan pengelola bendungan juga perlu memastikan ketersediaan rambu keselamatan, akses yang tertata, serta informasi yang jelas mengenai kawasan yang boleh dikunjungi masyarakat.
Keselamatan dan Dampak terhadap Warga Harus Diperhatikan
Selain menawarkan panorama baru, perubahan bentang alam akibat pengisian waduk juga menimbulkan konsekuensi bagi masyarakat yang tinggal di kawasan terdampak.
Sebelum pengisian dilakukan, Kementerian Pekerjaan Umum menekankan pentingnya penyelesaian jembatan penghubung antardesa agar akses masyarakat tidak terputus ketika permukaan air meningkat.
Dalam peninjauan pada Februari 2026, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur penghubung tersebut diperlukan untuk menjaga akses masyarakat sebelum bendungan terisi penuh.
Karena itu, perkembangan Danau Lau Simeme tidak hanya perlu dilihat dari potensi wisatanya, tetapi juga dari kesiapan infrastruktur pendukung, keberlanjutan akses warga, serta pengelolaan dampak sosial dan lingkungan.
Dengan pengelolaan yang terencana, kawasan ini berpeluang memberikan manfaat ganda bagi masyarakat: mendukung fungsi strategis pengendalian banjir dan penyediaan air sekaligus membuka peluang ekonomi melalui wisata alam.
Tantangannya adalah memastikan bahwa daya tarik Danau Lau Simeme tidak menggeser prioritas utama bendungan sebagai infrastruktur publik yang dibangun untuk kepentingan masyarakat luas.
(tim)











