Berita Nasional

PAN Pacitan Petik Laut: Dari Tengah Samudra, Menyuarakan Kedaulatan Pangan dan Nasib Nelayan

×

PAN Pacitan Petik Laut: Dari Tengah Samudra, Menyuarakan Kedaulatan Pangan dan Nasib Nelayan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260914 WA0105

Faktanews24.com – Pacitan, Laut bukan sekadar hamparan biru yang membentang di hadapan Pacitan. Di dalamnya ada pangan, ekonomi, tradisi, sekaligus kehidupan ribuan masyarakat pesisir.

Pesan itulah yang coba diangkat DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Pacitan dalam memperingati HUT ke-28 PAN melalui tasyakuran bertema “Petik Laut” di kawasan Pantai Pancer Door, Pacitan.

Tidak dimulai dari panggung politik, rangkaian kegiatan justru diawali dari tengah laut. Ketua DPD PAN Pacitan Dr. Basuki Babussalam bersama sejumlah pengurus berangkat dari Pelabuhan Tamperan menuju perairan Teluk Pacitan dan mengikuti aktivitas nelayan mencari ikan.

Bagi PAN Pacitan, laut harus dilihat bukan hanya sebagai kekayaan alam, tetapi sebagai ruang hidup masyarakat yang memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan pangan.

“Pagi ini kita bersama nelayan berangkat dari Pelabuhan Tamperan, ikut jaring ikan sampai ke tengah laut. Ini bagian dari tasyakuran HUT PAN ke-28 dengan tema Petik Laut. Kita ingin mensyukuri anugerah yang diberikan kepada masyarakat, khususnya potensi laut yang luar biasa,” kata Basuki Babussalam saat diwawancarai wartawan pada Senin, 14 September 2026.

Dari tengah laut, Basuki membawa satu pesan: kekayaan laut harus kembali bermuara pada kesejahteraan nelayan.

Menurutnya, sektor kelautan mempunyai kontribusi besar terhadap ketahanan pangan nasional. Karena itu, pengelolaan potensi kelautan tidak boleh berhenti pada eksploitasi sumber daya, tetapi harus dibarengi dengan keberpihakan terhadap masyarakat pesisir.

“Laut Indonesia memberikan sumbangsih yang luar biasa. Karena itu, kita akan terus mendorong sektor kelautan menjadi salah satu sumber ketahanan pangan yang kita miliki. Nelayan harus mendapatkan perhatian dan kesejahteraan yang lebih baik,” ujarnya.

Pernyataan tersebut membawa isu kelautan ke ruang yang lebih besar: kedaulatan pangan tidak hanya berbicara tentang sawah dan petani, tetapi juga tentang laut dan nelayan.

Usai mengikuti aktivitas nelayan, kegiatan dilanjutkan dengan tasyakuran bersama masyarakat di kawasan Pancer.

Sekitar satu kuintal ikan disiapkan DPD PAN Pacitan untuk dibakar dan digoreng, kemudian disantap bersama masyarakat.

Di titik itu, laut tidak lagi sekadar menjadi objek pembicaraan. Hasil laut dihadirkan langsung sebagai bagian dari pangan masyarakat.

Kegiatan juga diramaikan dengan berbagai kesenian rakyat, mulai dari campursari, dangdut elekton hingga langen tayub.

Bagi Basuki, seni tidak boleh diposisikan sekadar sebagai tontonan pelengkap acara. Seni merupakan bagian dari ingatan kolektif dan identitas masyarakat yang harus terus dirawat.

“Kita melibatkan banyak pelaku seni karena kita ingin menyampaikan pesan bahwa seni adalah kekuatan tradisi yang dimiliki bangsa ini. Seni dan budaya harus terus kita jaga karena menjadi bagian dari identitas masyarakat,” jelasnya.

Dari laut dan panggung seni, pesan yang disampaikan kemudian diperluas pada persoalan pangan.

Basuki menilai ketahanan pangan harus dibangun melalui keseimbangan antara produksi, harga, dan kesejahteraan para pelaku utama di dalamnya.

Petani, kata dia, harus mendapatkan harga hasil panen yang baik. Pupuk juga harus terjangkau. Di sektor kelautan, nelayan harus memperoleh perhatian dan kesejahteraan yang lebih baik.

“Kita bersyukur perjuangan menjaga kestabilan harga pangan terus dilakukan. Petani harus bahagia, pupuk harus terjangkau dan hasil panen mendapatkan harga yang baik. Begitu juga sektor kelautan, harus mampu memberikan kontribusi besar terhadap ketahanan pangan kita,” tambahnya.

Dalam perspektif tersebut, peringatan HUT PAN ke-28 di Pacitan mencoba keluar dari sekadar seremoni tahunan.

Politik ditempatkan berhadapan langsung dengan realitas masyarakat: laut, pangan, nelayan, petani, seni dan kehidupan rakyat.

Sebab, ukuran keberpihakan tidak semata-mata berada di atas panggung, melainkan sejauh mana kekayaan alam dan potensi daerah mampu menciptakan kehidupan yang lebih layak bagi masyarakat yang menggantungkan hidup darinya.

Basuki berharap momentum tersebut dapat memperkuat hubungan PAN dengan masyarakat Pacitan sekaligus menjadi ruang untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga sumber pangan, kebudayaan dan kehidupan masyarakat.

“Bismillah, kita berbahagia bersama masyarakat Pacitan. Insyaallah dengan kebersamaan ini kita bisa membangun bangsa menjadi lebih kokoh, lebih kuat dan lebih hebat,” pungkas Basuki Babussalam.

Dari tengah laut, sebuah pesan politik sosial kembali dilemparkan: sumber daya alam tidak seharusnya hanya menjadi angka dalam laporan ekonomi. Ia harus menjadi pangan di meja rakyat, penghidupan bagi nelayan, kesejahteraan bagi petani, dan ruang hidup bagi generasi berikutnya.***

Penulis : Feri Harianto
Editor : Jefri Asmoro Diyatno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *