FaktaNews24.com, Aceh Utara – Ribuan masyarakat memadati Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Kecamatan Lhoksukon, Rabu malam (9/9/2026). Mereka mengikuti zikir dan tausiyah akbar dalam rangkaian peringatan Milad ke-800 Samudera Pasai dan Hari Jadi ke-800 Aceh Utara.
Suasana religius terasa sejak menjelang malam. Masyarakat datang dari berbagai wilayah Aceh Utara untuk mengikuti doa, zikir dan tausiyah yang menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian Piasan Pase 2026.
Kegiatan mengangkat tema “Tajaga Adat, Tapeukong Syariat”, yang menjadi benang merah hampir seluruh rangkaian peringatan delapan abad Samudera Pasai.
Rangkaian Piasan Pase sendiri berlangsung pada 7–13 September 2026 dengan memadukan sejarah, adat, budaya, keislaman, kuliner, UMKM, pameran pembangunan dan berbagai kegiatan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menghadirkan Tgk. Habibi An-Nawawi, Lc., M.Dipl. sebagai penceramah utama.
Dai muda asal Aceh tersebut sebelumnya meraih juara pertama Akademi Sahur Indonesia (AKSI) Indosiar 2026. Prestasi itu membuat namanya semakin dikenal luas sebagai salah satu dai muda Aceh yang aktif menyampaikan pesan keislaman kepada masyarakat.
Dalam tausiyahnya malam ini, Tgk Habibi mengajak masyarakat melihat peringatan 800 tahun Samudera Pasai bukan hanya sebagai perayaan sejarah.
Menurutnya, delapan abad perjalanan Samudera Pasai harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai keislaman, keadilan, ilmu pengetahuan dan persatuan yang diwariskan para leluhur.
“Delapan ratus tahun lalu, di tanah ini, Sultan Malikussaleh menancapkan tonggak Islam di Nusantara. Samudera Pasai bukan sekadar pusat perdagangan dunia, tetapi juga pusat syiar Islam yang menyinari Nusantara,” ujar Tgk Habibi dalam tausiyahnya.
Ia menyebut kawasan Pasai pada masa lalu menjadi tempat berkumpulnya ulama, sufi dan para pencinta ilmu.
Karena itu, menurutnya, memperingati 800 tahun Samudera Pasai seharusnya tidak berhenti pada seremoni.
“Memperingati 800 tahun Samudera Pasai bukan sekadar merayakan masa lalu, tetapi kembali ke akar keislaman kita,” katanya.
Tgk Habibi kemudian menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara adat dan syariat dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Ia menyebut warisan terbesar indatu bukan berupa kekayaan atau luas wilayah, melainkan nilai kehidupan yang menjadikan adat berjalan seiring dengan syariat.
“Warisan terbesar mereka adalah adat yang berpijak pada syariat, dan syariat yang berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah,” ujarnya.
“Tajaga adat, tapeukong syariat.”
Menurutnya, adat dan agama tida semestinya dipertentangkan.
“Jangan sampai kita meninggalkan adat karena agama, dan jangan pula kita meninggalkan agama karena adat. Keduanya ibarat dua sayap satu burung,” tegasnya.
Pesan tersebut dinilai relevan dengan arah Piasan Pase 2026 yang memang menggabungkan kegiatan sejarah, budaya, keagamaan dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam bagian lain tausiyahnya, Tgk Habibi mengajak masyarakat menjadikan sejarah Samudera Pasai sebagai inspirasi untuk membangun Aceh Utara hari ini.
Ia mengatakan banyak kerajaan pernah muncul dan menghilang dalam perjalanan sejarah, tetapi nama Samudera Pasai tetap dikenang.
Menurutnya, salah satu fondasi penting kejayaan tersebut adalah keimanan dan keadilan.
“Delapan abad berlalu. Banyak kerajaan datang dan pergi. Tapi Samudera Pasai tetap hidup dalam hati anak cucunya. Mengapa? Karena ia berdiri di atas keimanan dan keadilan,” katanya.
Ia pun mengingatkan agar masyarakat tidak hanya bangga dengan sejarah, tetapi mampu mengambil nilai yang terkandung di dalamnya.
“Tugas kita hari ini bukan sekadar mengenang, tetapi membangun kembali kejayaan itu dengan ilmu, dengan akhlak dan dengan persatuan. Jangan sampai orang asing lebih menghargai sejarah kita daripada kita sendiri,” lanjutnya.
Pesan tentang keadilan menjadi salah satu bagian penting dalam tausiyah tersebut.
Tgk Habibi mengutip pesan yang disebutnya sebagai wasiat Sultan Malikussaleh agar pemimpin dan masyarakat tidak menzalimi sesama manusia serta tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Allah.
“Sebuah negeri tidak akan makmur jika tidak ada keadilan. Kekayaan tidak akan bertahan jika diambil dari yang lemah. Kejayaan Pasai dulu karena rakyatnya diperlakukan adil,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus diarahkan kepada kondisi Aceh Utara saat ini, agar pembangunan tidak hanya diukur melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui peningkatan kesejahteraan, pendidikan, akhlak dan keadilan sosial.
“Aceh Utara Bangkit Bukan Sekadar Slogan”
Tgk Habibi juga mengaitkan peringatan delapan abad Samudera Pasai dengan semangat kebangkitan Aceh Utara.
“Aceh Utara bangkit itu bukan slogan. Itu doa. Itu ikhtiar. Dan ikhtiar itu tidak akan sempurna tanpa persatuan,” katanya.
Ia mengajak ulama, tokoh adat, pemerintah, pemuda dan seluruh masyarakat mengambil bagian dalam membangun daerah.
“Seperti dulu para leluhur bersatu membangun Pasai, mari kita bersatu membangun Aceh Utara yang lebih Islami, lebih maju, lebih bermartabat dan lebih berkelanjutan,” katanya.
Pesan kebangkitan tersebut sejalan dengan narasi Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dalam rangkaian Milad 800 tahun, terutama setelah daerah tersebut menghadapi berbagai tantangan pembangunan dan pemulihan pascabencana.
Peringatan delapan abad Samudera Pasai tahun ini dikemas cukup panjang melalui Piasan Pase 2026.
Selain agenda keagamaan, rangkaian kegiatan juga mencakup expo pertanian dan mitigasi bencana, olahraga tradisional, drama sejarah Sultan Malik Al-Saleh, lomba keagamaan, kegiatan sosial, donor darah, penanaman pohon, kenduri rakyat hingga pasar murah.
Sejumlah kegiatan lain juga mendapat perhatian masyarakat. Salah satunya stan Dinas Syariat Islam Aceh Utara yang membagikan ratusan Al-Qur’an cetakan Madinah secara gratis kepada pengunjung.
Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Utara, Hadaini, mengatakan pembagian mushaf tersebut dimaksudkan agar peringatan Milad 800 tahun tidak hanya menjadi kegiatan hiburan, tetapi juga memperkuat kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an dan syariat.
Di sisi lain, panitia juga mengklarifikasi pembiayaan kegiatan. Panitia menyatakan rangkaian Milad ke-800 tidak menggunakan APBK Aceh Utara. Kebutuhan kegiatan dilaporkan sekitar Rp2,6 miliar, sementara hingga Rabu sore dana yang telah terkumpul sekitar Rp600 juta.
Kehadiran Tgk Habibi sebagai penceramah utama juga mengalami penyesuaian jadwal.
Agenda zikir dan tausiyah yang sebelumnya direncanakan pada Selasa (8/9/2026) kemudian digeser ke Rabu malam karena kendala perjalanan.
Gangguan penerbangan tersebut terjadi di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang sempat berdampak terhadap penerbangan di wilayah sekitar Jakarta dan Selat Sunda. BMKG pada 8 September menyebut sejumlah bandara kembali beroperasi setelah pemeriksaan abu vulkanik menunjukkan kondisi aman.
Menutup tausiyah, Tgk Habibi mengajak masyarakat menjadikan momentum Milad ke-800 sebagai titik balik.
“Semoga Allah menjadikan peringatan 800 tahun ini sebagai titik balik, di mana kita kembali mencintai sejarah, kembali mencintai ilmu, kembali mencintai keadilan dan kembali mencintai persatuan,” katanya.
Ia berharap generasi sekarang mampu melanjutkan perjuangan para indatu dengan capaian yang lebih baik.
“Semoga Allah menjadikan kita generasi yang mampu meneruskan perjuangan indatu, bukan hanya mengenang, tetapi melampaui kejayaan mereka di masa yang akan datang,” tutupnya.
Malam zikir tersebut dihadiri Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, jajaran pejabat daerah, ulama, tokoh adat serta masyarakat dari berbagai wilayah.
Dengan berlangsungnya zikir dan tausiyah akbar malam ini, rangkaian Milad ke-800 Samudera Pasai kembali menegaskan satu pesan utama: sejarah tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus diterjemahkan menjadi nilai untuk membangun masa depan.
Piasan Pase 2026 sendiri masih berlangsung hingga 13 September 2026 dengan sejumlah agenda budaya, sosial, ekonomi dan keagamaan yang telah disiapkan panitia.











