Info Aceh

*Langsa Juara: Juara Slogan atau Juara Kerja?*

×

*Langsa Juara: Juara Slogan atau Juara Kerja?*

Sebarkan artikel ini
IMG 20260705 WA0025

*Langsa Juara: Juara Slogan atau Juara Kerja?*

Faktanews24.com-Oleh: *Dr. Ir. TM Zulfikar, S.T., M.P., IPU., ASEAN Eng.* (Pemerhati Sosial & Lingkungan Aceh/Mantan Sekjen Perkumpulan Masyarakat Langsa)

Belakangan ini, publik Kota Langsa sangat akrab dengan slogan “Langsa Juara”, sebagai prioritas pembangunan Kota Langsa. Kalimatnya singkat, mudah diingat, dan enak dicetak di baliho. Masalahnya, slogan memang selalu lebih cepat berlari daripada kenyataan.
Tidak ada yang salah dengan bercita-cita menjadi juara. Yang sering menjadi soal adalah ketika panggung lebih megah daripada pertandingannya. Trofi sudah dipoles, tetapi pemain masih sibuk mencari lapangan.
Juara bukanlah kata sifat yang bisa ditempel di spanduk. Juara adalah kata kerja. Ia lahir dari jalan yang mulus, drainase yang berfungsi, pelayanan publik yang cepat, sampah yang terangkut tepat waktu, sekolah yang berkualitas, tenaga kesehatan yang bekerja nyaman, serta ekonomi rakyat yang bergerak tanpa harus menunggu belas kasihan proyek pemerintah.
Masyarakat tidak membutuhkan terlalu banyak kata “juara”. Mereka membutuhkan alasan untuk mengatakan, “Memang kota ini lebih baik dari kemarin.”
Slogan yang terlalu sering diucapkan tanpa capaian nyata lambat laun berubah menjadi hiburan. Orang akan tersenyum setiap kali mendengarnya, bukan karena bangga, tetapi karena sudah hafal bahwa pidato sering lebih rajin bekerja daripada program.
Program prioritas seharusnya dapat diukur. Berapa persen kemiskinan turun? Berapa lapangan kerja tercipta? Seberapa besar investasi masuk? Berapa titik banjir berhasil diatasi? Seberapa puas masyarakat terhadap pelayanan publik? Kalau ukuran keberhasilan hanya jumlah spanduk, baliho, dan unggahan media sosial, maka memang kita sudah layak menjadi juara—juara publikasi.
Ironisnya, birokrasi kita kadang lebih sibuk menyusun narasi daripada menyelesaikan pekerjaan. Seolah-olah laporan lebih penting daripada hasil. Presentasi lebih utama daripada pelayanan. Padahal masyarakat tidak hidup dari infografis. Mereka hidup dari harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja, dan kepastian masa depan.
Langsa memiliki modal yang besar. Letaknya strategis, masyarakatnya dinamis, sumber daya manusianya terus berkembang, dan potensi ekonomi cukup menjanjikan. Yang dibutuhkan bukan sekadar optimisme, melainkan keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan publik, meski tidak selalu populer.
Sebab sejarah tidak mencatat siapa yang paling pandai membuat slogan. Sejarah hanya mengingat siapa yang benar-benar mengubah keadaan.
Jika “Langsa Juara” ingin dikenang sebagai visi, maka ia harus dibuktikan melalui kerja yang terukur, pemerintahan yang bersih, pembangunan yang adil, dan keberpihakan kepada rakyat. Namun jika ia berhenti sebagai kalimat yang terus dipoles tanpa isi, masyarakatlah yang akan memberi gelar baru: juara berjanji.
Pada akhirnya, rakyat bukan juri lomba pidato. Mereka adalah penilai yang setiap hari merasakan hasil pemerintahan. Nilainya sederhana. Bila hidup semakin mudah, pemerintah menang. Bila yang bertambah hanya slogan, maka yang benar-benar juara hanyalah papan reklame.[M.Amin.M.H]

Sumber:Dr.Zulfikar Pegiat Lingkungan

M.Amin.M.H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *