Faktanews24.com – Pacitan, Malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Kabupaten Pacitan kembali menghadirkan pemandangan yang tidak sekadar meriah, tetapi juga sarat makna. Ribuan warga dari berbagai penjuru daerah tumpah ruah memenuhi kawasan Pendopo Kabupaten Pacitan hingga sepanjang jalur menuju Pantai Pancer Door dalam gelaran tradisi tahunan Mlaku Suro, pada Senin malam, 15 Juni 2026.
Lautan manusia bergerak perlahan menembus malam. Di bawah cahaya lampu jalan dan semilir angin pesisir selatan, langkah demi langkah warga seakan menyatu menjadi simbol perjalanan panjang kehidupan. Tidak ada sekat usia, profesi, maupun latar belakang. Semua berjalan dalam satu irama, menyambut tahun baru Hijriah dengan semangat kebersamaan yang telah diwariskan turun-temurun.
Bagi masyarakat Pacitan, Mlaku Suro bukan sekadar kegiatan olahraga atau agenda seremonial tahunan. Tradisi ini telah menjelma menjadi ruang spiritual, sosial, sekaligus budaya yang mempertemukan masyarakat dalam satu momentum refleksi bersama.

Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayuaji Reksonagoro, menegaskan bahwa Mlaku Suro merupakan warisan budaya yang memiliki nilai penting bagi kehidupan masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi simbol pergantian tahun dalam kalender Islam, tetapi juga momentum untuk mempererat tali persaudaraan, memperkuat solidaritas sosial, dan menjaga identitas budaya daerah agar tetap hidup di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.
“Melalui Mlaku Suro ini, kita diajak untuk terus menjaga kebersamaan, memperkuat rasa persatuan, sekaligus melestarikan warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat Pacitan,” ujar Bupati dalam sambutannya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa tradisi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun ini memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibanding sekadar berjalan kaki bersama. Di tengah dunia yang semakin individualistik, Mlaku Suro menghadirkan ruang perjumpaan yang menghidupkan kembali nilai gotong royong dan kebersamaan masyarakat.
Menariknya, pelaksanaan Mlaku Suro tahun ini menghadirkan warna baru yang mendapat perhatian besar dari masyarakat. Untuk pertama kalinya, peringatan Tahun Baru Islam tidak hanya diisi dengan kegiatan berjalan kaki, tetapi juga dilengkapi dengan agenda Mlayu Suro.
Dalam kegiatan tersebut, komunitas pelari dan pegiat olahraga lari dari berbagai wilayah di Pacitan turut ambil bagian dengan menempuh jarak 5 kilometer dan 14,48 kilometer. Pemilihan angka tersebut bukan tanpa alasan. Jarak 14,48 kilometer dipilih sebagai simbol peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

Kehadiran Mlayu Suro menjadi bukti bahwa tradisi tidak harus terjebak dalam bentuk lama. Sebaliknya, tradisi dapat terus berkembang dengan menghadirkan inovasi yang tetap menghormati nilai-nilai dasarnya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat Pacitan berupaya menjembatani antara pelestarian budaya dengan gaya hidup masyarakat modern. Jika Mlaku Suro merepresentasikan nilai tradisional dan kebersamaan, maka Mlayu Suro menghadirkan semangat generasi baru yang lebih dekat dengan aktivitas olahraga dan pola hidup sehat.
Kombinasi keduanya menciptakan sebuah harmoni yang menarik. Tradisi tetap terjaga, sementara generasi muda memperoleh ruang untuk berpartisipasi dengan cara yang lebih sesuai dengan karakter zamannya.
Bupati Pacitan menilai inovasi tersebut merupakan langkah positif yang dapat meningkatkan antusiasme masyarakat sekaligus memperluas daya tarik kegiatan.

Menurutnya, semakin banyak unsur masyarakat yang terlibat, maka semakin kuat pula posisi Mlaku Suro sebagai agenda budaya yang dicintai dan dinantikan setiap tahun.
Lebih dari sekadar tradisi, Pemerintah Kabupaten Pacitan melihat Mlaku Suro sebagai aset strategis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ikon wisata daerah.
Pandangan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, tren wisata berbasis budaya mengalami peningkatan signifikan. Wisatawan tidak lagi hanya mencari destinasi dengan pemandangan indah, tetapi juga pengalaman autentik yang mampu menghadirkan cerita dan nilai budaya lokal.

Tradisi ini memadukan nilai religius, kebersamaan sosial, kekayaan budaya lokal, serta keindahan alam Pacitan yang menjadi latar perjalanannya. Jalur yang menghubungkan pusat pemerintahan daerah dengan kawasan Pantai Pancer Door menciptakan pengalaman unik yang tidak banyak dimiliki daerah lain.
Bupati berharap kegiatan ini terus berkembang dan mampu menjadi agenda unggulan yang dikenal hingga tingkat nasional.
“Harapannya Mlaku Suro terus eksis dan berkembang menjadi ikon budaya serta event tahunan unggulan Kabupaten Pacitan,” ungkapnya.
Harapan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat sektor pariwisata sebagai salah satu pilar pembangunan ekonomi.

Pacitan selama ini dikenal luas sebagai daerah yang memiliki kekayaan alam luar biasa, mulai dari pantai-pantai eksotis, gua alam, hingga bentang perbukitan karst yang memukau. Namun di era ekonomi kreatif saat ini, kekuatan budaya menjadi nilai tambah yang tidak kalah penting.
Mlaku Suro berpotensi menjadi magnet baru yang mampu melengkapi daya tarik wisata alam yang telah dimiliki Pacitan.
Di balik kemeriahan ribuan peserta yang berjalan dan berlari menyusuri jalanan kota, terdapat denyut ekonomi yang ikut bergerak.

Setiap gelaran Mlaku Suro menghadirkan peluang bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Pedagang makanan, penjual minuman, pelaku UMKM, hingga penyedia jasa transportasi merasakan dampak langsung dari meningkatnya aktivitas masyarakat.
Semakin banyak peserta dan pengunjung yang datang, semakin besar pula perputaran ekonomi yang terjadi.
Bupati menegaskan bahwa kegiatan budaya seperti Mlaku Suro tidak hanya memiliki nilai sosial dan spiritual, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, berbagai sektor usaha lokal memiliki kesempatan untuk berkembang.
Kuliner khas Pacitan, produk kerajinan masyarakat, usaha penginapan, hingga destinasi wisata di sekitar lokasi kegiatan dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya arus kunjungan.
Di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung, kegiatan berbasis budaya seperti ini menjadi contoh bagaimana tradisi lokal dapat bertransformasi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Muharram Sebagai Momentum Introspeksi dan Harapan Baru
Pergantian tahun Hijriah selalu membawa pesan refleksi mendalam bagi umat Islam.

Momentum 1 Muharram tidak sekadar menandai bergantinya angka tahun, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan hidup dan memperbaiki langkah menuju masa depan yang lebih baik.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Pacitan mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Tahun Baru Islam sebagai sarana memperkuat spiritualitas dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Ia juga mengajak masyarakat untuk memanjatkan doa bagi bangsa dan negara agar senantiasa diberikan kedamaian serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan global yang terus berkembang.

Ajakan tersebut terasa relevan di tengah situasi dunia yang masih diwarnai berbagai dinamika geopolitik, ketidakpastian ekonomi, dan perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat.
Bagi Pacitan sendiri, harapan yang dipanjatkan tidak hanya berkaitan dengan kemajuan pembangunan, tetapi juga keselamatan dan keberkahan bagi seluruh masyarakat.
Bupati berharap daerah yang dikenal sebagai Kota 1001 Goa tersebut senantiasa dijauhkan dari berbagai bencana dan mara bahaya serta mampu mewujudkan cita-cita pembangunan menuju masyarakat yang semakin sejahtera dan bahagia.

Salah satu kekuatan terbesar Mlaku Suro adalah kemampuannya menyatukan berbagai generasi dalam satu ruang yang sama.
Anak-anak berjalan berdampingan dengan orang tua. Para pemuda berbaur dengan tokoh masyarakat. Komunitas olahraga, organisasi kemasyarakatan, aparatur pemerintah, hingga warga biasa melebur tanpa perbedaan.
Di tengah kehidupan modern yang sering kali menghadirkan jarak sosial, tradisi seperti Mlaku Suro menjadi pengingat bahwa masyarakat Pacitan masih memiliki ruang bersama untuk bertemu, berinteraksi, dan memperkuat rasa memiliki terhadap daerahnya.

Inilah makna terdalam dari sebuah tradisi.
Bukan sekadar mempertahankan kebiasaan lama, melainkan menjaga nilai-nilai yang membentuk karakter suatu masyarakat.
Ketika ribuan orang melangkah bersama menuju Pantai Pancer Door pada malam 1 Muharram, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya sebuah perayaan tahunan. Yang sedang dirawat adalah identitas kolektif masyarakat Pacitan, semangat gotong royong yang diwariskan para leluhur, serta harapan bahwa masa depan daerah dapat dibangun melalui kebersamaan.
Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, inovasi yang terus berkembang, serta komitmen pemerintah daerah untuk menjadikannya agenda unggulan, Mlaku Suro berpotensi tumbuh lebih besar dari sekadar tradisi lokal. Ia dapat menjadi simbol kebangkitan budaya, penggerak ekonomi rakyat, sekaligus wajah baru pariwisata Pacitan di masa depan.
Dan pada malam pergantian Tahun Baru Islam 1448 Hijriah itu, ribuan langkah yang bergerak dari Pendopo menuju Pantai Pancer Door seakan mengirim satu pesan yang sama: bahwa Pacitan tidak hanya berjalan menuju tahun baru, tetapi juga melangkah menuju masa depan yang penuh harapan.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno











