Berita Nasional

Grup Ronthek Ki Ageng Sirno Desa Sirnoboyo Tutup Hari Pertama Festival Ronthek Pacitan 2026 dengan Suguhan Spektakuler yang Sarat Makna Persatuan

×

Grup Ronthek Ki Ageng Sirno Desa Sirnoboyo Tutup Hari Pertama Festival Ronthek Pacitan 2026 dengan Suguhan Spektakuler yang Sarat Makna Persatuan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260718 WA0074 1

Faktanews24.com – Pacitan, Denting bambu, tabuhan ritmis, sorot cahaya, dan gemuruh tepuk tangan ribuan penonton menandai penampilan Grup Ronthek Ki Ageng Sirno dari Desa Sirnoboyo, Kecamatan Pacitan, yang sukses menutup rangkaian hari pertama Festival Ronthek Pacitan (FRP) 2026 pada Jumat, 17 Juli 2026 malam. Sebagai kontingen terakhir yang tampil pada malam pembukaan, kelompok tersebut berhasil menghadirkan pertunjukan megah yang memadukan unsur musikalitas, teatrikal, dan pesan kebudayaan yang kuat.

Sejak memasuki jalur parade, kontingen yang mewakili Kecamatan Pacitan itu langsung mencuri perhatian masyarakat yang telah memadati sepanjang rute festival. Dengan mengusung tema “Sirnaning Boyo, Sayekti, Nyawiji”, Grup Ronthek Ki Ageng Sirno tidak hanya menyajikan hiburan semata, tetapi juga membawa pesan filosofis tentang pentingnya persatuan, ketulusan, dan kebersamaan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan sosial.

Festival Ronthek Pacitan sendiri merupakan salah satu agenda budaya terbesar di Kabupaten Pacitan yang setiap tahunnya menjadi magnet bagi masyarakat lokal maupun wisatawan dari berbagai daerah. Tradisi yang berakar dari budaya membangunkan warga saat sahur pada masa lampau itu kini berkembang menjadi sebuah pertunjukan seni kolosal yang sarat kreativitas dan identitas daerah.

IMG 20260718 WA00601

Pada malam pembukaan FRP 2026, ribuan masyarakat mulai memadati lokasi pertunjukan sejak sore hari. Berbagai sudut jalan dipenuhi penonton yang datang bersama keluarga, kerabat, maupun komunitas pecinta seni tradisional. Kehadiran peserta dari berbagai kecamatan dan jenjang pendidikan menambah semarak festival yang telah menjadi bagian penting dari kalender kebudayaan Pacitan.

Namun, ketika nama Grup Ronthek Ki Ageng Sirno diumumkan sebagai penampil terakhir, suasana malam seolah mencapai puncaknya. Sorak sorai penonton pecah saat rombongan mulai memasuki arena dengan iringan tabuhan bambu yang menghentak dan komposisi musik yang tertata rapi.

Keunikan pertunjukan Ki Ageng Sirno terlihat dari kemampuannya menggabungkan berbagai elemen seni pertunjukan dalam satu narasi yang utuh. Musik bambu yang menjadi ciri khas ronthek dikolaborasikan dengan tata gerak yang dinamis, permainan cahaya, kostum artistik, serta unsur teatrikal yang memperkuat makna pertunjukan.

IMG 20260718 WA0058

Setiap pemain tampil dengan penuh energi dan disiplin. Barisan penabuh ronthek memainkan irama yang berganti-ganti, mulai dari tempo lambat yang menggambarkan suasana kontemplatif hingga hentakan cepat yang memunculkan semangat perjuangan dan persatuan. Di sisi lain, para penari dan pemeran teatrikal menyajikan gerakan yang terkoordinasi, menciptakan harmoni visual yang memukau.

Tema “Sirnaning Boyo, Sayekti, Nyawiji” menjadi inti dari seluruh rangkaian pertunjukan. Dalam bahasa Jawa, frasa tersebut dapat dimaknai sebagai hilangnya segala ancaman dan marabahaya melalui keteguhan hati dan persatuan. Filosofi itu diwujudkan melalui simbol-simbol artistik yang ditampilkan di sepanjang parade.

Pesan tersebut dinilai relevan dengan kehidupan masyarakat modern yang dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari perbedaan pandangan, perubahan sosial, hingga dinamika kehidupan bermasyarakat. Melalui karya seni, Grup Ronthek Ki Ageng Sirno berupaya mengingatkan pentingnya menjaga harmoni dan memperkuat rasa kebersamaan.

Salah satu daya tarik utama dari penampilan tersebut terletak pada kemampuan para seniman lokal dalam menerjemahkan nilai-nilai budaya ke dalam bahasa pertunjukan yang mudah dipahami oleh masyarakat luas. Tidak sedikit penonton yang tampak terpukau ketika unsur teatrikal mulai dimainkan, menghadirkan suasana yang berganti antara ketegangan, harapan, hingga semangat persatuan.

Tata artistik yang digunakan juga menjadi sorotan. Ornamen tradisional yang menghiasi properti pertunjukan memperlihatkan kekayaan simbol budaya Pacitan. Kostum para pemain dirancang dengan detail yang mencerminkan identitas lokal, sementara pencahayaan yang digunakan mampu memperkuat suasana setiap adegan.

Di sepanjang jalur parade, masyarakat tampak antusias mengabadikan momen menggunakan telepon genggam. Beberapa penonton bahkan rela berdiri berjam-jam demi menyaksikan secara langsung penampilan para peserta festival.

IMG 20260718 WA0059

Salah seorang warga Pacitan, Suyatno, mengaku terkesan dengan penampilan Grup Ronthek Ki Ageng Sirno. Menurutnya, kontingen dari Sirnoboyo tersebut berhasil menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya meriah, tetapi juga menyentuh sisi emosional penonton.

“Penampilannya luar biasa. Musiknya bagus, tariannya kompak, dan ceritanya juga punya makna yang dalam tentang persatuan. Ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Pacitan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh sejumlah pengunjung yang datang dari luar daerah. Mereka menilai Festival Ronthek Pacitan memiliki karakter yang berbeda dibandingkan festival budaya lain karena mampu mempertahankan akar tradisi sambil membuka ruang bagi inovasi dan kreativitas generasi muda.

Keberhasilan Grup Ronthek Ki Ageng Sirno tidak lepas dari proses persiapan panjang yang dilakukan oleh para anggota dan pendukung. Latihan intensif dilakukan selama berbulan-bulan untuk memastikan setiap unsur pertunjukan dapat tersaji secara maksimal.

Persiapan tersebut mencakup penyusunan konsep, penggarapan musik, koreografi, pembuatan properti, hingga pengaturan teknis di lapangan. Keterlibatan masyarakat Desa Sirnoboyo menjadi salah satu faktor penting yang mendukung kesuksesan penampilan mereka.

IMG 20260718 WA0062

Festival Ronthek Pacitan memang tidak sekadar menjadi ajang kompetisi seni, tetapi juga ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari seniman, pelajar, perangkat desa, pelaku usaha mikro, hingga komunitas budaya turut mengambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tahunan tersebut.

Dari sisi ekonomi, pelaksanaan festival memberikan dampak positif bagi masyarakat. Kehadiran ribuan pengunjung meningkatkan aktivitas perdagangan di sekitar lokasi acara. Pedagang makanan, minuman, cendera mata, hingga pelaku usaha kecil lainnya memanfaatkan momentum festival untuk meningkatkan pendapatan.

Di berbagai sudut kota, stan kuliner lokal dipadati pembeli yang ingin menikmati beragam hidangan khas Pacitan. Hotel, penginapan, dan sektor jasa lainnya juga merasakan peningkatan aktivitas selama penyelenggaraan festival berlangsung.

Pemerintah Kabupaten Pacitan terus mendorong Festival Ronthek sebagai salah satu instrumen penguatan identitas budaya sekaligus penggerak sektor pariwisata daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, festival ini berkembang menjadi agenda yang dinanti masyarakat karena mampu menghadirkan perpaduan antara tradisi, hiburan, dan pemberdayaan ekonomi.

IMG 20260718 WA0063

Selain menjadi sarana pelestarian budaya, Festival Ronthek juga dipandang sebagai wadah pembinaan generasi muda. Keterlibatan pelajar dan komunitas seni dalam proses kreatif dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan tradisi di tengah arus modernisasi.

Melalui kegiatan seperti FRP, nilai-nilai gotong royong, disiplin, dan kecintaan terhadap budaya lokal dapat ditanamkan sejak dini. Setiap kelompok peserta dituntut untuk bekerja sama, menyusun konsep, dan menampilkan pertunjukan terbaik mereka di hadapan masyarakat.

Dalam konteks yang lebih luas, Festival Ronthek menjadi bukti bahwa kesenian tradisional memiliki kemampuan untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Inovasi dalam pengemasan pertunjukan tidak menghilangkan nilai-nilai dasar yang menjadi ruh dari tradisi tersebut.

Penampilan Grup Ronthek Ki Ageng Sirno menjadi salah satu contoh bagaimana seni tradisional dapat berkembang tanpa kehilangan identitasnya. Penggunaan unsur teatrikal modern dipadukan dengan alat musik bambu tradisional menghasilkan pertunjukan yang relevan bagi generasi masa kini sekaligus tetap menghormati akar budaya.

IMG 20260718 WA0064

Bagi masyarakat Sirnoboyo, keikutsertaan dalam Festival Ronthek bukan sekadar ajang tampil di atas panggung. Lebih dari itu, keterlibatan mereka merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga dan mewariskan budaya kepada generasi berikutnya.

Malam pembukaan Festival Ronthek Pacitan 2026 akhirnya ditutup dengan tepuk tangan panjang dari para penonton. Setelah seluruh rangkaian pertunjukan selesai, masyarakat perlahan meninggalkan lokasi acara dengan membawa kesan mendalam dari penampilan para peserta, terutama suguhan spektakuler Grup Ronthek Ki Ageng Sirno.

Meski hari pertama telah usai, kemeriahan Festival Ronthek Pacitan 2026 masih akan berlanjut hingga 19 Juli mendatang. Puluhan peserta dari berbagai kecamatan dan jenjang pendidikan dijadwalkan tampil dengan membawa konsep, kreativitas, dan ciri khas masing-masing.

Setiap kontingen akan berupaya menghadirkan pertunjukan terbaik sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi ronthek yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Pacitan. Beragam inovasi dipastikan akan terus mewarnai panggung festival, mulai dari eksplorasi musikal, koreografi, hingga penguatan narasi budaya.

Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, Festival Ronthek Pacitan menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya layak untuk dikenang, tetapi juga perlu dirawat, dihidupkan, dan diwariskan. Melalui denting bambu yang bergema di sepanjang jalan kota, masyarakat Pacitan kembali menegaskan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan.

Dan pada malam pembukaan itu, Grup Ronthek Ki Ageng Sirno berhasil membuktikan bahwa seni bukan sekadar tontonan, melainkan medium untuk menyampaikan nilai, menyatukan perbedaan, serta memperkuat identitas kolektif masyarakat. Dengan tema “Sirnaning Boyo, Sayekti, Nyawiji”, mereka menutup hari pertama Festival Ronthek Pacitan 2026 dengan sebuah pertunjukan yang bukan hanya memukau mata, tetapi juga meninggalkan jejak makna di benak para penontonnya.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *