Menggemparkan, Ditemukan Punden Berundak “Candi Trowulan” di Desa Danawarih, Tegal
Sebuah temuan yang mengejutkan datang dari Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Di bawah tebing aliran Kali Gung, tersembunyi sebuah struktur batu kuno yang oleh warga setempat disebut dengan nama “Candi Trowulan”. 
Penamaan ini muncul dari sebuah nisan atau batu bertuliskan kata “Trowulan” yang ditemukan di lokasi tersebut, sehingga masyarakat sekitar pun menyematkan nama itu pada situs yang selama ini hampir tidak diketahui publik luas.
Bukan Trowulan yang Selama Ini Dikenal
Nama Trowulan sendiri sangat melekat dengan satu kawasan bersejarah di Mojokerto, Jawa Timur, yang dikenal luas sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14.
Di kawasan itu berdiri sejumlah candi peninggalan Majapahit seperti Wringin Lawang, Bajang Ratu, dan Brahu, lengkap dengan museum yang merawat jejak kejayaan kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara tersebut.
Karena itu, kemunculan nama “Trowulan” pada sebuah batu di Danawarih, Tegal, tentu menimbulkan pertanyaan besar. Apakah ada kaitan sejarah antara dua tempat yang terpisah jarak ratusan kilometer ini, ataukah penamaan tersebut hanya kebetulan, atau bagian dari tradisi lisan masyarakat setempat yang diwariskan turun-temurun?
Hingga saat ini belum ada penelitian arkeologis resmi yang memastikan hubungan antara situs di Danawarih dengan kompleks percandian Majapahit di Mojokerto.
Klaim-klaim semacam ini perlu dilihat sebagai temuan awal yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh, bukan sebagai fakta sejarah yang sudah final.
Ciri Khas Punden Berundak
Dari pengamatan bentuk dan susunan batunya, situs ini menyerupai punden berundak, yaitu struktur pemujaan kuno yang sudah ada sejak masa pra-Hindu dan terus digunakan pada masa kepercayaan Hindu maupun kejawen.
Beberapa ciri yang biasa melekat pada punden berundak antara lain:
• Susunan teras bertingkat yang semakin mengecil ke arah puncak, melambangkan perjalanan spiritual dari dunia bawah ke dunia atas.
• Orientasi bangunan yang umumnya mengarah ke gunung atau dataran tinggi, dipercaya sebagai tempat bersemayamnya leluhur atau kekuatan suci.
• Susunan batu alam tanpa pahatan halus, berbeda dengan candi-candi periode Hindu-Buddha klasik yang biasanya dibangun dari batu andesit atau bata yang dipahat rapi.
Di Danawarih, struktur berundak ini sebagian besar sudah tidak tertata rapi. Batu-batunya tampak berserakan, kemungkinan akibat erosi tebing, pergerakan tanah, atau memang sudah lama tidak terurus.
Namun di beberapa sisi masih dapat dikenali susunan batu yang membentuk semacam kotak atau teras, sebuah jejak yang mengindikasikan bahwa struktur ini dahulu memang dibangun dengan perencanaan, bukan sekadar tumpukan alami.
Lokasi yang Tersembunyi di Tepi Kali Gung
Posisi situs yang berada di bawah tebing Kali Gung membuatnya jarang terjamah, baik oleh peneliti maupun wisatawan.
Aliran sungai ini sendiri dikenal warga Balapulang sebagai sungai yang cukup deras, bahkan beberapa kali menyebabkan kerusakan infrastruktur di sekitarnya.
Letaknya yang tersembunyi di balik tebing inilah yang diduga menjadi salah satu alasan mengapa struktur kuno tersebut bisa bertahan tanpa banyak diketahui orang selama bertahun-tahun, sekaligus menjelaskan mengapa kondisinya kini memprihatinkan dan rawan rusak lebih lanjut.
Desa Danawarih sendiri memang dikenal warga Tegal memiliki sejumlah potensi situs sejarah dan budaya, meski belum semuanya tergali dan terdokumentasi secara menyeluruh.
Penemuan punden berundak ini menambah daftar kekayaan sejarah lokal yang menanti penelitian lebih lanjut.
Jejak Pemujaan Nenek Moyang yang Perlu Dijaga
Bagi masyarakat yang mengenal sejarah Tanah Jawa, punden berundak bukan sekadar tumpukan batu biasa. Struktur seperti ini umumnya dikaitkan dengan praktik pemujaan leluhur yang jauh lebih tua daripada masuknya pengaruh Hindu dari kerajaan-kerajaan besar seperti Kediri, Singosari, Kanjuruhan, maupun Majapahit.
Tradisi pemujaan di tempat tinggi ini kemudian sering berakulturasi dengan kepercayaan Hindu dan kejawen, sehingga banyak punden berundak yang masih digunakan atau dihormati hingga masa-masa kerajaan Hindu berikutnya.
Sayangnya, situs-situs semacam ini di berbagai daerah kerap luput dari perhatian karena tidak memiliki bentuk megah seperti candi-candi batu pada umumnya.
Padahal, dari sudut pandang arkeologi, punden berundak menyimpan informasi penting tentang akar kepercayaan masyarakat Jawa sebelum dan selama masa Hindu-Buddha.
Harapan untuk Penelitian dan Pelestarian
Temuan di Danawarih ini sebaiknya menjadi perhatian dinas terkait, akademisi, maupun pemerhati cagar budaya di Kabupaten Tegal.
Penelitian arkeologis yang lebih mendalam diperlukan untuk memastikan usia, fungsi, dan latar belakang penamaan “Trowulan” pada situs ini, sekaligus untuk menentukan langkah pelestarian yang tepat sebelum kondisinya semakin rusak akibat cuaca, erosi, atau aktivitas manusia.
Jika benar terbukti sebagai situs bersejarah yang berusia tua, keberadaannya bisa menjadi kebanggaan baru bagi warga Danawarih dan Kabupaten Tegal secara umum, sekaligus memperkaya catatan sejarah Tanah Jawa yang selama ini lebih banyak berpusat pada kerajaan-kerajaan besar seperti Kediri, Singosari, dan Majapahit.
Senyum Indonesia akan semakin lengkap bila setiap jejak peninggalan nenek moyang, sekecil apa pun bentuknya, mendapat perhatian dan perlindungan yang layak.(*)











