Berita Nasional

Rakyat Dipaksa Menyerah? Gas Elpiji 3 Kg Langka di Pacitan, Pemerintah Klaim Stok Aman Tapi Fakta di Lapangan Bicara Lain!

×

Rakyat Dipaksa Menyerah? Gas Elpiji 3 Kg Langka di Pacitan, Pemerintah Klaim Stok Aman Tapi Fakta di Lapangan Bicara Lain!

Sebarkan artikel ini
IMG 20260317 WA0041

Faktanews24.com – Pacitan, Polemik kelangkaan gas elpiji 3 kilogram di Kabupaten Pacitan kian memanas dan memicu kemarahan publik. Di tengah klaim pemerintah bahwa stok aman, masyarakat justru mengalami kenyataan pahit yaitu berhari-hari berburu gas subsidi, namun pulang dengan tangan kosong.

Jeritan warga terdengar di berbagai penjuru. Mereka mengaku telah berkeliling dari satu warung ke warung lain, bahkan mendatangi pangkalan resmi, namun tetap tidak mendapatkan gas elpiji 3 kg yang menjadi kebutuhan utama dapur rakyat kecil.

“Saya sudah muter ke mana-mana, kosong semua. Ini sudah beberapa hari,” keluh Sabikun seorang warga Pacitan dengan nada frustrasi.

Ironisnya, di saat masyarakat menjerit, pihak Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Tenaga Kerja (Disdagnaker) Pacitan justru menyatakan kondisi distribusi dalam keadaan normal. Kepala Disdagnaker Pacitan, Acep Suherman mengklaim bahwa stok gas elpiji 3 kg di tingkat agen dan pangkalan masih tersedia.

“Kita sudah terjun ke lapangan. Untuk pasokan LPG 3 kg, stok di agen dan pangkalan masih normal. Yang bermasalah di pengecer (warung-warung),” ujarnya.

Pernyataan ini sontak memicu tanda tanya besar. Jika stok benar-benar aman, mengapa masyarakat justru kesulitan mendapatkan gas?

Lebih lanjut, Acep juga menyebut bahwa stok LPG non-subsidi ukuran 5 kg dan 12 kg justru melimpah. Bahkan, masyarakat diarahkan untuk beralih ke ukuran tersebut jika kesulitan mendapatkan gas 3 kg.

“Kita sudah koordinasi dengan Pertamina. Akan ada dropping tambahan, sekitar 10.600 tabung untuk 11 agen dan akan terus ditambah hingga 22 Maret,” tambahnya.

Namun, fakta di lapangan kembali menampar pernyataan tersebut. Seorang warga lainnya mengaku sempat mendatangi pangkalan di wilayah Arjowinangun, Pacitan tetapi tetap tidak dilayani meskipun tabung terlihat masih tersedia.

“Di pangkalan ada dua tabung, tapi tidak dikasih beli,” ungkapnya geram.

Kondisi ini memunculkan dugaan adanya persoalan serius dalam distribusi, bahkan tidak menutup kemungkinan praktik penimbunan atau permainan di tingkat bawah. Sayangnya, hingga kini belum ada klarifikasi resmi yang transparan dari pihak terkait mengenai akar masalah yang sebenarnya.

Situasi semakin memanas ketika masyarakat mulai mendesak pemerintah daerah untuk turun tangan secara serius, bukan sekadar memberikan pernyataan normatif.

“Ini bukan soal ada atau tidak ada stok, tapi soal rakyat bisa beli atau tidak. Jangan sampai rakyat dipaksa beralih ke gas mahal,” tegas warga lainnya.

Kelangkaan gas elpiji 3 kg bukan sekadar persoalan distribusi biasa. Ini menyangkut hajat hidup masyarakat kecil pedagang kaki lima, ibu rumah tangga, hingga pelaku usaha mikro yang sangat bergantung pada gas subsidi.

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa solusi nyata, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap pemerintah akan runtuh. Apalagi di tengah momen menjelang Hari Raya Idulfitri, di mana kebutuhan masyarakat justru meningkat tajam.

Kini publik menunggu: apakah pemerintah akan benar-benar hadir menyelesaikan persoalan ini, atau justru terus berlindung di balik angka-angka “stok aman” yang tidak pernah dirasakan rakyat?

Satu hal yang pasti Pacitan sedang tidak baik-baik saja. Dan rakyat mulai bersuara.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *