Berita Nasional

Dari Ruang Informasi Menuju Donorojo, Jejak Sunyi Pengabdian Bagus Nurcahyadi Saputro yang Dilepas dengan Rindu

×

Dari Ruang Informasi Menuju Donorojo, Jejak Sunyi Pengabdian Bagus Nurcahyadi Saputro yang Dilepas dengan Rindu

Sebarkan artikel ini
IMG 20260117 WA0046

Faktanews24.com – Pacitan, Pendopo Agung Kabupaten Pacitan (Mas Tumenggung Djogokardjo), Pacitan, pada Kamis, 15 Januari 2026, malam itu diselimuti suasana yang tak biasa.

Gerimis tipis turun perlahan, membasahi halaman pendopo, seakan menjadi latar sunyi bagi sebuah kisah pengabdian yang memasuki babak baru. Senja terasa enggan berlalu, memberi ruang bagi rasa untuk menahan sejenak perpisahan.

Di antara perbincangan para pejabat yang hadir, lantunan azan Isya menggema dan seketika mengubah suasana. Hening menyergap. Percakapan terhenti, langkah-langkah terdiam. Malam itu, panggilan Ilahi menjadi jeda batin sebelum amanah baru benar-benar disematkan kepada para aparatur sipil negara yang akan dilantik dan dimutasi.

Puluhan ASN tampak berbaris rapi. Sebagian mengenakan seragam PDL, sebagian lain berbaju putih dengan tanda kepangkatan di dada. Mereka adalah calon camat dan pejabat yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Di antara barisan itu, satu sosok hadir dengan ketenangan yang mencuri perhatian, bukan karena jabatan yang akan diterima, melainkan sikap yang memancarkan keteduhan.

Ia adalah Bagus Nurcahyadi Saputro, S.STP, MPA. Dengan langkah mantap dan sorot mata yang tenang, Bagus menutup hampir tiga tahun pengabdiannya di Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pacitan.

Alumni Sekolah Tinggi Kepamongprajaan ini selama ini bekerja di ruang yang kerap luput dari sorotan, namun memiliki peran strategis yaitu dalam ruang informasi. Tempat kepercayaan publik dirawat, dan hubungan antara pemerintah serta masyarakat dijaga dengan kehati-hatian.

Bagi Bagus, media tidak pernah diposisikan sekadar sebagai mitra kerja administratif. Media adalah bagian dari demokrasi itu sendiri, penjaga nalar publik agar tetap jernih. Dalam menghadapi dinamika pemberitaan, ia memilih membuka pintu dialog, bukan membangun tembok pembatas. Ia berdiri sebagai penghubung, bukan pengendali.

“Media adalah ujung tombak informasi. Dari sanalah pemerintah dan masyarakat bisa saling memahami. Sinergi harus dijaga agar Pacitan tetap teduh,” tuturnya dalam sebuah kesempatan.

Prinsip itu membuatnya dekat dengan kalangan jurnalis Pacitan. Tak ada sekat antara media besar atau kecil, wartawan senior maupun pendatang baru. Semua disambut dengan sikap yang sama: terbuka, responsif, dan penuh penghormatan. Bagus percaya, kebersamaan adalah fondasi penting dalam membangun daerah tanpa kegaduhan.

Kepercayaan yang terbangun itulah yang kemudian mengantarkannya pada amanah baru. Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayuaji Reksonagoro, menugaskan Bagus untuk memimpin Kecamatan Donorojo, wilayah di tapal barat Pacitan yang menyimpan tantangan sekaligus harapan bagi masyarakatnya.

Mutasi ini menjadi penanda perpisahan. Bagus harus meninggalkan ruang rapat, konferensi pers, dan rutinitas pengelolaan informasi. Di tempat tugas yang baru, ia akan berhadapan langsung dengan denyut kehidupan warga, jalan desa, dan persoalan keseharian masyarakat. Di Donorojo, ia bukan lagi sekadar pengelola arus informasi, melainkan penjaga kepercayaan publik di garis terdepan pemerintahan.

Dalam pesan kedinasan yang disampaikan kepada rekan-rekan pewarta yang tergabung dalam Tim Penyebarluasan Informasi, Bagus berpamitan dengan kesederhanaan yang menyentuh. Ia menyampaikan undur diri dari kegiatan dan tata kelola kemitraan media seiring amanah baru yang diembannya.

Ucapan terima kasih ia sampaikan atas kebersamaan, dinamika, dan berbagai tantangan yang telah dilalui bersama. Dengan kerendahan hati, ia mengakui masih banyak kekurangan, seraya menyampaikan keyakinan bahwa sinergi antara pemerintah dan media akan terus disempurnakan di bawah kepemimpinan Kabid Kominfo Pacitan yang baru.

“Maturnuwun. Semoga sinergi pers dalam pembangunan, pendidikan masyarakat, dan menciptakan Pacitan yang kondusif tetap terjaga,” tulisnya.

Ia pun memanjatkan doa, berharap seluruh ikhtiar yang telah dan akan dilakukan bersama insan media mendapat ridho Allah SWT. Kalimat penutupnya singkat, namun penuh makna.

“Bismillahirrahmanirrahim, mangkat Donorojo.”

Gerimis malam itu telah berhenti. Namun bagi banyak insan media Pacitan, perpisahan ini meninggalkan ruang rindu yang tak mudah terisi. Sosok yang selama ini menjadi jembatan komunikasi, pendengar yang sabar, sekaligus penenang di tengah riuh informasi, kini melangkah ke medan pengabdian yang berbeda.

Dari ruang informasi menuju tapal barat Pacitan, Bagus Nurcahyadi Saputro melangkah dengan satu keyakinan sederhana: jabatan hanyalah sarana, pengabdian adalah tujuan utama.

Selamat bertugas di tempat pengabdian yang baru. Jejak ketulusanmu akan selalu dikenang dan dirindukan.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno

Loading