Faktanews24.com – Pacitan, Di tengah masifnya peredaran rokok ilegal di Kabupaten Pacitan, suara masyarakat terus bermunculan. Salah satunya datang dari Naufal, seorang seniman muda yang dikenal aktif dalam kegiatan budaya di Pacitan. Menurutnya, daya tarik utama rokok ilegal ada pada harga yang jauh lebih murah, namun dengan rasa yang disebut-sebut tidak kalah dari rokok legal berharga tinggi.
“Rokok ilegal itu murah, tapi rasanya juga enak, kondisi ini membuat banyak kalangan muda di Pacitan lebih memilih membeli rokok ilegal,” ungkap Naufal saat diwawancarai wartawan pada Sabtu, 26 Juli 2025.
Dengan harga sekitar Rp15.000 per bungkus, kata Naufal, konsumen bisa mendapatkan rasa yang mirip dengan rokok legal seharga Rp30.000 ke atas.
“Ini salah satu penyebab mengapa peredaran rokok ilegal semakin meluas, terutama di kalangan anak muda,” tambahnya.
Menurut pandangannya, produsen rokok ilegal memanfaatkan momentum mahalnya harga rokok legal untuk menerapkan strategi pasar agresif.
“Mereka itu menerapkan sistem aji mumpung. Mumpung rokok legal makin mahal, mereka bikin rokok yang rasanya mirip rokok mahal tapi dijual murah. Tujuannya jelas, supaya bisa dapat untung besar tanpa bayar pajak ke negara,” tegas Naufal.
Lebih lanjut, ia menyoroti fakta bahwa rokok ilegal justru lebih laku di warung-warung kecil yang tersebar di pelosok desa. Hal ini diperparah dengan lemahnya pengawasan dan minimnya edukasi kepada para penjual.
“Secara luas, yang paling dirugikan tentu saja negara. Karena cukai rokok itu termasuk salah satu sumber pendapatan negara yang besar,” ujarnya.
Terkait dengan operasi pemberantasan rokok ilegal yang sedang digencarkan pemerintah melalui Satpol PP, Bea Cukai, dan aparat gabungan, Naufal menyatakan dukungan dan apresiasinya. Ia menganggap upaya ini sebagai langkah positif untuk menjaga kestabilan ekonomi dan mencegah kerugian negara yang lebih besar.
“Menurut saya, program ini bagus. Fungsinya untuk menjaga supaya tatanan ekonomi negara tidak rusak,” ujarnya.
Ia juga berharap agar operasi ini tidak hanya sebatas razia rutin, namun mampu memberantas tuntas peredaran rokok ilegal hingga ke akar-akarnya. Selain itu, ia menyampaikan harapan sebagai bagian dari masyarakat, agar pemerintah bisa meninjau ulang harga cukai rokok legal agar tetap terjangkau oleh masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah.
“Semoga dengan adanya operasi ini bisa memberantas tuntas peredaran rokok ilegal yang sangat merugikan ekonomi Indonesia. Dan semoga harga rokok legal juga bisa distabilkan supaya masyarakat bawah tetap bisa menjangkau,” pungkasnya.
Dalam penutup pernyataannya, Naufal mengibaratkan situasi ini secara sederhana namun penuh makna.
“Bayangkan saja, ada rokok seharga Rp36.000 tapi rasanya sama persis dengan rokok harga Rp15.000. Ini jadi persoalan yang harus benar-benar ditangani secara serius,” tandasnya.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno