Faktanews24.com – Pacitan, Upaya memperluas pengenalan Kabupaten Pacitan melalui karya jurnalistik menjadi salah satu aspirasi yang disampaikan Forum Pewarta Pacitan (FPPA) saat bertemu pimpinan DPRD Kabupaten Pacitan pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Pertemuan yang berlangsung di ruang sidang utama gedung DPRD Pacitan itu tidak hanya menjadi ajang silaturahmi setelah terpilihnya kembali Sutikno sebagai Ketua FPPA periode 2026 -2028, tetapi juga membuka ruang komunikasi mengenai peran pers, perkembangan media digital, dan kebutuhan pembangunan daerah.
Mengusung tema “Membangun Komunikasi dan Aspirasi dengan Pimpinan DPRD Kabupaten Pacitan”, kegiatan tersebut diharapkan memperkuat hubungan antara insan pers dan lembaga legislatif dalam menyampaikan informasi sekaligus menyerap aspirasi masyarakat.
Ketua DPRD Pacitan, Dr. Arif Setia Budi (ASB), menyambut baik terpilihnya kembali Sutikno untuk memimpin FPPA selama dua tahun ke depan. Ia berharap kepemimpinan tersebut mampu membawa organisasi semakin berkembang dan memberikan sumbangsih bagi kemajuan dunia jurnalistik di Pacitan.
Dalam sambutannya, Arif juga menyampaikan pandangannya mengenai nama Sutikno yang dikaitkan dengan ungkapan Jawa tibo telu satrio wibowo.
“Kalau dilihat namanya, Sutikno membawa makna tibo telu satrio wibowo, yang artinya membawa derajat dan pangkat,” kata Arif.
Di hadapan anggota FPPA, Arif menyoroti perubahan pola komunikasi masyarakat yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi digital. Media sosial kini menjadi salah satu saluran yang memungkinkan informasi tersebar dalam waktu singkat.
Situasi tersebut, menurutnya, menuntut insan pers untuk membangun sinergi dengan pegiat media sosial dan berbagai unsur masyarakat. Namun, kemudahan penyebaran informasi harus tetap diimbangi dengan sikap objektif dan tanggung jawab dalam menyampaikan berita.
Arif menegaskan bahwa proses jurnalistik tidak semestinya berhenti pada kecepatan publikasi. Setiap informasi perlu diamati, didengar, dan dianalisis sebelum disampaikan kepada publik.
“Meletakkan komponen dalam tata media, insan pers diharapkan harus objektif. Olah matanya, telinganya, hidungnya baru memutuskan penulisannya. Jadi harus dilihat, didengar, dan dianalisis baru ditayangkan,” jelasnya.
Ia turut menyinggung TikTok sebagai salah satu platform yang mampu menyebarkan informasi dengan cepat. Kehadiran platform tersebut menjadi bagian dari perubahan teknologi komunikasi yang perlu diikuti oleh pelaku media.
Meski demikian, Arif menilai media arus utama tetap mempunyai tanggung jawab penting dalam menyajikan informasi yang terverifikasi, berimbang, dan memberikan pemahaman lebih mendalam kepada masyarakat.
Tantangannya bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan memastikan informasi yang diterbitkan tetap relevan, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Selain persoalan jurnalistik, pertemuan tersebut turut menyinggung kebutuhan pembangunan di Kabupaten Pacitan, khususnya infrastruktur.
Arif menyebut pembangunan infrastruktur masih menjadi salah satu kebutuhan daerah. Akan tetapi, keterbatasan anggaran menjadi tantangan tersendiri dalam memenuhi berbagai kebutuhan pembangunan tersebut.
“Kalau di Pacitan memang lebih pada infrastruktur. Namun, anggaran kita belum bisa mencapai mandatory spending hingga 40 persen untuk belanja infrastruktur,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama, yakni bagaimana kebutuhan pembangunan dapat diakomodasi di tengah keterbatasan kemampuan keuangan daerah.
Sementara itu, Ketua FPPA Sutikno yang sering di sapa Gustik, menjelaskan bahwa pemilihan ketua organisasi telah dilaksanakan pada 8 Oktober 2026. Pertemuan dengan pimpinan DPRD menjadi salah satu langkah untuk melanjutkan komunikasi sekaligus menjaga hubungan baik antara organisasi pewarta dan lembaga legislatif.
Sutikno menyampaikan apresiasi kepada DPRD Pacitan atas komunikasi yang selama ini terjalin dengan insan pers.
“Saya sampaikan ucapan terima kasih dari teman-teman kepada DPRD atas terjalinnya komunikasi yang baik selama ini,” ujar Sutikno.
Ia juga berharap keberadaan insan pers di Pacitan mendapat perhatian lebih, mengingat media memiliki peran dalam memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas.
Dia kemudian menceritakan pengalaman anggota FPPA saat melakukan kunjungan ke Yogyakarta. Dalam perjalanan tersebut, mereka menemukan sejumlah orang yang belum memahami secara tepat letak Kabupaten Pacitan.
Bahkan, menurut ceritanya, ada yang mengira Pacitan berada di kawasan Indonesia Timur atau termasuk wilayah Provinsi Jawa Tengah.
Pengalaman itu menjadi catatan bahwa pengenalan Pacitan di luar daerah masih perlu diperkuat. Padahal, kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur tersebut memiliki beragam potensi, mulai dari pariwisata dan kebudayaan hingga kekayaan lokal yang layak mendapat perhatian lebih luas.
Bagi FPPA, karya jurnalistik dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan potensi tersebut kepada masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
“Karena itu, semoga dengan peran media, dengan karya jurnalistiknya, Pacitan akan lebih dikenal lagi di seantero negeri,” jelasnya.
Pertemuan FPPA dan pimpinan DPRD Pacitan itu diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka dan berkelanjutan. Hubungan yang baik antara pers dan legislatif dinilai penting agar informasi mengenai kebijakan, aspirasi masyarakat, serta potensi daerah dapat tersampaikan secara luas.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno












