Faktanews24.com
KABUPATEN CIREBON — Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Kansai Nihongo Centre yang berlokasi di Desa Kejuden, Blok PU, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, menyatakan kesiapannya memberikan pendidikan dan pelatihan bahasa Jepang bagi masyarakat yang ingin bekerja ke Jepang.
Meski baru berdiri sekitar enam bulan, LPK Kansai Nihongo Centre telah mendidik satu kelas peserta pelatihan yang berasal dari sejumlah daerah, di antaranya Kabupaten Cirebon, Majalengka, Kuningan, hingga Bandung.
Para peserta mendapatkan pembekalan bahasa Jepang sekaligus pelatihan yang disesuaikan dengan bidang pekerjaan yang tersedia di Jepang. Saat ini, proses pencocokan pekerjaan dan pembiayaan keberangkatan bagi peserta juga tengah berjalan.

Direktur LPK Kansai Nihongo Centre, Andina, saat ditemui pada Rabu (9/9/2026), menjelaskan bahwa dirinya sebelumnya bekerja di lembaga pelatihan kerja lain sebelum kemudian memutuskan untuk mendirikan LPK Kansai secara mandiri.
”Saya dulu bekerja di LPK lain. Saya sudah mengundurkan diri sekitar enam bulan yang lalu dan kemudian mendirikan LPK Kansai ini. Sekarang sudah berdiri sendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan LPK yang sebelumnya,” ujar Andina.
Menurutnya, berbagai persoalan dan pengaruh dari tempat kerja sebelumnya tentu masih ada. Namun, pihaknya akan terus melakukan komunikasi dan konsultasi agar kegiatan pendidikan dan pelatihan di LPK Kansai tetap berjalan dengan baik.
Andina juga mengimbau kepada peserta didik lama yang masih memiliki urusan dengan LPK sebelumnya agar melakukan konsultasi langsung dengan lembaga tersebut. Sementara itu, LPK Kansai akan fokus memberikan pelayanan kepada peserta yang mengikuti pendidikan di lembaganya.
”Untuk anak-anak yang sudah lama, silakan konsultasi dengan LPK lama. Sedangkan saya di LPK Kansai akan mengupayakan semaksimal mungkin untuk mendapatkan job kerja dan memberangkatkan anak-anak saya yang lolos ke Jepang,” katanya.
Berbagai Pilihan Lapangan Kerja
LPK Kansai Nihongo Centre menawarkan pembekalan untuk berbagai bidang pekerjaan di Jepang, mulai dari pertanian, konstruksi, peternakan, pengolahan makanan, hingga manufaktur.
Peserta juga dapat mengikuti program magang kerja maupun program kerja lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Nantinya, peserta akan diarahkan dan dicocokkan dengan bidang pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan serta minat masing-masing.
”Kami mencarikan dan mencocokkan pekerjaan yang sesuai. Jadi anak-anak tinggal memilih bidang yang diminati, apakah pertanian, peternakan, pengolahan makanan, konstruksi, atau manufaktur. Kami siap membantu prosesnya sampai keberangkatan ke Jepang,” jelas Andina.
Ia mengatakan, pendidikan dan pelatihan yang diberikan tidak hanya berfokus pada kemampuan bahasa Jepang. Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai bidang pekerjaan yang nantinya akan mereka jalani di Jepang.
Hal tersebut dinilai penting agar peserta mampu beradaptasi ketika sudah berada di Jepang dan tidak mengalami kesulitan akibat perbedaan lingkungan maupun jenis pekerjaan.
”Tujuan pendidikan dan pelatihan di sini agar ketika anak-anak sudah berada di Jepang bisa beradaptasi. Materinya kami berikan secara lengkap sesuai bidang pekerjaan, baik pertanian, peternakan maupun pengolahan makanan, sehingga mereka tidak terlalu kaget ketika sudah bekerja di Jepang,” tuturnya.
Biaya Pendidikan Bisa Dicicil
Untuk biaya pendidikan dan pelatihan, Andina menyebut peserta dikenakan biaya sekitar Rp5 juta. Biaya tersebut dapat dibayarkan secara bertahap atau dicicil selama mengikuti pendidikan.
Sementara untuk kebutuhan lainnya, seperti pemeriksaan kesehatan atau medical check-up, paspor, serta kebutuhan keberangkatan, terdapat biaya tambahan sesuai kebutuhan masing-masing peserta.
”Biaya pendidikan sekitar Rp5 juta dan bisa dicicil selama mengikuti pendidikan. Untuk kebutuhan di luar itu seperti medical dan paspor menjadi kebutuhan masing-masing anak,” ungkapnya.
Terkait biaya keberangkatan, ia memperkirakan orang tua atau peserta perlu menyiapkan dana sekitar Rp40 juta hingga Rp50 juta setelah mendapatkan pekerjaan dan dokumen izin tinggal dari Jepang.
Menurutnya, pihak LPK juga berupaya mencari solusi pembiayaan melalui kerja sama atau akses pendanaan perbankan sehingga biaya keberangkatan tidak seluruhnya harus disiapkan secara tunai oleh keluarga peserta.
”Untuk tiket pesawat dan kebutuhan keberangkatan, setelah mendapatkan job orang tua harus menyediakan biaya sekitar Rp40 juta sampai Rp50 juta. Itu pun setelah surat izin tinggal dari Jepang keluar. Kami juga akan mengusahakan pendanaan dari perbankan atau dana talangan,” pungkas Andina.
Syahril











