Faktanews24.com – Pacitan, Krisis distribusi gas elpiji 3 kilogram di Kabupaten Pacitan terus meluas dan kini berubah menjadi persoalan serius yang menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat kecil. Di tengah tekanan ekonomi yang belum mereda akibat naiknya harga kebutuhan pokok, warga justru kembali dipaksa berhadapan dengan langkanya gas bersubsidi yang selama ini menjadi penopang utama dapur rumah tangga dan roda usaha kecil.
Kelangkaan ini tidak lagi bersifat lokal atau sesaat. Dalam sepekan terakhir, laporan dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa elpiji 3 kilogram yang dikenal sebagai “gas melon” semakin sulit diperoleh, baik di tingkat pangkalan maupun pengecer. Warga harus berkeliling dari satu titik ke titik lain, bahkan tidak jarang pulang dengan tangan kosong setelah stok dinyatakan habis atau belum datang dari agen distribusi.
“Cari ke mana-mana sulit. Beberapa pangkalan maupun pengecer telat mendapatkan kiriman dari pangkalan ataupun agen,” ujar Adi, salah seorang warga Pacitan, saat diwawancarai wartawan pada Minggu, 21 Juni 2026.
Di tengah situasi tersebut, beban masyarakat kecil kian bertumpuk. Setelah sebelumnya dihimpit kenaikan harga BBM non-subsidi dan terganggunya aktivitas akibat pemadaman listrik bergilir di beberapa wilayah, kini kebutuhan paling dasar untuk memasak pun menjadi barang yang tidak pasti ketersediaannya.
Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kondisi ini bukan sekadar persoalan rumah tangga, melainkan ancaman langsung terhadap keberlangsungan usaha. Banyak usaha kuliner rumahan dan produksi kecil yang bergantung penuh pada gas elpiji 3 kilogram kini terancam mengurangi produksi bahkan berhenti sementara.
“Masyarakat sekarang makin susah. Sudah BBM melangit, kadang ada pemadaman listrik bergilir, sekarang gas elpiji juga sulit didapat,” keluh Adi.
Situasi serupa juga mulai dirasakan para pedagang kecil yang selama ini menjadi ujung distribusi elpiji ke masyarakat. Di sejumlah toko kelontong, stok gas dilaporkan sangat terbatas bahkan cenderung tidak menentu.
Riska, pramuniaga toko kelontong di kawasan Slagi, Kelurahan Pacitan, mengungkapkan bahwa pasokan yang diterima dari pangkalan kini sangat minim. Dalam satu pekan, toko tempatnya bekerja hanya mendapatkan dua hingga tiga tabung.
“Sudah beberapa pekan ini pasokan gas 3 kilogram terhambat. Dalam sepekan paling hanya mendapatkan dua sampai tiga tabung. Makanya siapa cepat dia yang dapat,” ujarnya.
Meski distribusi tersendat, harga tebus dari pangkalan sejauh ini masih relatif stabil di angka Rp18 ribu per tabung. Namun di tingkat eceran, harga sudah naik menjadi Rp20 ribu hingga Rp21 ribu, mencerminkan ketidakseimbangan antara permintaan yang tinggi dan pasokan yang semakin terbatas.
Keluhan juga datang dari Tri, pemilik kios di Desa Mentoro. Ia menyebut distribusi dari pangkalan memang masih berjalan tiga kali dalam sepekan, namun jumlahnya jauh dari cukup.
“Setiap distribusi nggak sampai lima tabung. Paling banyak ya lima tabung, dan itu sudah berlangsung beberapa pekan ini,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis elpiji 3 kilogram di Pacitan tidak lagi bersifat sporadis, melainkan sudah menjalar ke berbagai lini distribusi. Dari rumah tangga, UMKM, hingga pedagang pengecer, semuanya berada dalam tekanan yang sama: kekurangan pasokan kebutuhan dasar energi memasak.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Pacitan belum dapat dimintai keterangan terkait penyebab kelangkaan maupun langkah penanganan yang akan diambil pemerintah daerah.
Di tengah ketidakpastian ini, masyarakat kecil kembali menjadi pihak yang paling dirugikan. Mereka dipaksa beradaptasi dalam situasi yang tidak mereka ciptakan, sementara akses terhadap kebutuhan dasar justru semakin sulit dijangkau.
Krisis elpiji ini menjadi pengingat keras bahwa distribusi energi bersubsidi seharusnya berpihak pada rakyat kecil, bukan justru menjelma menjadi barang langka di tengah kehidupan yang sudah penuh tekanan. Jika tidak segera ditangani secara serius dan transparan, maka beban ekonomi rakyat hanya akan terus menumpuk di atas pundak yang sudah terlalu berat.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno











