Sawahlunto – FaktaNews24.com, Sumbar | Skandal aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kota Sawahlunto kini memasuki babak baru yang lebih menghebohkan. Tidak hanya soal tambang ilegal yang diduga beroperasi secara masif, persoalan ini kini menyeret dugaan aliran dana, praktik pemerasan, hingga intimidasi yang melibatkan oknum wartawan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan aktivitas tambang ilegal tersebut diduga berlangsung di sejumlah wilayah Kota Sawahlunto dengan skala yang tidak kecil.
Bahkan, sumber di lapangan menyebutkan puluhan unit alat berat jenis excavator beroperasi di sejumlah titik tambang ilegal.
Lokasi yang disebut-sebut menjadi titik aktivitas PETI tersebut di antaranya berada di Desa Talago Gunung, Talawi, Kolok, Lunto, Sijantang, serta beberapa wilayah lain di sekitar Sawahlunto.
Besarnya skala operasi tersebut memunculkan dugaan bahwa aktivitas tambang ilegal ini tidak berdiri sendiri.
Beberapa sumber menyebutkan para pekerja di lapangan diduga hanya berperan sebagai operator, sementara pengendalian aktivitas tambang disebut-sebut berada di tangan pihak tertentu yang berada di balik layar.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat: bagaimana mungkin aktivitas tambang ilegal dengan puluhan alat berat bisa berlangsung tanpa terdeteksi atau ditindak secara tegas?
Di tengah maraknya aktivitas PETI tersebut, masyarakat setempat merasakan dampaknya secara langsung.
Sejumlah warga mengeluhkan air sungai yang semakin keruh, meningkatnya risiko longsor di kawasan perbukitan, hingga rusaknya lahan produktif milik masyarakat.
Jika tidak segera ditangani dengan serius, kerusakan lingkungan tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan dampak jangka panjang bagi kehidupan masyarakat sekitar.
Namun polemik PETI Sawahlunto semakin memanas setelah muncul persoalan baru yang menyeret dunia jurnalistik.
Sebelumnya, media Anugerahpost.com sempat mempublikasikan laporan mengenai aktivitas PETI di Sawahlunto.
Namun secara mengejutkan setelah muncul dugaan hingga pada Kamis (12/3/2026), berita tersebut diketahui telah dihapus atau diturunkan dari situs media tersebut.
Peristiwa ini kemudian memunculkan berbagai spekulasi di kalangan masyarakat.
Dugaan Transaksi Rp15 Juta
Seorang warga Sawahlunto yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan adanya dugaan transaksi uang yang berkaitan dengan penurunan berita tersebut.
Menurut sumber tersebut, seorang pengusaha tambang bernama Jhon Reflita diduga memberikan uang sebesar Rp15 juta kepada seseorang yang disebut bernama Alpen Hadi
“Ini bukti dia take down setelah terima uang Rp15 juta dari pengusaha tambang di Sawahlunto bernama Jhon Reflita,” ungkap sumber tersebut.
Sumber yang sama bahkan menuding bahwa oknum tersebut diduga menggunakan media sebagai alat untuk menekan pengusaha tambang.
Dugaan Oknum Wartawan Terlibat
Nama Alpen Hadi, yang disebut berasal dari media Liputan7.id, ikut terseret dalam polemik tersebut.
Seorang wartawan bernama Athia, yang juga diketahui menjabat sebagai Direktur Media Intelijenjendral.com, mengaku sempat dihubungi oleh Alpen Hadi melalui nomor +62 812-8877-7286.
Dalam komunikasi tersebut, Alpen Hadi disebut meminta nomor kontak wartawan dari media Anugerahpost.com.
Namun setelah berita PETI tersebut hilang dari situs media, muncul berbagai informasi yang mengaitkan penurunan berita dengan dugaan transaksi uang.
Pernyataan Bernada Ancaman
Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Alpen Hadi memberikan tanggapan dengan nada tinggi.
“Uang sy hbd buat ngasih pimred itu sekarang malah nyalahin sy. Trus apa mau kalian? Sy sangat siap! Gk usah banyak bacot bilang aja apa maunya,” tulisnya.
Tidak hanya itu, dalam sebuah WhatsApp Grup Nasional, ia juga menyampaikan pesan bernada provokatif kepada sejumlah wartawan.
“Cari rumah sy di Sawahlunto. Tanyain aja nama sy di Sawahlunto yang keluar penjara karena membacok mantan kepala desa kasus tahun 2023. Sy tunggu… datangin aja sy.”
Dalam grup tersebut, ia juga mengirimkan foto bukti transfer uang sebesar Rp6 juta yang disebutnya telah dikirim kepada seseorang bernama Nasution, yang disebut sebagai pimpinan redaksi Anugerahpost di Pekanbaru.
Publik Pertanyakan Sikap Aparat
Munculnya berbagai dugaan tersebut semakin memperkeruh situasi terkait aktivitas PETI di Sawahlunto.
Publik kini menilai persoalan ini tidak lagi sekadar soal tambang ilegal, tetapi juga telah menjurus pada dugaan permainan uang, intimidasi, hingga potensi penyalahgunaan profesi.
Ironisnya, aktivitas PETI yang diduga menggunakan puluhan alat berat itu disebut telah berlangsung cukup lama.
Namun hingga saat ini belum terlihat langkah penindakan tegas dari aparat penegak hukum.
Jika benar terdapat puluhan bahkan hampir seratus alat berat yang beroperasi, masyarakat menilai mustahil aktivitas tersebut tidak diketahui oleh aparat setempat.
Karena itu, masyarakat mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera turun tangan melakukan penyelidikan secara menyeluruh.
Tidak hanya menindak aktivitas PETI, tetapi juga mengusut dugaan aliran dana, praktik pemerasan, hingga kemungkinan keterlibatan pihak-pihak yang selama ini diduga bermain di balik layar.
Sebab jika persoalan ini terus dibiarkan, bukan hanya lingkungan yang rusak, tetapi juga kepercayaan publik terhadap penegakan hukum akan semakin tergerus.
Kini publik menunggu: apakah aparat akan bertindak tegas, atau kembali memilih diam di tengah maraknya tambang ilegal di kota bersejarah tersebut.
#NoViralNoJustice
#DprRi
#SatgasMabes
#GubernurSumbar
#KapoldaSumbar
#PangdamXX/Tib
![]()













