Foto Ilustrasi Gambar
Faktanews24.com – Indramayu – Keluhan warga terkait tidak mengalirnya air bersih selama sepekan akhirnya mendapat penjelasan dari pihak Perumdam Tirta Darma Ayu (TDA) Kabupaten Indramayu. Sebelumnya, protes warga viral di media sosial karena tetap menerima tagihan meski distribusi air terhenti.
Direktur Utama Perumdam TDA menjelaskan, gangguan distribusi dipicu oleh tingginya tingkat kekeruhan air baku yang bersumber dari Sungai Cimanuk. Kondisi tersebut berdampak langsung pada proses produksi air bersih.
“Harus dipahami, tingkat kekeruhan air baku dari Sungai Cimanuk saat ini sangat tinggi. Dalam proses produksi, kami hanya mampu mengolah sekitar 40 persen menjadi air bersih, sementara sisanya berupa lumpur,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini berbeda dengan daerah lain seperti Cirebon dan Kuningan yang memiliki sumber air baku dari mata air pegunungan, khususnya dari kawasan Gunung Ciremai, sehingga kualitas air lebih stabil dan mudah diolah.
Meski demikian, di lapangan, kondisi tersebut belum sepenuhnya meredam keresahan warga. Sejumlah pelanggan di Desa Panyindangan Kulon, Kecamatan Sindang, mengaku air tidak mengalir sama sekali selama beberapa hari terakhir.
TT (34), salah satu warga, menegaskan keberatannya membayar tagihan tanpa adanya layanan.
“Kalau mau disetori, harus diperbaiki dulu,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan warga lain, yang mengaku aktivitas rumah tangga terganggu akibat terhentinya pasokan air. Mulai dari kebutuhan memasak hingga sanitasi menjadi persoalan yang mendesak.
Warga berharap penjelasan dari pihak PDAM tidak berhenti pada alasan teknis semata, melainkan diikuti langkah konkret untuk mengatasi persoalan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Di sisi lain, melalui media sosial resminya, Perumdam TDA mengimbau masyarakat untuk menampung air dan menggunakannya secara bijak. Namun, imbauan tersebut dinilai kurang relevan oleh warga, mengingat sebagian pelanggan mengaku tidak menerima aliran air sama sekali.
Kondisi ini menjadi catatan penting dalam pelayanan publik. Di satu sisi, faktor alam menjadi tantangan nyata dalam pengelolaan air baku. Namun di sisi lain, masyarakat tetap menuntut kehadiran solusi yang cepat, transparan, dan dapat diandalkan.
Sebab bagi warga, air bukan sekadar layanan, melainkan kebutuhan mendasar yang tak bisa ditunda.
![]()












