Faktanews24.com – Pacitan, Malaria masih menjadi penyakit menular berbasis lingkungan yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Meski Kabupaten Pacitan berhasil meraih sertifikat eliminasi malaria sejak tahun 2016, ancaman kasus impor tetap membayangi karena keberadaan vektor masih ada di sejumlah wilayah.
Berbagai faktor seperti perubahan lingkungan, meluasnya area perindukan nyamuk, mobilitas penduduk yang tinggi, perubahan iklim, serta kasus gizi buruk, turut membuat masyarakat lebih rentan terhadap penyakit tersebut.
Untuk menangani tantangan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan menggelar Pertemuan Pengelola Malaria dan Petugas Laboratorium yang bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan malaria, terutama dalam aspek diagnosis mikroskopis dan penguatan kompetensi petugas di lapangan.

Kepala Dinas Kesehatan Pacitan, dr. Daru Mustikoaji, menjelaskan bahwa meskipun Pacitan telah bebas malaria secara status, namun kewaspadaan tetap harus dijalankan secara intensif.
“Setelah eliminasi tercapai, tetap ada risiko kasus malaria impor karena vektornya masih ada. Kegiatan kewaspadaan untuk mencegah penularan kembali harus dilakukan secara berkelanjutan,” ujar dr. Daru saat diwawancarai wartawan, Senin 17 November 2025.
Menurutnya, pengendalian malaria hanya dapat berjalan optimal jika dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengendalian kepadatan vektor, penemuan dini penderita, pengobatan yang tepat, hingga penguatan kapasitas tenaga medis, laboratorium, dan Juru Malaria Desa (JMD). Selain itu, koordinasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan menjaga Pacitan tetap bebas malaria.
Dalam pertemuan tersebut, para peserta yang terdiri dari pengelola program malaria, petugas laboratorium puskesmas, RSUD, RS swasta, klinik, Pos Kesehatan Kodim 05.10.25, serta klinik Polres Pacitan, mendapat pembekalan mengenai prosedur diagnosis laboratorium yang akurat dan standar kualitas layanan.
Daru menegaskan bahwa kualitas pelayanan laboratorium malaria sangat menentukan ketepatan diagnosis, sehingga kinerja petugas laboratorium harus terus diperkuat.
“Diagnosis yang tepat sangat bergantung pada kompetensi tenaga mikroskopis. Karena itu, pelatihan dan pertemuan seperti ini wajib dilakukan secara berkala,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, Dinas Kesehatan Pacitan berharap seluruh fasilitas kesehatan mampu meningkatkan kesiapsiagaan dan respons cepat terhadap dugaan kasus malaria, khususnya kasus impor yang dibawa pendatang atau masyarakat yang bepergian dari wilayah endemis.
Kesigapan dalam mendeteksi dan menangani kasus sejak dini diharapkan mampu menjaga prestasi Pacitan sebagai daerah bebas malaria serta mencegah terjadinya penularan kembali di masyarakat.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno












