Faktanews24.com – Pacitan, Tidak semua pengabdian berbunyi keras. Sebagian tumbuh dalam diam, bekerja tanpa sorak, dan pergi tanpa gegap gempita. Namun justru dari sanalah jejak paling dalam sering tertinggal. Kamis malam, 15 Januari 2026, Pacitan merasakannya. Di bawah langit yang menurunkan gerimis tipis, Pendopo Agung Kabupaten Pacitan (Mas Tumenggung Djogokardjo) menjadi saksi sebuah peralihan yang tak hanya administratif, tetapi juga emosional.
Malam itu, agenda negara berjalan sebagaimana mestinya. Pelantikan dan mutasi pejabat dilaksanakan dengan tertib. Nama dibacakan. Jabatan disematkan. Amanah dipindahkan dari satu tangan ke tangan lainnya. Namun di antara barisan seragam yang rapi dan langkah-langkah formal, ada satu perpisahan yang berlangsung tanpa pengumuman hanya dirasakan oleh mereka yang pernah berjalan bersama.
Ketika lantunan azan Isya menggema, suasana pendopo seketika hening. Percakapan terputus. Waktu seolah memberi jeda. Dalam hening itu, banyak yang menyadari bahwa malam ini bukan hanya tentang siapa bertugas di mana, tetapi tentang bagaimana sebuah perjalanan pengabdian menutup satu bab dan membuka lembaran baru.
Di antara para aparatur sipil negara yang berdiri tegap, Bagus Nurcahyadi Saputro, S.STP, MPA hadir dengan ketenangan yang telah lama menjadi cirinya. Ia tidak tampil mencolok. Tidak pula mencari sorotan. Namun justru dari sikap itulah, kehadirannya terasa utuh.
Selama hampir tiga tahun terakhir, Bagus mengabdi di Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pacitan. Sebuah ruang kerja yang kerap dipahami sebagai teknis, tetapi sejatinya strategis. Di sanalah arus informasi dirawat agar tidak liar. Di sanalah kata-kata disusun agar tidak melukai. Dan di sanalah kepercayaan publik dijaga agar tidak runtuh oleh kesalahpahaman.

Bagi Bagus, komunikasi bukan perkara cepat atau lambat, melainkan tepat dan jujur. Ia memahami bahwa satu kalimat bisa membangun keyakinan, tetapi juga bisa menimbulkan kegaduhan. Karena itu, ia memilih berhati-hati bukan karena takut, melainkan karena peduli.
Media, dalam pandangannya, bukan sekadar penyampai kabar. Media adalah ruang dialog publik. Tempat negara dan warga saling mendengar. Ia tidak datang dengan sikap curiga, melainkan dengan niat menjalin. Tidak membentengi diri dengan kewenangan, tetapi membuka pintu percakapan.
“Media adalah ujung tombak informasi. Jika komunikasi dijaga, maka kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya,” ucapnya dengan lirih dan penuh penghayatan.

Kalimat itu ia jalani hari demi hari. Dalam relasinya dengan insan pers Pacitan termasuk mereka yang tergabung dalam Forum Pewarta Pacitan (FPPA) Bagus hadir sebagai penghubung yang menenangkan. Ia tidak memadamkan kritik. Ia tidak menutup ruang tanya. Ia memilih menjelaskan, meluruskan, dan bila perlu, mengakui keterbatasan. Ia tahu, demokrasi tidak tumbuh dari pujian semata. Ia tumbuh dari dialog yang jujur.
Karena itulah, kepergiannya terasa berbeda. Tidak ada pesta perpisahan. Tidak ada sambutan panjang. Yang ada hanyalah rasa kehilangan yang pelan-pelan merayap.

Bagi banyak wartawan, Bagus bukan sekadar pejabat komunikasi dari pemerintah dan para pewarta. Ia adalah pendengar yang sabar. Tempat mencari penjelasan tanpa takut disalahpahami. Sosok yang memahami bahwa kerja jurnalistik tidak selalu berjalan di jalan yang mulus.
Ia tidak pernah mengukur relasi dengan hitungan untung-rugi. Ia membangunnya dengan kehadiran yang konsisten. Dengan balasan pesan yang tak ditunda. Dengan kesediaan menjawab, bahkan saat pertanyaan terasa tidak nyaman. Dan seperti semua perjalanan pengabdian, waktunya pun tiba untuk beralih medan.
Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayuaji Reksonagoro, memberikan amanah baru kepada Bagus untuk memimpin Kecamatan Donorojo wilayah tapal barat Pacitan yang menuntut kehadiran pemimpin yang tidak hanya tegas, tetapi juga bersedia mendengar.
Bagi Bagus, mutasi ini bukan promosi yang dirayakan, melainkan tanggung jawab yang harus dipikul dengan kesadaran penuh. Dari ruang informasi yang terstruktur, ia kini akan menyentuh kehidupan warga secara langsung. Dari menyusun narasi publik, ia akan berhadapan dengan realitas sehari-hari: jalan desa, layanan dasar, dan harapan warga yang sederhana namun nyata.

Dalam pesan pamit yang ia sampaikan kepada rekan-rekan pewarta, Bagus tidak menulis dengan bahasa resmi. Ia memilih kata-kata yang jujur. Ia mengucapkan terima kasih atas kebersamaan. Ia mengakui bahwa dalam perjalanannya, tentu ada kekurangan. Dan ia menitipkan harapan agar sinergi pers dan pemerintah tetap terjaga.
“Maturnuwun. Semoga sinergi pers dalam pembangunan, pendidikan masyarakat, dan menciptakan Pacitan yang kondusif tetap terjaga,” tulisnya.
Pesan itu sederhana. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya terasa dalam. Ia menutupnya dengan satu kalimat pendek, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
“Bismillahirrahmanirrahim, mangkat Donorojo.”
Gerimis malam itu akhirnya berhenti. Pendopo kembali sepi. Namun bagi insan media Pacitan, terutama mereka yang pernah bekerja bersamanya, ada ruang hening yang tidak serta-merta terisi.
Dari ruang informasi menuju tapal barat Pacitan, Bagus Nurcahyadi Saputro melangkah membawa keyakinan yang tidak berubah: bahwa jabatan hanyalah sarana, bahwa kekuasaan adalah amanah, dan bahwa pengabdian sejati tidak pernah bergantung pada sorotan.
Ia pergi tanpa gaduh. Namun seperti semua yang tulus, kepergiannya justru meninggalkan gema.
Selamat bertugas di tempat pengabdian yang baru, Bagus Nurcahyadi Saputro, S.STP, MPA. Jejak langkahmu tenang. Namun nilai yang kau tinggalkan, akan terus berjalan bersama waktu.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno
![]()












