Faktanews24.com – Pacitan, Dari lereng-lereng hijau Kecamatan Arjosari, manisnya gula aren organik produksi petani Pacitan kini menjelajah pasar dunia. Produk unggulan yang dihasilkan Kelompok Tani Akur X melalui CV Temon Agro Lestari, Desa Temon, resmi menembus pasar ekspor ke Belanda, Malaysia, hingga Australia.
Capaian ini menjadi kabar membanggakan bagi Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Di tengah persaingan pasar global yang semakin ketat, gula aren organik dari desa berhasil membuktikan kualitasnya di mata dunia.
Berdasarkan data yang dihimpun, pengiriman gula aren organik dilakukan secara bertahap dengan total volume yang signifikan. Ke Belanda terkirim sebanyak 1 ton, Malaysia 10 ton, dan Australia sebesar 500 kilogram.
Negara-negara tersebut dikenal memiliki standar ketat terhadap produk pangan, khususnya produk organik. Lolosnya gula aren Pacitan ke pasar Eropa dan Australia menandakan bahwa kualitas produksi telah memenuhi standar internasional.
Keberhasilan ini tidak diraih secara instan. Proses panjang pendampingan, peningkatan kualitas produksi, hingga sertifikasi organik menjadi kunci utama keberhasilan ekspor tersebut.
Kelompok Tani Akur X merupakan kelompok binaan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, khususnya melalui Direktorat Jenderal Perkebunan dalam Program Desa Pertanian Organik Berbasis Komoditas Perkebunan.
Program ini dirancang untuk mendorong pengembangan komoditas perkebunan berkelanjutan yang berorientasi pada peningkatan daya saing, nilai tambah, dan akses pasar ekspor. Melalui pendampingan intensif, petani tidak hanya diajarkan teknik budidaya organik, tetapi juga manajemen usaha dan strategi pemasaran.
Direktorat Jenderal Perkebunan memberikan berbagai dukungan konkret, mulai dari bantuan ternak ruminansia, sarana prasarana produksi pupuk kompos, hingga pelatihan pra-sertifikasi dan fasilitasi sertifikasi organik.
Pendampingan tersebut mendorong pekebun untuk memproduksi pupuk kompos secara mandiri. Sistem ini membuat siklus pertanian menjadi lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Hingga saat ini, lahan aren yang telah tersertifikasi organik mencapai 15,66 hektare. Sebanyak 25 pekebun terlibat aktif dalam pengelolaan lahan tersebut dengan potensi produksi sekitar 18 ton per tahun.
Sertifikasi organik menjadi titik balik penting. Dengan label organik resmi, gula aren Pacitan memiliki nilai jual lebih tinggi dan diterima di pasar premium.
Jika sebelumnya harga gula aren konvensional hanya berkisar Rp20.000 per kilogram, kini gula aren organik dapat dijual hingga Rp30.000 per kilogram. Artinya, terdapat kenaikan Rp10.000 per kilogram yang secara langsung meningkatkan pendapatan petani.
Kenaikan harga ini bukan sekadar angka, melainkan perubahan nyata pada kesejahteraan pekebun. Tambahan penghasilan tersebut memungkinkan petani memperbaiki kualitas produksi, memperluas lahan, hingga meningkatkan taraf hidup keluarga.
Dalam pengembangan komoditas perkebunan berorientasi ekspor, Direktorat Jenderal Perkebunan terus memperkuat sinergi lintas sektor. Keterlibatan dunia usaha menjadi salah satu faktor penting dalam membuka akses pasar internasional.
Pada Jumat, 13 Februari 2026, dilakukan pelepasan ekspor gula aren organik produksi Kelompok Tani Akur X yang difasilitasi melalui kemitraan dengan sektor swasta. Momentum ini menjadi simbol bahwa produk perkebunan rakyat mampu bersaing di panggung global.
Secara terpisah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa keberhasilan ekspor gula aren organik dari Pacitan merupakan bukti nyata daya saing produk perkebunan rakyat Indonesia.
“Kementerian Pertanian terus mendorong hilirisasi, sertifikasi, dan pengembangan desa ekspor agar nilai tambah dan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan oleh petani,” ujar Andi Amran Sulaiman.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menyampaikan bahwa pendampingan berkelanjutan melalui Program Desa Pertanian Organik telah meningkatkan kualitas, nilai jual, serta akses pasar produk gula aren.
“Ke depan, pembinaan akan terus diperluas agar semakin banyak pekebun yang naik kelas dan berorientasi ekspor,” ujarnya.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa desa bukan lagi sekadar objek pembangunan, melainkan subjek utama dalam penguatan ekonomi nasional. Dari Desa Temon, Arjosari, Pacitan, gula aren organik kini menjadi duta manis Indonesia di pasar dunia.
Langkah ini juga membuka peluang bagi komoditas perkebunan lain di Pacitan untuk mengikuti jejak serupa. Dengan kualitas terjaga, sertifikasi yang jelas, serta dukungan kebijakan yang tepat, produk lokal mampu menjadi pemain global.
Manisnya gula aren Pacitan bukan hanya soal rasa, tetapi tentang kerja keras, kolaborasi, dan semangat petani yang tak pernah berhenti berinovasi. Kini, dari tangan-tangan pekebun desa, manisnya aren Indonesia telah menyapa Eropa hingga Australia.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno














