Faktanews24.com – Pacitan, Festival Ronthek Pacitan 2025 telah usai. Namun, gaungnya masih terasa menggema di kalangan masyarakat, terutama bagi warga Kecamatan Donorojo. Pasalnya, salah satu kelompok ronthek mereka, Ronthek Garu Bumi, berhasil menyabet gelar Penyaji Harapan dalam ajang kebudayaan yang menjadi ikon tahunan Kabupaten Pacitan tersebut.
Penetapan ini diumumkan secara resmi oleh panitia Festival Ronthek Pacitan (FRP) 2025 melalui Surat Keputusan Nomor 01/PANITIAFRP2025/VII/2025, yang ditandatangani pada malam penutupan festival. Dalam SK tersebut, Ronthek Garu Bumi Donorojo mencatatkan nilai 248 poin, hasil akumulasi penilaian dari tiga dewan juri: Joko Suranto, Joko Winarko, dan Gunarto. Meski belum meraih posisi terbaik, raihan nilai ini menunjukkan performa yang luar biasa dan mampu bersaing ketat dengan kelompok ronthek lain dari Kecamatan Bandar dan Kecamatan Pringkuku.
Penampilan Ronthek Garu Bumi bukan sekadar parade musik dan tarian. Mereka hadir membawa semangat dan identitas masyarakat Donorojo yang kuat. Tema utama yang diangkat dalam pertunjukan mereka adalah “Bertani sebagai Filosofi Hidup”. Dalam setiap gerakan, kostum, hingga komposisi alat musik, tersirat narasi mendalam tentang kehidupan agraris yang telah diwariskan secara turun-temurun di wilayah paling barat Pacitan ini.
Camat Donorojo, Nasrul Hidayat, menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas perjuangan dan kerja keras seluruh tim Ronthek Garu Bumi. Baginya, pertunjukan ini menjadi bukti bahwa seni budaya dapat menjadi medium untuk menyuarakan nilai-nilai luhur yang telah lama hidup dalam masyarakat.
“Di balik setiap gerakan tersirat nilai-nilai kesabaran, gotong royong, kerja keras, dan rasa syukur yang telah mengalir dalam darah kami selama turun-temurun. Melalui Rontek Garu Bumi, kami ingin dunia tahu bahwa bertani adalah peradaban, bukan sekadar pekerjaan,” ucap Nasrul saat dikonfirmasi wartawan Selasa, 15 Juli 2025.

Tak lupa, ia juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam kesuksesan pertunjukan Ronthek Garu Bumi. Dari para pemain, pelatih, tim kreatif, hingga masyarakat Donorojo yang terus memberi dukungan moral maupun materi.
“Dan kami sampaikan terimakasih setinggi-tinginya kepada semua pihak, para pemain, pelatih dan semua masyarakat yang berpartisipasi dalam mensukseskan Ronthek Garu Bumi Donorojo,” tegasnya.
Dalam ajang tahun ini, Ronthek Rancak Bumbung dari Kecamatan Pringkuku berhasil keluar sebagai Penyaji Terbaik, sementara Ronthek Lembu Nawasena menempati posisi Penyaji Unggulan.
Sementara itu, di kategori pelajar SMA/sederajat, para pemenang juga menunjukkan kualitas yang tak kalah luar biasa. Bregada Vokasi Adi Budaya SMKN Pacitan keluar sebagai Penyaji Terbaik. Sasana Kusuma Tuladha Budaya SMAN 1 Pacitan sebagai Penyaji Unggulan. Ronthek Aksoro MA Al Anwar sebagai Penyaji Harapan.
Bagi masyarakat Donorojo, prestasi ini bukan hanya soal panggung seni. Ini juga merupakan simbol dari kebangkitan dan semangat warga di daerah pesisir yang selama ini dikenal dengan keragaman potensi tetapi sering kurang terekspos. Dengan Ronthek Garu Bumi, pesan-pesan tentang pentingnya pertanian, pelestarian budaya, hingga semangat gotong royong kini dikemas dalam bentuk yang menghibur dan inspiratif.
Nasrul berharap, pencapaian ini akan menjadi pemicu semangat bagi generasi muda Donorojo agar tidak malu menjadi bagian dari proses kebudayaan. Ia juga berharap agar pemerintah daerah lebih serius dalam mendukung pengembangan potensi seni-budaya desa, bukan hanya saat festival tetapi juga dalam program-program tahunan lainnya.
“Kami ingin Ronthek Garu Bumi menjadi ikon budaya Donorojo ke depan. Ini bukan akhir, melainkan awal dari gerakan kultural yang lebih luas,” tutup Nasrul.
Festival Ronthek Pacitan tahun 2025 telah membuktikan bahwa seni rakyat mampu menjadi wadah ekspresi sosial dan kebudayaan yang kuat. Di tengah tantangan globalisasi dan arus budaya luar, pertunjukan seperti Ronthek Garu Bumi Donorojo menjadi oase yang menyejukkan: menanamkan kembali rasa bangga terhadap akar budaya sendiri.
Sebagai penyaji harapan, Ronthek Garu Bumi telah menunjukkan bahwa harapan tak pernah mati di tanah yang terus digarap dengan penuh cinta dan semangat. Bertani mungkin terlihat sederhana, tapi dalam tarian, nada, dan narasi mereka bertani adalah laku spiritual. Dan Ronthek adalah panggungnya.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno
![]()












