Berita Nasional

Striker Andalan PSIR Rembang Jualan Es Buah di Pinggir Jalan Pacitan Usai Klubnya Didiskualifikasi, Nasib Pemain Liga Indonesia Dipertanyakan

×

Striker Andalan PSIR Rembang Jualan Es Buah di Pinggir Jalan Pacitan Usai Klubnya Didiskualifikasi, Nasib Pemain Liga Indonesia Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260312 WA0144

Faktanews24.com – Pacitan, Sepak bola Indonesia kembali menampilkan potret pahit yang menampilkan kisah pilu pemainnya. Setelah klub kebanggaan warga Rembang, PSIR Rembang, resmi didiskualifikasi dari kompetisi Liga Indonesia, nasib para pemainnya kini berada di ujung ketidakpastian.

Keputusan berat tersebut merupakan buntut dari kericuhan yang terjadi saat pertandingan melawan Persak Kebumen pada 12 Februari 2026 lalu. Insiden yang semula dianggap sebagai masalah suporter kini justru berujung hukuman berat bagi klub sebuah keputusan yang dinilai banyak pihak terlalu keras dan tidak adil.

Akibatnya, bukan hanya manajemen klub yang terpukul. Para pemain yang selama ini menggantungkan hidup dari sepak bola kini harus menghadapi kenyataan pahit: mendadak menganggur.

IMG 20260312 WA0148

Salah satu yang merasakan dampak paling nyata adalah striker utama PSIR Rembang, Tri Handoko. Penyerang asal Desa Sooka, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan ini kini harus memutar otak untuk bertahan hidup di tengah kevakuman kompetisi.

Alih-alih berlari di lapangan hijau dan mencetak gol di hadapan ribuan suporter, mantan top skor Liga 4 PSSI itu kini terlihat berdiri di pinggir jalan menjajakan es buah menjelang waktu berbuka puasa.

Lapak sederhana miliknya berada di depan SDN 1 Baleharjo Pacitan. Di sana, setiap sore selama bulan Ramadan, Tri melayani pembeli yang datang mencari minuman segar untuk berbuka.

Pemandangan ini menjadi ironi yang menyentak publik yaitu seorang striker andalan yang seharusnya berlaga di stadion, kini berjualan es buah demi mengisi waktu dan menyambung hidup.

“Sambil menunggu putusan PSSI, ini untuk kesibukan karena kevakuman waktu belum bisa bertanding kembali,” ujar Tri Handoko kepada wartawan pada Kamis, 12 Maret 2026 saat ditemui di sela-sela melayani pembeli.

Keputusan Tri untuk berjualan bukan sekadar mencari penghasilan tambahan. Ini adalah bentuk ketabahan sekaligus pesan keras tentang realitas sepak bola nasional yang sering kali meninggalkan para pemainnya tanpa kepastian.

Di tengah hiruk-pikuk kebijakan federasi, para pemain justru menjadi korban paling nyata.

Meski kini jauh dari atmosfer stadion, semangat sepak bola dalam diri Tri Handoko belum padam. Ia masih terus mengikuti perkembangan klubnya yang sedang berjuang melalui jalur hukum.

Manajemen PSIR Rembang diketahui telah mengajukan banding secara resmi kepada PSSI atas sanksi diskualifikasi tersebut. Harapan terakhir kini bertumpu pada keputusan federasi yang sedang memproses permohonan itu.

Bagi Tri dan rekan-rekannya, putusan tersebut bukan sekadar perkara administratif. Ini adalah soal masa depan karier dan kehidupan mereka.

“Saya berharap keputusan PSSI nanti akan memberikan toleransi kepada klub kami agar bisa berlaga kembali di Liga Indonesia,” kata Tri penuh harap.

Namun hingga saat ini, pihak PSSI belum memberikan keputusan final terkait banding yang diajukan oleh manajemen klub.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan pecinta sepak bola: apakah federasi benar-benar memikirkan nasib para pemain?

Potret Tri Handoko yang kini berjualan es buah menjadi simbol getir dari rapuhnya sistem sepak bola nasional. Ketika sebuah keputusan dijatuhkan, dampaknya bukan hanya pada papan klasemen atau reputasi klub, tetapi juga pada kehidupan manusia yang menggantungkan masa depan di dalamnya.

Di satu sisi, disiplin memang harus ditegakkan. Namun di sisi lain, banyak yang menilai bahwa sanksi kolektif seperti ini justru menghancurkan karier para pemain yang tidak memiliki andil dalam kericuhan.

Bagi warga Pacitan, Tri Handoko tetaplah seorang pejuang. Dari lapangan hijau hingga lapak es buah di pinggir jalan, ia menunjukkan satu hal yang jarang terlihat dalam dunia sepak bola modern: keteguhan untuk tetap berdiri di tengah badai ketidakpastian.

Dan mungkin, di balik gelas-gelas es buah yang ia sajikan setiap sore itu, tersimpan harapan besar bahwa suatu hari nanti ia bisa kembali mengenakan seragam kebesaran PSIR, berlari di lapangan hijau, dan membuktikan bahwa mimpi seorang pemain bola tidak bisa didiskualifikasi begitu saja.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *