Berita Nasional

Ekonomi Pacitan Tumbuh 6,35 Persen, Tapi Jalan Rusak dan Pengangguran Masih Menghantui: Pertumbuhan untuk Siapa?

×

Ekonomi Pacitan Tumbuh 6,35 Persen, Tapi Jalan Rusak dan Pengangguran Masih Menghantui: Pertumbuhan untuk Siapa?

Sebarkan artikel ini

Faktanews24.com – Pacitan, Di atas kertas, ekonomi Kabupaten Pacitan terlihat menjanjikan. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa perekonomian daerah ini pada tahun 2025 tumbuh 6,35 persen. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pacitan bahkan mencapai sekitar Rp22,51 triliun, meningkat dari Rp20,66 triliun pada tahun sebelumnya.

Namun di balik angka pertumbuhan tersebut, muncul pertanyaan yang mulai ramai diperbincangkan warga: jika ekonomi tumbuh, mengapa jalan masih banyak rusak dan pengangguran masih tinggi?

Pertanyaan itu tidak muncul tanpa alasan. Di banyak wilayah Pacitan, kondisi jalan masih memprihatinkan. Lubang menganga, aspal yang terkelupas, hingga akses desa yang rusak menjadi pemandangan yang masih sering dijumpai.

Bagi sebagian warga, kondisi ini menciptakan kesan paradoks. Pertumbuhan ekonomi diumumkan naik, tetapi infrastruktur dasar yang dirasakan masyarakat justru belum banyak berubah.

Jalan merupakan nadi utama perekonomian daerah. Tanpa akses yang layak, distribusi hasil pertanian, perdagangan, hingga mobilitas masyarakat menjadi terhambat.

Padahal menurut data BPS, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar 26,88 persen terhadap perekonomian Pacitan, menjadikannya sektor terbesar dalam struktur ekonomi daerah.

Artinya, mayoritas ekonomi Pacitan masih bertumpu pada aktivitas masyarakat desa.

Namun ironisnya, justru banyak akses jalan di wilayah pedesaan yang belum sepenuhnya memadai.

Salah satunya disampaikan oleh warga Pacitan, Agus Arifin, yang berharap pemerintah daerah lebih kreatif dalam mengelola potensi ekonomi daerah.

“Semoga pemerintah daerah Pacitan bisa kreatif untuk menambah PAD sehingga perbaikan sarana dan prasarana termasuk akses jalan bisa terus ada perawatan dan perbaikan,” ujarnya saat diwawancarai wartawan pada Kamis, 12 Maret 2026.

Menurutnya, perawatan jalan tidak boleh hanya dilakukan ketika kerusakan sudah parah, tetapi harus menjadi perhatian rutin.

Selain infrastruktur, persoalan lain yang menjadi perhatian masyarakat adalah minimnya lapangan kerja.

Pacitan dikenal sebagai daerah yang banyak ditinggalkan anak mudanya untuk merantau. Surabaya, Jakarta, bahkan luar negeri menjadi tujuan utama generasi muda yang mencari pekerjaan.

Di banyak desa Pacitan, pemandangan yang sering terlihat adalah rumah yang dihuni orang tua dan anak-anak, sementara generasi produktif bekerja di kota lain.

Situasi ini membuat banyak pihak menilai bahwa Pacitan belum mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang cukup kuat untuk menahan arus urbanisasi.

Agus menilai bahwa salah satu kunci membuka lapangan kerja adalah mempermudah investasi.

“Mudah-mudahan masalah perizinan Pacitan lebih mudah. Setelah adanya PP 28, mengurus izin jadi terasa lebih sulit. Kalau izin mudah, investasi bisa masuk dan lapangan kerja bisa terbuka untuk menyerap tenaga kerja di Pacitan,” katanya.

Secara geografis, Pacitan sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang besar.

Daerah ini dikenal sebagai kota wisata dengan deretan pantai eksotis, gua alam, serta lanskap pegunungan yang indah. Potensi tersebut bisa menjadi motor penggerak ekonomi jika dikelola secara serius.

Namun bagi sebagian warga, pengembangan wisata tanpa diikuti pembangunan infrastruktur yang merata justru terasa setengah hati.

Wisatawan mungkin datang menikmati keindahan pantai, tetapi masyarakat lokal masih harus berhadapan dengan jalan berlubang dan minimnya peluang kerja.

Kondisi ini memunculkan kritik yang semakin keras di kalangan masyarakat.

Secara statistik, ekonomi Pacitan memang menunjukkan tren positif. Namun bagi sebagian masyarakat, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Harga kebutuhan pokok terus naik, lapangan kerja terbatas, dan pembangunan infrastruktur belum merata.

Akibatnya, angka pertumbuhan ekonomi sering dianggap hanya sebagai angka di laporan, bukan sebagai perubahan nyata yang dirasakan rakyat.

Pertanyaan yang kini mulai muncul adalah: apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar dinikmati masyarakat luas, atau hanya bergerak di level statistik?

Banyak kalangan menilai Pacitan membutuhkan terobosan kebijakan yang lebih berani.

Mulai dari mempercepat pembangunan infrastruktur, mempermudah investasi, hingga menciptakan program ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja lokal.

Tanpa langkah konkret, kekhawatiran masyarakat bukan tidak mungkin akan semakin besar.

Sebab bagi warga, pembangunan bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi.

Pembangunan harus terasa di jalan yang mulus, lapangan kerja yang terbuka, dan masa depan yang lebih pasti bagi generasi muda Pacitan.

Jika tidak, pertumbuhan ekonomi yang diumumkan setiap tahun bisa saja hanya menjadi statistik yang indah di atas kertas, tetapi terasa jauh dari realitas masyarakat di lapangan.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *