Info Aceh

Derita Warga Bukit Padang Pasca Bencana, Huntara Dijanjikan Belum Bisa di Tempati

×

Derita Warga Bukit Padang Pasca Bencana, Huntara Dijanjikan Belum Bisa di Tempati

Sebarkan artikel ini
IMG 20260402 002614 121 scaled

FaktaNews24.com, ACEH UTARA – Bencana kian berlalu, namun dampak penderitaan dari pasca musibah yang melanda masih menyelimuti warga Desa Buket Padang, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, tak kunjung berlalu. Hingga kini, Syahruddin bersama sejumlah warga lainnya masih harus bertahan hidup di tenda pengungsian, karena hunian sementara (huntara) yang dijanjikan belum bisa ditempati.

Di tengah kondisi serba terbatas, warga mengaku mulai kelelahan menjalani hari-hari di bawah tenda darurat. Selain panas saat siang hari dan dingin pada malam hari, kondisi tempat tinggal sementara itu dinilai jauh dari kata layak untuk dihuni dalam jangka panjang.

“Kami masih tinggal di tenda. Huntara belum bisa ditempati, padahal kami sangat berharap bisa segera pindah ke tempat yang lebih layak,” ungkap Syahruddin, korban banjir bandang yang masih bertahan ditenda pengungsian.

Situasi ini semakin memprihatinkan karena sebagian warga telah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian. Tenda yang awalnya hanya menjadi tempat berlindung sementara, kini berubah menjadi tempat tinggal yang dipaksa menjadi permanen oleh keadaan.

Warga berharap pemerintah dan pihak terkait tidak lagi membiarkan kondisi ini berlarut-larut. Mereka menilai percepatan penyelesaian huntara sangat penting agar masyarakat terdampak bisa segera keluar dari penderitaan berkepanjangan.

Bagi warga Buket Padang, huntara bukan sekadar bangunan sementara, melainkan harapan untuk kembali hidup lebih manusiawi setelah diterpa musibah. Namun hingga saat ini, harapan itu masih tertahan, sementara mereka tetap harus menghadapi kerasnya hidup di bawah terpal dan tiang-tiang tenda.

Kondisi ini juga menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat: mengapa warga masih bertahan di tenda, sementara huntara belum juga benar-benar siap dihuni. Jika tidak segera dituntaskan, maka yang tersisa bukan hanya persoalan tempat tinggal, tetapi juga luka sosial dan rasa kecewa warga terhadap lambannya penanganan pasca bencana.

Warga kini hanya bisa berharap ada langkah nyata dan cepat dari pihak berwenang, agar mereka tidak terus-menerus hidup dalam kondisi serba darurat.

Loading

Mahlil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *