Tegal

SKANDAL “ATM BANSOS” DI PENUJAH: PULUHAN KARTU DIDUGA DISANDERA KADES, SALDO BELASAN JUTA MENGUAP?

52
×

SKANDAL “ATM BANSOS” DI PENUJAH: PULUHAN KARTU DIDUGA DISANDERA KADES, SALDO BELASAN JUTA MENGUAP?

Sebarkan artikel ini
Screenshot 20260120 080909 WhatsApp

Tegal, FaktaNews24 (Jateng) – Sebuah skandal dugaan penyanderaan kartu ATM bantuan sosial (Bansos) mengguncang Desa Penujah, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal. Oknum Kepala Desa berinisial DY diduga kuat menyandera puluhan kartu ATM milik warganya sendiri sejak tahun 2023.

Dugaan skandal ini terungkap setelah pesan berantai di grup WhatsApp “Sadulur Slawi” viral, memicu kemarahan publik atas dugaan praktik culas yang merugikan masyarakat kecil di tengah situasi ekonomi yang sulit.

*Modus Operandi Tekanan dan Pemotongan Dana*

Dari total 63 penerima manfaat, sekitar 30 orang dilaporkan harus merelakan kartu ATM-nya dikuasai oleh oknum Kades. Dugaan penyanderaan kartu ATM ini diduga dilakukan secara sepihak tanpa alasan yang jelas. Bahkan, keluarga perangkat desa dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) turut menjadi korban.

Laporan saldo yang seharusnya berisi Rp15 juta, namun warga diduga hanya menerima Rp5 juta. Potongan drastis ini menimbulkan tanda tanya besar tentang keberadaan dan penggunaan dana Bansos.

*Korban Lingkaran Dalam*

Istri Ketua RT, anak Sekretaris Desa, hingga anggota BPD dikabarkan masuk dalam daftar korban penahanan kartu. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa oknum Kades tidak bertindak sendirian dalam melakukan dugaan penyanderaan kartu ATM Bansos.

*Jawaban Dingin Sang Kades “Itu Urusan Saya”*

Saat tim media menelusuri kebenaran informasi ini ke Balai Desa Penujah, Sekretaris Desa (Sekdes) mengakui telah meneruskan keresahan warga kepada pimpinannya. Namun, jawaban dari Kades DY justru memicu tanda tanya besar. “Sudah disampaikan ke Kades, tapi jawabannya hanya: itu semua urusan saya,” ungkap Sekdes menirukan respons dingin sang Kades.

*Masyarakat Menuntut Audit Total*

Gerah dengan praktik yang dinilai zalim, warga mendesak aparat penegak hukum dan pemerintah daerah untuk tidak tinggal diam. Mereka menuntut transparansi dan pengembalian hak-hak mereka yang diduga dipangkas secara ilegal. “Keadilan adalah harga mati! Kami mohon pihak berwenang turun bukan untuk mencari siapa yang melapor, tapi demi kepentingan masyarakat,” tegas warga.

Kasus serupa juga pernah terjadi di Kabupaten Lampung Tengah, di mana warga membakar rumah Kades dan 15 kendaraan akibat dugaan korupsi Bansos. Apakah kasus di Penujah akan berakhir sama? Hanya waktu yang akan menjawab ¹.

M Bisri
Author: M Bisri

#Viral., ATM, bansos, deatline, Desa Penujah, kasus, Kedungbanteng, Tegal
Tim Media