Berita Nasional

Fakta Mengejutkan Kasus Mutilasi Pacet Mojokerto, Pelaku Ternyata Mantan Santri

12
×

Fakta Mengejutkan Kasus Mutilasi Pacet Mojokerto, Pelaku Ternyata Mantan Santri

Sebarkan artikel ini
Img 20250909 Wa0222

Faktanews24.com – Jombang, Kasus mutilasi sadis yang menimpa Tiara Anggelina Saraswati (25) di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, terus menyita perhatian publik. Fakta terbaru mengungkap bahwa pelaku, Alvi Maulana (24), ternyata merupakan mantan santri salah satu pondok pesantren di Kabupaten Jombang.

Alvi diketahui pernah mondok sejak tahun 2017 hingga 2020, sebelum kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Trunojoyo Madura. Kepala SMA Budi Utomo, Heboh Handoko, membenarkan bahwa Alvi adalah alumninya.

“Tidak ada catatan khusus, dia sama seperti santri-santri lainnya,” kata Heboh, saat diwawancarai wartawan pada Selasa, 9 September 2025.

Peristiwa bermula saat Alvi dan Tiara terlibat pertengkaran di kamar kos mereka di Jalan Raya Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Kota Surabaya. Diduga, Alvi kalap setelah merasa tidak sanggup memenuhi gaya hidup hedon kekasihnya.

Dalam kondisi emosi, Alvi menghabisi nyawa Tiara. Tak berhenti di situ, ia kemudian memutilasi tubuh korban menjadi lebih dari 300 bagian. Potongan tubuh itu lalu dibuang di sejumlah lokasi, salah satunya di kawasan Pacet, Mojokerto.

Warga dibuat geger saat menemukan potongan tubuh manusia di Jalan Raya Pacet-Cangar, Mojokerto, pada Sabtu, 6 September 2025. Penemuan ini langsung dilaporkan ke pihak kepolisian.

Alvi Maulana merupakan pria asal Desa Aek Paing, Kecamatan Rantu Utara, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. Sehari-hari ia bekerja sebagai driver ojek online.

Menariknya, Alvi juga pernah bekerja sebagai tukang jagal hewan. Pengalaman inilah yang diduga membuat pelaku mampu melakukan mutilasi secara sistematis.

“Yang bersangkutan sudah selesai kuliah dan pernah berprofesi sebagai tukang jagal hewan,” ungkap Kapolres Mojokerto, AKBP Ihram Kustarto.

Setelah dilakukan penyelidikan intensif, polisi akhirnya berhasil menangkap Alvi di rumah kosnya di Surabaya. Saat ini, aparat kepolisian masih mendalami motif utama serta kondisi psikologis pelaku untuk mengetahui secara detail latar belakang perbuatan keji tersebut.

Kasus ini tidak hanya menimbulkan duka mendalam, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar masyarakat tentang faktor psikologis, tekanan ekonomi, hingga gaya hidup yang mendorong seseorang dengan latar belakang pendidikan agama tega melakukan tindakan sadis yang menggemparkan publik.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno