Faktanews24.com – Jakarta, Di tengah ketidakpastian harga energi global yang terus bergerak fluktuatif pada Minggu, 5 April 2026, pemerintah melalui Bahlil Lahadalia mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih bijak dalam menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Imbauan ini bukan sekadar pesan normatif, melainkan refleksi dari kondisi global yang secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada ketahanan energi nasional.
Dalam keterangannya kepada awak media, Menteri ESDM menegaskan bahwa menjaga stabilitas energi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Dibutuhkan kesadaran kolektif dari seluruh elemen masyarakat agar konsumsi energi tetap terkendali di tengah tekanan global.
“Saya pernah merasakan langsung bagaimana di lapangan. Saya mantan sopir angkot. Jadi saya paham betul bagaimana kebutuhan bahan bakar itu harus disesuaikan dengan kebutuhan, bukan keinginan,” ujar Bahlil dengan nada yang menekankan pengalaman personalnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa kebijakan energi tidak bisa dilepaskan dari realitas kehidupan masyarakat sehari-hari. Bahlil mencoba membangun kedekatan emosional dengan publik, sekaligus mengajak masyarakat untuk tidak bersikap konsumtif secara berlebihan.
Situasi energi dunia saat ini memang belum sepenuhnya stabil. Konflik geopolitik di berbagai kawasan, termasuk kawasan Timur Tengah, telah memicu ketegangan distribusi minyak global. Jalur strategis perdagangan energi dunia yang terganggu turut memengaruhi harga minyak mentah, yang pada akhirnya berdampak pada kebijakan energi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Sebagai negara yang masih memiliki ketergantungan terhadap impor minyak, Indonesia tidak bisa sepenuhnya lepas dari dampak gejolak tersebut. Pemerintah pun dihadapkan pada dilema antara menjaga stabilitas harga di dalam negeri dan menyesuaikan diri dengan dinamika pasar global.
Dalam konteks ini, imbauan pengendalian konsumsi menjadi langkah taktis yang dinilai lebih realistis dibandingkan kebijakan ekstrem yang berpotensi menimbulkan gejolak sosial.
Bahlil menekankan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan energi nasional. Konsumsi yang terkendali dinilai mampu membantu pemerintah dalam mengelola distribusi BBM agar tetap merata dan tidak terjadi kelangkaan di sejumlah wilayah.
Menurutnya, perilaku konsumsi yang bijak bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mengisi bahan bakar sesuai kebutuhan dan menghindari pembelian berlebihan yang tidak diperlukan.
“Kalau semua bisa menahan diri, maka distribusi akan lebih adil. Kita tidak ingin ada yang kelebihan, sementara yang lain kekurangan,” tegasnya.
Pesan ini menjadi relevan di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kelangkaan BBM yang kerap muncul saat isu global memanas. Dalam banyak kasus, kepanikan justru memicu lonjakan permintaan yang tidak wajar, sehingga memperparah kondisi distribusi di lapangan.
Di sisi lain, pemerintah memastikan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan terkait penyesuaian harga BBM non subsidi. Evaluasi terus dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia yang bergerak cepat dan dinamis.
Langkah kehati-hatian ini diambil agar setiap kebijakan yang dihasilkan tidak memberatkan masyarakat, khususnya di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
“Kami terus melakukan kajian. Semua keputusan akan mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas,” ujar Bahlil.
Sementara itu, untuk BBM subsidi, pemerintah menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga stabilitas harga. Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan perlindungan terhadap masyarakat berpenghasilan rendah sebagai prioritas utama.
Kebijakan energi memang tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia selalu bersinggungan dengan realitas sosial, ekonomi, bahkan politik. Di satu sisi, pemerintah harus menjaga keberlanjutan fiskal negara. Namun di sisi lain, ada kebutuhan untuk memastikan rakyat kecil tetap mendapatkan akses energi yang terjangkau.
Imbauan pengendalian konsumsi BBM menjadi semacam jalan tengah bukan larangan, tetapi ajakan moral. Sebuah pendekatan yang mengandalkan kesadaran kolektif, bukan sekadar regulasi yang memaksa.
Namun pertanyaannya, sejauh mana masyarakat mampu merespons imbauan tersebut?
Dalam kondisi ekonomi yang masih penuh tekanan, tidak sedikit masyarakat yang justru menggantungkan aktivitas ekonominya pada mobilitas tinggi. Bagi mereka, BBM bukan sekadar kebutuhan, tetapi alat untuk bertahan hidup.
Situasi ini menjadi ujian nyata bagi solidaritas sosial. Apakah masyarakat mampu menahan diri demi kepentingan bersama, atau justru terjebak dalam kepentingan individu yang sempit?
Bahlil tampaknya menyadari betul kompleksitas ini. Dengan latar belakangnya sebagai mantan sopir angkot, ia mencoba berbicara dari sudut pandang yang lebih membumi bahwa kebijakan energi bukan hanya soal angka dan statistik, tetapi juga tentang kehidupan nyata masyarakat.
Di tengah ketidakpastian global, Indonesia memang dituntut untuk lebih adaptif. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat sebagai pengguna energi.
Karena pada akhirnya, ketahanan energi bukan hanya soal seberapa besar cadangan yang dimiliki negara, melainkan seberapa bijak rakyatnya dalam mengelola apa yang tersedia.
Jika kesadaran itu bisa tumbuh, maka bukan tidak mungkin Indonesia mampu melewati badai energi global ini dengan lebih kuat dan mandiri.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno
![]()












